Tadarus Pagi
Senin, 31 Maret 2014

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrâhîm/14: 7)

Sikap syukur itu sederhana. Terkesan sulit, karena manusialah yang memersulitnya. Katakan alhamdulilah, itulah wujud syukur secara lisan, berhusnu zhanlah, itulah bentuk sikap syukur dalam hati dan pikiran kita. Dan lakukan yang terbaik dengan modal potensi diri kita yang telah diberikan oleh Alah kepada diri kita, itulah wujud syukur dalam bentuk tindakan.

Mengapa — hingga kini — ‘kita’ masih menganggap bersikap syukur itu begitu sulit? Mulailah dari yang paling mudah dan paling mungkin untuk kita lakukan saat ini, maka kita pun akan terlatih untuk mengamalkannya.

Dengan pembiasaan diri yang terus menerus, kita akan menjadi orang yang menikmati sikap syukur, dan insyaallah akan menjadi ”’abdan syakûrâ” (hamba Allah yang piawai dalam bersyukur).

Insyâallâh, semakin banyak kita bersyukur, kita pun akan merasakan betapa nikmatnya hidup ini, dan dampak positifnya ‘kita’ akan selalu tersenyum ketika menghadapai sejumlah persolan hidup ini, karena sikap husnu zhan kita. Sebaliknya, semakin banyak kita bersikap kufur, karena sikap su’u zhan kitam kita akan merasakan betapa pengap (rasanya) hidup ini, dan akhirnya di sepanjang hidup kita akan kita warnai dengan keluhan demi keluhan yang tak akan pernah berakhir.

Hiduplah dengan sikap syukur, maka Allah pun akan memberikan bonus kenikmatan yang tak berujung kepada diri kita. Dan jangan pernah hidup dengan sikap kufur, yang oleh karenanya Allah akan menambah penderitaan kita dengan azabNya.

Marilah ‘kita’ segera bersiap diri untuk menjadi hamba Alah yang ‘pandai; bersyukur, agar kita menjadi hamba Allah yang selalu bisa menikmati kehidupan ini. Dan buang sikap kufur yang pernah kita miliki sejauh-jauhnya, agar tak pernah kembali lagi bersemayam di dalam diri kita.