Tadarus Pagi
Senin 8 April 2014

Urgensi Sikap Amanah

Sikap amanah harus diwujudkan dalam semua aspek kehidupan. Orang yang memegang amanah dituntut ungtuk menjalankan dan menyampaikan sesuatu kepada yang berhak menerimanya.

Simaklah firman Allah dalam QS an-Nisâ’, 4: 58,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤدُّواْ الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُواْ بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Memiliki sikap amanah penting dalam kegiatan muamalah. Sikap amanah yang dimiliki seseorang dapat dijadikan tolok ukur untuk mengangkatnya dalam menjalankan tugas tertentu. Sebaliknya, suatu urusan yang diserahkan kepada orang yang tidak amanah, maka urusan itu akan berantakan. Sebab, orang yang tidak amanah berarti ia tidak akan pernah diharapkan dapat bersikap profesional dalam menjalankan tugasnya.

Rasulullah s.a.w. menjelaskan, ‘

إِذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ إِذَا أُسْنِدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.

“Apabila amanah telah disia-siakan, tunggulah saat kehancurannya.” Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana maksud menyia-nyiakan amanah itu?” Nabi s.a.w. pun menjawab, “Yaitu menyerahkan suatu urusan untuk ditangani oleh orang yang bukan ahlinya. Untuk itu tunggulah saat kehancuran urusan tersebut.” (HR al-Bukhari dari Abu Hurairah, Shahîh al-Bukhâriy, VIII/129, hadits nomor 6496).