Tadarus Subuh
Ahad, 13 April 2014

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ – وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka mesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang berdusta.” (QS al-‘Ankabût/29 :2-3)

Buktikan bahwa kita benar-benar beriman dengan pembuktian yang kongkre. Dan, jangan hanya sekadar bisa berbicara. Buktikan janji-janji kita dengan bukti-bukti nyata.

Jangan sekali-kali terjebak dalam sikap ‘nifaq’ (kemunafian), yang antara lain ditandai dengan: “banyak melakukan kebohongan, banyak janji tanpa bukti dan tidak mampu menjaga kepercayaan yang diamanahkan kepada diri kita”.

Na’ûdzu billâhi min dzâlik.