TAFSIR ATAS AL-QURAN, Antara Kebebasan dan Keterbatasan

  Wawasan al-Quran   9 Agustus 2010

TAFSIR ATAS AL-QURAN:

Antara Kebebasan dan Keterbatasan

Wacana kebebasan dan pembatasan dalam hal penafsiran al-Quran hingga kini masih menjadi perbincangan yang menarik. Pertanyaan pentingnya, benarkah semua orang layak dibebaskan untuk menafsirkan al-Quran karena sifat keterbukaan al-Quran untuk dipahami oleh setiap manusia? Ataukah, karena rumitnya al-Quran untuk dipahami, hanya ada sejumlah orang yang berhak menafsirkannya dengan sejumlah rambu yang harus disepakati? Lalu bagaimana cara menafsirkannya?

Prolog

Al-Quran yang merupakan bukti kebenaran Nabi Muhammad s.a.w., sekaligus petunjuk untuk umat manusia kapan dan di mana pun, memiliki pelbagai macam keistimewaan. Keistimewaan tersebut, antara lain, susunan bahasanya yang unik mempesonakan, dan pada saat yang sama mengandung makna-makna yang dapat dipahami oleh siapa pun yang memahami bahasanya, walaupun tentunya tingkat pemahaman mereka akan berbeda-beda akibat berbagai faktor.

Redaksi ayat-ayat al-Quran, sebagaimana setiap redaksi yang diucapkan atau ditulis, tidak dapat dijangkau maksudnya secara pasti, kecuali oleh pemilik redaksi tersebut. Hal ini kemudian menimbulkan keanekaragaman penafsiran. Dalam hal al-Quran, para sahabat Nabi s.a.w. sekalipun, yang secara umum menyaksikan turunnya wahyu, mengetahui konteksnya, serta memahami secara alamiah struktur bahasa dan arti kosakatanya, tidak jarang berbeda pendapat, atau bahkan keliru dalam pemahaman mereka tentang maksud firman-firman Allah yang mereka dengar atau mereka baca itu.[1] Dari sini kemudian para ulama menggarisbawahi bahwa tafsir adalah “penjelasan tentang arti atau maksud firman-firman Allah sesuai dengan kemampuan manusia (mufasir)”,[2] dan bahwa “kepastian arti satu kosakata atau ayat tidak mungkin atau hampir tidak mungkin dicapai kalau pandangan hanya tertuju kepada kosakata atau ayat tersebut secara berdiri sendiri.”[3]

Rasulullah Muhammad s.a.w.. mendapat tugas untuk menjelaskan maksud firman-firman Allah (QS an-Nahl, 16: 44). Tugas ini memberi petunjuk bahwa penjelasan-penjelasan beliau pasti benar. Hal ini didukung oleh bukti-bukti, antara lain, adanya teguran-teguran yang ditemukan dalam al-Quran menyangkut sikap atau ucapan beliau yang dinilai Tuhan “kurang tepat”, misalnya QS at-Taubah, 9: 42; QS Ali Imran, 3: 128, QS ‘Abasa, 80: 1, dan sebagainya, yang kesemuanya mengandung arti bahwa beliau ma’shum (terpelihara dari  kesalahan atau dosa).

Dari sini mutlak perlu untuk memperhatikan penjelasan-penjelasan Nabi tersebut dalam rangka memahami atau menafsirkan firman-firman Allah, sehingga tidak terjadi penafsiran yang bertentangan dengannya, walaupun tentunya sebagian dari penafsiran Nabi s.a.w. tersebut ada yang hanya sekadar merupakan contoh-contoh kongkret yang beliau angkat dari masyarakat beliau, sehingga dapat dikembangkan atau dijabarkan lebih jauh oleh masyarakat-masyarakat berikutnya. Misalnya ketika menafsirkan al-maghdhûb ‘alayhim (QS al-Fatihah, 1: 7) sebagai “orang-orang Yahudi”,[4] atau “quwwah” dalam QS al-Anfal, 8: 60 yang memerintahkan mempersiapkan kekuatan untuk menghadapi musuh, sebagai “panah”.[5]

Memang, menurut para ulama, penafsiran Nabi s.a.w.. bermacam-macam, baik dari segi cara, motif, maupun hubungan antara penafsiran beliau dengan ayat yang ditafsirkan. Misalnya, ketika menafsirkan shalât al-wusthâ dalam QS al-Baqarah, 2: 238 dengan “shalat Ashar”,[6] penafsiran itu adalah penafsiran muthâbiq dalam arti sama dan sepadan dengan yang ditafsirkan. Sedangkan ketika menafsirkan QS al-Mu’min, 40: 60, tentang arti perintah berdoa, beliau menafsirkannya dengan beribadah.[7] Penafsiran ini adalah penafsiran yang dinamai talâzum. Artinya, setiap doa pasti ibadah, dan setiap ibadah mengandung doa. Berbeda dengan ketika beliau menafsirkan QS Ibrahim, 14: 27. Di sana beliau menafsirkan kata “akhirat” dengan “kubur”.[8] Penafsiran semacam ini dinamakan penafsiran tadhâmun, karena kubur adalah sebagian dari akhirat.

Harus digarisbawahi pula bahwa penjelasan-penjelasan Nabi tentang arti ayat-ayat al-Quran tidak banyak yang kita ketahui dewasa ini, bukan saja karena riwayat-riwayat yang diterima oleh generasi-generasi setelah beliau tidak banyak dan sebagiannya tidak dapat dipertanggungjawabkan otentisitasnya, tetapi juga “karena Nabi s.a.w.. sendiri tidak menafsirkan semua ayat al-Quran”.[9] Sehingga tidak ada jalan lain kecuali berusaha untuk memahami ayat-ayat al-Quran berdasarkan kaidah-kaidah disiplin ilmu tafsir, serta berdasarkan kemampuan, setelah masing-masing memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu.

Kebebasan dalam Menafsirkan al-Quran

Jika kita perhatikan perintah al-Quran yang memerintahkan kita untuk merenungkan ayat-ayatnya dan kecamannya terhadap mereka yang sekadar mengikuti pendapat atau tradisi lama tanpa suatu dasar, dan bila kita perhatikan pula bahwa al-Quran diturunkan untuk setiap manusia dan masyarakat kapan dan di mana pun, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap manusia pada abad ke-21 serta generasi berikutnya dituntut pula untuk memahami al-Quran sebagaimana tuntutan yang pernah ditujukan kepada masyarakat yang menyaksikan turunnya al-Quran.

Kemudian, bila disadari bahwa hasil pemikiran seseorang dipengaruhi bukan saja oleh tingkat kecerdasannya, tetapi juga oleh disiplin ilmu yang ditekuninya, oleh pengalaman, penemuan-penemuan ilmiah, oleh kondisi sosial, politik, dan sebagainya, maka tentunya hasil pemikiran seseorang akan berbeda satu dengan lainnya.

Dari sini seseorang tidak dapat dihalangi untuk merenungkan, memahami, dan menafsirkan al-Quran. Karena hal ini merupakan perintah al-Quran sendiri, sebagaimana setiap pendapat yang diajukan seseorang, walaupun berbeda dengan pendapat-pendapat lain, harus ditampung. Ini adalah konsekuensi logis dari perintah di atas, selama pemahaman dan penafsiran tersebut dilakukan secara sadar dan penuh tanggung jawab.

Dalam kebebasan yang bertanggung jawab inilah timbul pembatasan-pembatasan dalam menafsirkan al-Quran, sebagaimana pembatasan-pembatasan yang dikemukakan dalam setiap disiplin ilmu. Mengabaikan pembatasan tersebut dapat menimbulkan polusi dalam pemikiran bahkan malapetaka dalam kehidupan.

Dapat dibayangkan apa yang terjadi bila setiap orang bebas berbicara atau melakukan praktik-praktik dalam bidang kedokteran atau melakukan analisis-analisis statistik tanpa mempunyai pengetahuan tentang ilmu tersebut.

Pembatasan dalam Menafsirkan al-Quran

Telah dikemukakan di atas bahwa al-Quran mengecam orang-orang yang tidak memperhatikan kandungannya, dan bahwa para sahabat sendiri seringkali tidak mengetahui atau berbeda pendapat atau keliru dalam memahami maksud firman-firman Allah, sehingga dari kalangan mereka sejak dini telah timbul pembatasan-pembatasan dalam penafsiran al-Quran.

Ibn ‘Abbas, yang dinilai sebagai salah seorang sahabat Nabi yang paling mengetahui maksud firman-firman Allah, menyatakan bahwa tafsir terdiri dari empat bagian: pertama, yang dapat dimengerti secara umum oleh orang-orang Arab berdasarkan pengetahuan bahasa mereka; kedua, yang tidak ada alasan bagi seseorang untuk tidak mengetahuinya; ketiga, yang tidak diketahui kecuali oleh ulama; dan keempat, yang tidak diketahui kecuali oleh Allah.[10]

Dari pembagian di atas ditemukan dua jenis pembatasan, yaitu (a) menyangkut materi ayat-ayat (bagian keempat), dan (b) menyangkut syarat-syarat penafsir (bagian ketiga).

Dari segi materi terlihat bahwa ada ayat-ayat al-Quran yang tak dapat diketahui kecuali oleh Allah atau oleh Rasul bila beliau menerima penjelasan dari Allah. Pengecualian ini mengandung beberapa kemungkinan arti, antara lain: (a) ada ayat-ayat yang memang tidak mungkin dijangkau pengertiannya oleh seseorang, seperti yâ sîn, alif lâm mîm, dan sebagainya. Pendapat ini didasarkan pada firman Allah yang membagi ayat-ayat al-Quran kepada muhkam (jelas) dan mutasyâbih (samar), dan bahwa tidak ada yang mengetahui ta’wîl (arti)-nya kecuali Allah, sedang orang-orang yang dalam ilmunya berkata: “kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyâbih” (QS Ali ‘Imran, 3: 7).[11] Atau (b) ada ayat-ayat yang hanya diketahui secara umum artinya, atau sesuai dengan bentuk luar redaksinya, tetapi tidak dapat didalami maksudnya, seperti masalah-masalah metafisika, perincian ibadah an sich, dan sebagainya, yang tidak termasuk dalam wilayah pemikiran atau jangkauan akal manusia.

Apa pun yang dimaksud dari ungkapan sahabat tersebut, telah disepakati oleh para ulama bahwa tidak seorang pun berwenang untuk memberikan penafsiran-penafsiran terhadap ayat-ayat yang materinya berkaitan dengan masalah-masalah metafisika atau yang tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran manusia. Penjelasan-penjelasan sahabat pun dalam bidang ini hanya dapat diterima apabila penjelasan tersebut diduga bersumber dari Nabi s.a.w..[12]

Karena itu, seorang ahli hadis kenamaan, Al-Hakim An-Naisaburi, menolak penafsiran sahabat Nabi s.a.w., Abu Hurairah, tentang ayat “neraka saqar adalah pembakar kulit manusia” (QS al-Muddatstsir, 74: 29) untuk dinisbatkan kepada Rasulullah s.a.w..[13]

Syaikh Muhammad ‘Abduh (1849-1905), salah seorang ahli Tafsir yang paling mengandalkan akal, menganut prinsip “tidak menafsirkan ayat-ayat yang kandungannya tidak terjangkau oleh pikiran manusia, tidak pula ayat-ayat yang samar atau tidak terperinci oleh al-Quran.” Ketika menafsirkan firman Allah dalam QS al-Qari’ah, 101: 6-7 tentang “timbangan amal perbuatan di Hari Kemudian”, ‘Abduh menulis: “Cara Tuhan dalam menimbang amal perbuatan, dan apa yang wajar diterima sebagai balasan pada hari itu, tiada lain kecuali atas dasar apa yang diketahui oleh-Nya, bukan atas dasar apa yang kita ketahui; maka hendaklah kita menyerahkan permasalahannya kepada Allah SWT atas dasar keimanan.”[14] Bahkan, ‘Abduh terkadang tidak menguraikan arti satu kosakata yang tidak jelas, dan menganjurkan untuk tidak perlu membahasnya, sebagaimana sikap yang ditempuh oleh sahabat ‘Umar bin Khaththab ketika membaca abba dalam surat ‘Abasa (QS ‘Abasa, 80: 32) yang berbicara tentang aneka ragam nikmat Tuhan kepada makhluk-makhluk-Nya.[15]15

Dari segi syarat penafsir, khusus bagi penafsiran yang mendalam dan menyeluruh, ditemukan banyak syarat. Secara umum dan pokok dapat disimpulkan sebagai berikut: (a) pengetahuan tentang bahasa Arab dalam berbagai bidangnya; (b) pengetahuan tentang ilmu-ilmu al-Quran, sejarah turunnya, hadis-hadis Nabi s.a.w., dan ushul fiqh; (c) pengetahuan tentang prinsip-prinsip pokok keagamaan; dan (d) pengetahuan tentang disiplin ilmu yang menjadi materi bahasan ayat. Bagi mereka yang tidak memenuhi syarat-syarat di atas tidak dibenarkan untuk menafsirkan al-Quran.

Dalam hal ini ada dua hal yang perlu digarisbawahi:

(1)    Menafsirkan berbeda dengan berdakwah atau berceramah berkaitan dengan tafsir ayat al-Quran. Seseorang yang tidak memenuhi syarat-syarat di atas, tidak berarti terlarang untuk menyampaikan uraian tafsir, selama uraian yang dikemukakannya berdasarkan pemahaman para ahli tafsir yang telah memenuhi syarat di atas.

Seorang mahasiswa yang membaca kitab tafsir semacam Tafsîr An-Nûr karya Prof. Hasbi Ash-Shiddieqy, atau Al-Azhar karya HAMKA, kemudian berdiri menyampaikan kesimpulan tentang apa yang dibacanya, tidaklah berfungsi menafsirkan ayat. Dengan demikian, syarat yang dimaksud di atas tidak harus dipenuhinya. Tetapi, apabila ia berdiri untuk mengemukakan pendapat-pendapatnya dalam bidang tafsir,. maka apa yang dilakukannya tidak dapat direstui, karena besar kemungkinan ia akan terjerumus ke dalam kesalahan-kesalahan yang menyesatkan.

(2)        Faktor-faktor yang mengakibatkan kekeliruan dalam penafsiran antara lain adalah:

[a] subjektivitas mufasir;

[b] kekeliruan dalam menerapkan metode atau kaedah;

[c] kedangkalan dalam ilmu-ilmu alat;

[d] kedangkalan pengetahuan tentang materi uraian [pembicaraan] ayat;

[e] tidak memperhatikan konteks, baik asbâb al-nuzûl, hubungan antarayat, maupun kondisi sosial masyarakat;

[f]  tidak memperhatikan siapa pembicara dan terhadap siapa pembicaraan ditujukan.

Karena itu, dewasa ini, akibat semakin luasnya ilmu pengetahuan, dibutuhkan kerja sama para pakar dalam berbagai disiplin ilmu untuk bersama-sama menafsirkan ayat-ayat al-Quran.

Di samping apa yang telah dikemukakan di atas, yang mengakibatkan adanya pembatasan-pembatasan dalam penafsiran al-Quran, masih ditemukan pula beberapa pembatasan menyangkut perincian penafsiran, khususnya dalam tiga bidang, yaitu perubahan sosial, perkembangan ilmu pengetahuan, dan bahasa.

Perubahan Sosial

Ditemukan banyak ayat al-Quran yang berbicara tentang hal ini, antara lain tentang masyarakat ideal yang sifatnya adalah masyarakat yang terus berkembang ke arah yang positif (QS al-Fath, 48: 29), juga bahwa setiap masyarakat mempunyai batas-batas usia (QS Yunus, 10: 49; QS al-Hijr, 15: 5, dan lain-lain), dan bahwa masyarakat dalam perkembangannya mengikuti satu pola yang tetap (hukum kemasyarakatan) yang tidak berubah (QS Fathir, 35: 43; al-Fath, 48: 23, dan lain-lain).

Perubahan-perubahan atau perkembangan-perkembangan yang terjadi tersebut terutama diakibatkan oleh potensi manusia baik yang positif maupun yang negatif. Karena adanya dua kemungkinan ini, maka tidak setiap perubahan sosial dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam menarik kesimpulan pemahaman atau penafsiran ayat-ayat al-Quran. Walaupun telah disepakati bahwa pada dasarnya dalam masalah-masalah ibadah (yang tidak terjangkau oleh pikiran/manusia) perintah agama harus diterima sebagaimana adanya, tanpa mempertimbangkan makna kandungan perintah tersebut. Sedang dalam masalah sosial (mu’amalah), perintah agama terlebih dahulu harus diperhatikan arti kandungannya atau maksudnya.[16]

Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Sementara ulama berpendapat bahwa “syari’at” (al-Quran dan hadis) harus dipahami berdasarkan pemahaman masyarakat pada masa turunnya.[17]17 Ini mengakibatkan antara lain pembatasan dalam memahami teks-teks ayat al-Quran berdasarkan pemahaman disiplin ilmu dan tingkat pengetahuan masyarakat pada masa turunnya al-Quran yang jauh terbelakang dibanding perkembangan ilmu dewasa ini.

Pembatasan di atas tentunya tidak dapat diterima, apalagi setelah memperhatikan prinsip bahwa al-Quran diturunkan untuk semua manusia pada setiap waktu dan tempat. Adalah mustahil untuk menjadikan semua orang berpikir dengan pola yang sama. Dan karena al-Quran memerintahkan setiap orang berpikir, maka tentunya setiap orang akan menggunakan pikirannya antara lain berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan. Atas dasar ini, pendapat-pendapat yang dikemukakan di atas mengenai pembatasan dalam penafsiran al-Quran amat sulit diterima.

Selanjutnya perlu dibedakan antara pemikiran ilmiah kontemporer dengan pembenaran setiap teori ilmiah. Ketika ilmu pengetahuan membuktikan secara pasti dan mapan bahwa bumi kita ini bulat, maka mufasir masa kini akan memahami dan menafsirkan firman Allah “Dan Allah jadikan untuk kamu bumi ini terhampar” (QS Nuh, 71: 19) bahwa keterhamparan yang dimaksud tidak bertentangan dengan kebulatannya, karena keterhamparan ini terlihat dan disaksikan oleh siapa pun dan ke mana pun seseorang melangkahkan kakinya, apalagi redaksi ayat tersebut tidak menyatakan “Allah ciptakan” tetapi “jadikan untuk kamu”. Demikian juga ketika eksperimen membuktikan bahwa para ahli telah dapat mendeteksi jenis janin (bayi dalam perut), maka pemahaman kita terhadap ayat “Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan (hamil)” (QS ar-Ra’d, 13: 8), pemahaman kata “apa” beralih dari yang tadinya dipahami sebagai jenis kelamin bayi menjadi lebih umum dari sekadar jenisnya, sehingga mencakup masa depan, bakat, jiwa, dan segala perinciannya. Karena kata “apa” dalam istilah al-Quran dapat mencakup segala sesuatu. Di sisi lain, kalimat “Allah mengetahui” bukan dalam arti “hanya Allah yang mengetahui”, bila yang dimaksud dengan “apa”-nya adalah jenis kelamin janin.

Pemahaman dan penafsiran ayat-ayat al-Quran seperti yang dikemukakan di atas tentunya tidak dapat ditempuh bila pembatasan yang dikemukakan oleh sementara ulama di atas diterapkan. Namun ini tidak berarti bahwa setiap teori ilmiah walaupun yang belum mapan dan pasti dapat dijadikan dasar dalam pemahaman dan penafsiran ayat-ayat al-Quran, apalagi bila membenarkannya atas nama al-Quran. Karena itu, pemakaian teori ilmiah yang belum mapan dalam penafsiran ayat-ayat al-Quran, harus dibatasi. Karena hal ini akan mengakibatkan bahaya yang tidak kecil, sebagaimana yang pernah dialami oleh bangsa Eropa terhadap penafsiran Kitab Suci yang kemudian terbukti bertentangan dengan hasil-hasil penemuan ilmiah yang sejati.

Bidang Bahasa

Perlu digarisbawahi bahwa walaupun al-Quran menggunakan kosakata yang digunakan oleh orang-orang Arab pada masa turunnya, namun pengertian kosakata tersebut tidak selalu sama dengan pengertian-pengertian yang populer di kalangan mereka. al-Quran dalam hal ini menggunakan kosakata tersebut, tetapi bukan lagi dalam bidang-bidang semantik yang mereka kenal.[18]

Di sisi lain, perkembangan bahasa Arab dewasa ini telah memberikan pengertian-pengertian baru bagi kosakata-kosakata yang juga digunakan oleh al-Quran.Dalam hal ini seseorang tidak bebas untuk memilih pengertian yang dikehendakinya atas dasar pengertian satu kosakata pada masa pra-Islam, atau yang kemudian berkembang. Seorang mufasir, disamping harus memperhatikan struktur serta kaidah-kaidah kebahasaan serta konteks pembicaraan ayat, juga harus memperhatikan penggunaan al-Quran terhadap setiap kosakata, dan mendahulukannya dalam memahami kosakata tersebut daripada pengertian yang dikenal pada masa pra-Islam. Bahkan secara umum tidak dibenarkan untuk menggunakan pengertian pengertian baru yang berkembang kemudian.

Apabila tidak ditemukan pengertian-pengertian khusus Qurani bagi satu kosakata atau terdapat petunjuk bahwa pengertian Qurani tersebut bukan itu yang dimaksud oleh ayat, maka dalam hal ini seseorang mempunyai kebebasan memilih arti yang dimungkinkan menurut pemikirannya dari sekian arti yang dimungkinkan oleh penggunaan bahasa.

Kata ‘alaq dalam wahyu pertama “Dia (Tuhan) menciptakan manusia dari ‘alaq” (QS 96: 2) mempunyai banyak arti, antara lain: segumpal darah, sejenis cacing (lintah), sesuatu yang berdempet dan bergantung, kebergantungan, dan sebagainya. Di sini seseorang mempunyai kebebasan untuk memilih salah satu dari arti-arti tersebut, dengan mengemukakan alasannya.

Perbedaan-perbedaan pendapat akibat pemilihan arti-arti tersebut harus dapat ditoleransi dan ditampung, selama ia dikemukakan dalam batas-batas tanggung jawab dan kesadaran. Bahkan agama menilai bahwa mengemukakannya pada saat itu memperoleh pahala dari Tuhan, walaupun seandainya ia kemudian terbukti keliru.

Epilog: Sketsa Metode Penafsiran al-Quran[19]

Metode adalah satu sarana untuk mecapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam konteks pemahaman al-Quran, metode bermakna: “prosedur yang harus dilalui untuk mencapai pemahaman yang tepat tentang makna ayat-ayat al-Quran.” Dengan kata lain, metode penafsiran al-Quran merupakan: seperangkat kaedah yang seharusnya dipakai oleh mufassir (penafsir) ketika menafsirkan ayat-ayat al-Quran.

Perkembangan wacana metode tafsir hingga saat ini secara garis besar mengenalkan empat macam (metode), yaitu: ijmâlî (global), tahlîlî (analitik), muqârin (perbandingan) dan maudhû’î (tematik).

Lahirnya metode-metode tafsir disebabkan oleh tuntutan perubahan sosial yang selalu dinamik. Dinamika perubahan sosial mengisyaratkan kebutuhan pemahaman yang lebih kompleks. Kompleksitas kebutuhan pemahaman atas al-Quran itulah yang mengakibatkan, tidak boleh tidak, para mufassir harus menjelaskan pengertian ayat-ayat al-Quran yang berbeda-beda.

Apabila diamati, akan terlihat bahwa metode penafsiran al-Quran akan menentukan hasil penafsiran. Ketepatan pemilihan metode, akan menghasilkan pemahaman yang tepat, begitu juga sebaliknya. Secara sistematik, penafsiran al-Quran dapat digambarkan dengan skema sebagai berikut:

Tafsir Al-Quran

Komponen Eksternal

Komponen Internal

Jati Diri al-Qurân: Kepribadian Mufassir: Bentuk Tafsir: Metode Tafsir: Corak Tafsir:
  • Sejarah al-Quran
  • Asbâb an-Nuzûl
  • Qirâât
  • Nâsikh-Mansûkh
  • Muhkam-Mutasyâbih
  • Mukjizat al-Quran
  • Munâsabât
  • Kaedah Tafsir
  • Dll.
    • Ikhlas
    • Jujur
    • Berakhlak Mulia
    • Akidah Yang Benar
    • Dll.
    • Riwayat (Ma’tsûr)
    • Pemikiran (Ra’yî)
      • Analitik (Tahlîlî)
      • Komparatif (Muqâran)
      • Tematik (Maudhî’i)
      • Tas.a.w.uf (Shûfî/Isyârî)
      • Fiqh (Fiqhî)
      • Filsafat (Falsafî)
      • Ilmiah (‘Ilmî)
      • Sosial-Kemasyarakatan (Adabî/Ijtimâ’i)
      • Dll.

·    Global (Ijmâlî)

Tampak dengan jelas pada skema di atas posisi metodologi tafsir, yaitu dengan media atau jalan yang harus ditempuh jika ingin sampai ke tujuan instruksional dari suatu penafsiran. Tujuan itu disebut corak penafsiran. Itu berarti, dalam bentuk apa pn penafsiran dilakukan, ma’tsûr atau ra’yî, niscaya tidak akan dapat mencapai salah satu corak penafsiran tanpa memakai salah satu  dari empat metode penafsiran itu. Untuk dapat menggunakan suatu metode, seseorang dituntut secara mutlak agar menguasai ilmu (tentang) metode tersebut, atau apa yang disebut dengan “metodologi tafsir”.

Dengan demikian, metodologi tafsir menduduki posisi yang teramat penting di dalam tatanan ilmu tafsir, karena tidak mungkin sampai kepada tujuan tanpa menempuh jalan yang menuju ke sana.

Pemahaman terhadap ayat-ayat al-Quran dari masa ke masa menampakkan dinamikanya yang tiada pernah berhenti. Pemaknaan demi pemaknaan terhadapnya, di samping menghasilkan beberapa kesepakatan, juga memunculkan perdebatan panjang, bahkan menampakkan gejala semakin menguat untuk tidak pernah berhenti. Hal ini antara lain disebabkan oleh interaksi para mufassir dengan sejumlah pendekatan keilmuan yang semakin lama semakin meluas. Terlepas dari pro-kontra, di antara pendekatan keilmuan yang terkesan dominan bagi para mufassir dalam upaya memahami makna ayat-ayat al-Quran saat ini: Ilmu Tafsir – sebagai sebuah kerangka metodologi tafsir atas al_Quran — selalu akan berkembang selaras dengan kebutuhan umat (baca: kaum muslimin dan muslimat) terhadap hidayah Allah – untuk mereka, kapan pun dan di mana pun — melalui kitab suci al-Quran.

Al-Quran yang dahulu pernah menjadi senjata handal Nabi Muhammad s.a.w. – dengan ketakwaan primanya — untuk melakukan perubahan dari alam kegelapan menuju alam terang-benderang, kini dan masa yang akan datang seharusnya juga bisa digunakan oleh umat Islam – yang memiliki ketakwaan yang sepadan – untuk menjadi senjata  yang sama: “menjadi pelita bagi seluruh umat manusia”.

Insyâallâh.

REFERENSI:

Al-Attas, Syed Muhammad Naquib Syed Muhammad Naquib., Konsep Pendidikan dalam Islam, Bandung: Penerbit Mizan, 1984.

Adz-Dzahabiy, Muhammad Husain, At-Tafsîr wa al-Mufassirûn, Mesir: Dar Al-Kutub Al-Haditsah, 1961.

Ibn Katsir, Isma’il., Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, Singapura: Sulaiman Mar’iy, t.t.

Al-Maktabah asy-Syâmilah (DVD), Edisi II.

Muhammad ‘Abduh, Tafsir Juz ‘Amma, Mesir: Dar al-Hilal, 1962.

An-Naisaburi, al-Hakim Ma’rifah ‘Ulûm al-Hadîts, Beirut: Dar al-Afaq, 1980.

Nashruddin Baidan, Metode Penafsiran al-Qur’an, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.

Asy-Syathibi, Abu Ishaq., Al-Muwâfaqât, Beirut: Dar al-Ma’rifah, t.t.

As-Suyuthi, Al-Itqân fi ‘Ulûm Al-Qur’ân, Cet. II, Mesir: Al-Azhar, t.t.

Al-Zarkasyi, Al-Burhân fi ‘Ulûm al-Qur’ân, Mesir: Al-Halabiy, II, 1957.


[1]Lihat Muhammad Husain adz-Dzahabiy, At-Tafsîr wa al-Mufassirûn, Mesir: Dar al-Kutub al-Haditsah, 1961, jilid 1, h. 59.

[2]Ibid., h. 15.

[3]Abu Ishaq Asy-Syathibi, Al-Muwâfaqât, Beirut: Dar al-Ma’rifah, t.t., jilid II, h. 35.

[4]Ismail Ibn Katsir, Tafsîr Al-Qur’ân al-’Azhîm, Singapura: Sulaiman Mar’iy, t.t. jilid I, h. 29.

[5]Ibid., h. 321.

[6]Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya.

[7]Diriwayatkan oleh At-Turmudzi.

[8]Ibid.

[9]Adz-Dzahabi, At-Tafsîr, h. 53.

[10]Lihat lebih jauh Az-Zarkasyi, Al-Burhân fî ‘Ulûm al-Qur’ân, Mesir: al-Halabiy, 1957, jilid II, h. 164.

[11]Lihat As-Suyuthi, Al-Itqân fî ‘Ulûm al-Qur’ân, Mesir: al-Azhar, cet. 11, t.t.. h. 3.

[12]Lihat Adz-Dzahabiy, At-Tafsîr, h. 59.

[13]Al-Hakim An-Naisaburi, Ma’rifâh ‘Ulûm al-Hadîts, Beirut: Dar al-Afaq, 1980, h. 20.

[14]Syaikh Muhammad ‘Abduh, Tafsîr Juz ‘Amma, Mesir: Dar al-Hilal, 1962, h. 139.

[15]Ibid., h. 26.

[16]Abu Ishaq Asy-Syathibi, Al-Muwâfaqât, jilid II, h. 300.

[17]Ibid., hal. 82.

[18]Lihat Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Konsep Pendidikan dalam Islam, Bandung: Penerbit Mizan, 1984, h. 28.

[19]Lebih lanjut lihat Nashruddin Baidan, Metode Penafsiran al-Qur’an, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002. h. 54-59.

(Disadur dari Tulisan M. Quraish Shhab dalam buku Membumikan Al-Quran, dengan beberapa modfikasi, untuk keperluan diskusi kelas pada Fakultas Agama Islam UM Yogyakarta)

Tags: