TAFSIR QS AL-‘ASHR

TAFSIR QS AL-‘ASHR

Dalam ajaran Islam, kita diberitahu oleh Allah dan rasul-Nya tentang betapa pentingnya (makna) waktu. Bahkan banyak surat-surat dalam al-Quran yang diawali oleh peringatan tentang waktu. Antara lain QS al-’Ashr (QS 103). Ini menunjukan bahwa waktu itu sangat penting.

Jika orang Barat mengatakan time is money, kita – umat Islam — juga memiliki adagium yang tidak kalah berbobot yaitu “waktu adalah ibadah”. Jika kita kehilangan waktu, bukan hanya sekadar ’uang’ yang hilang, tetapi juga kesempatan untuk beribadah tidak akan pernah kembali lagi.

Waktu terus berjalan, tidak akan pernah berhenti. Semoga kajian tafsir QS al-’Ashr ini bisa mengingatkan kita semua tentang pentingnya waktu, sehingga kita tidak menyia-nyiakannya lagi.

Teks Ayat al-Quran

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi (celaka), kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS al ‘Ashr/103: 1-3)

 

Kedudukan Surat Al-‘Ashr

 

Al-Quran adalah kalâmullâh (firman Allah), sebagai pedoman dan petunjuk ke jalan yang lurus bagi umat manusia. Allah  berfirman:

¨bÎ) #x‹»yd tb#uäöà)ø9$# “ωöku‰ ÓÉL¯=Ï9 š†Ïf ãPuqø%r& çŽÅe³u;ãƒur tûüÏZÏB÷sßJø9$# tûïÏ%©!$# tbqè=yJ÷ètƒ ÏM»ysÎ=»¢Á9$# ¨br& öNçlm; #\ô_r& #ZŽÎ6x.

”Sesungguhnya al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS al-Isrâ’/17: 9)

 

Sehingga semua ayat-ayat al-Quran memiliki kedudukan dan fungsi yang agung. Demikian pula pada surat al-‘Ashr, terkandung di dalamnya makna-makna yang amat berharga bagi siapa saja yang mentadabburinya (memahaminya dengan seksama).

Al-Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i menegaskan tentang kedudukan surat al-‘Ashr.

Beliau berkata:

لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّوْرَةَ لَوَسِعَتْهُمْ

“Sekiranya manusia mau memperhatikan (kandungan) surat ini, niscaya surat ini akan mencukupkan baginya.” (Lihat: Tafsîr Ibnu Katsir, pada Surat al-‘Ashr)

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa perkataan Al-Imam asy-Syafi’i itu adalah tepat karena Allah  telah menginformasikan bahwa seluruh manusia dalam keadaan merugi (celaka), kecuali barang siapa yang mukmin (beriman) lagi shalih (beramal shalih) dan ketika bersama dengan yang lainnya saling berwasiat kepada jalan yang haq dan saling berwasiat di atas kesabaran. (Lihat, Majmû’ Fatâwâ, 28/152)

 

Keutamaan Surat al-‘Ashr

 

Al-Imam ath-Thabrani menyebutkan dari Ubaidillah bin Hafsh, ia berkata: “Jika dua shahabat Rasulullah s.a.w. bertemu maka keduanya tidak akan berpisah kecuali setelah salah satu darinya membacakan kepada yang lainnya surat al ‘Ashr hingga selesai, kemudian memberikan salam.” (Al-Mu’jam al-Ausâth, hadis no. 5097, dishahihkan oleh asy-Syaikh Al-Albani di dalam Ash- Shahîhah, no. 2648)

 

Kandungan Surat Al ‘Ashr

 

Pada ayat pertama: (وَالْعَصْر)

 

Allah bersumpah dengan al ‘ashr yang bermakna waktu, zaman atau masa. Pada zaman/masa itulah terjadinya amal perbuatan manusia yang baik atau pun yang buruk. Jika waktu atau zaman itu digunakan untuk amal kebajikan maka itulah jalan terbaik yang akan menghasilkan kebaikan pula. Sebaliknya jika digunakan untuk kejelekan maka tidak ada yang dihasilkan kecuali kerugian dan kecelakaan.

 

Rasulullah s.a.w. bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌمِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua kenikmatan yang kebanyakan orang lalai di dalamnya: kesehatan dan waktu senggang.” (HR. At-Tirmidzi, hadis no. 2304, dari shahabat Abdullah bin Abbas)

Kemudian di hari kiamat kelak Allah akan menanyakan tentang umur seseorang, untuk apa dia pergunakan? Sebagaimana hadis Rasulullah s.a.w. yang diriwayatkan oleh shahabat Abdullah bin Mas’ud. Beliau bersabda:

لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلاَهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ

“Tidaklah bergeser telapak kaki bani Adam pada hari kiamat dari sisi Rabb-nya hingga ditanya tentang lima perkara; umurnya untuk apa ia gunakan, masa mudanya untuk apa ia habiskan, hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan, dan apa yang ia perbuat dengan ilmu-ilmu yang telah ia ketahui.” (HR at-Tirmidzi, hadis no. 2416 dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al-Albani di dalam Ash-Shahîhah, no. 947)

 

Kemudian Allah menyebutkan ayat berikutnya:

إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi.”

 

Lafazh al-insân pada ayat di atas secara kaedah tata bahasa Arab mencakup keumuman manusia tanpa terkecuali. Allah  tidak memandang agama, jenis kelamin, status, martabat, dan jabatan, melainkan Allah mengkhabarkan bahwa semua manusia itu dalam keadaan celaka kecuali yang memiliki empat sifat yang terdapat pada kelanjutan ayat tersebut.

 

Kerugian yang dimaksud dalam ayat ini bermacam-macam, bisa kerugian yang bersifat mutlak, seperti keadaan orang yang merugi di dunia dan di akhirat, yang dia kehilangan kenikmatan dan diancam dengan balasan di dalam neraka jahim. Dan bisa juga kerugian tersebut menimpa seseorang akan tetapi tidak mutlak hanya sebagian saja. (Taisîr Karîm ar-Rahmân, karya asy Syaikh Abdurrahman as Sa’di)

 

Pertama: Keimanan

 

Sifat yang pertama adalah beriman, diambil dari penggalan ayat:

إِلاَّ الَّذيْنَ ءَامَنُوْا

“Kecuali orang-orang yang beriman”

 

Iman adalah keyakinan (keimanan) terhadap seluruh apa yang Allah perintahkan untuk mengimaninya, dari beriman kepada Allah, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, malaikat-malaikat-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir, serta segala sesuatu yang dapat mendekatkan kepada Allah dari keyakinan-keyakinan yang benar dan ilmu yang bermanfaat.

 

Penggalan ayat di atas memiliki kandungan makna yang amat berharga yaitu tentang kewajiban menuntut ilmu agama yang telah diwariskan oleh Nabi s.a.w..

 

Mengapa demikian? Tentu, karena tidaklah mungkin seseorang mencapai keimanan yang benar dan sempurna tanpa adanya ilmu pengetahuan terlebih dahulu dari apa yang ia imani dari al-Quran dan as-Sunnah.

 

Allah berfirman:

¨bÎ) šúïÏe$!$# y‰YÏã «!$# ÞO»n=ó™M}$# 3 $tBur y#n=tF÷z$# šúïÏ%©!$# (#qè?ré& |=»tGÅ3ø9$# žwÎ) .`ÏB ω÷èt/ $tB ãNèduä!%y` ÞOù=Ïèø9$# $J‹øót/ óOßgoY÷t/ 3 `tBur öàÿõ3tƒ ÏM»tƒ$t«Î/ «!$#  cÎ*sù ©!$# ßìƒÎŽ|  É>$|¡Ïtø:$#

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi al-Kitab [maksudnya ialah Kitab-kitab yang diturunkan sebelum al-Quran] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (QS Âli ’Imrân/3: 19)

 

Dalam ayat yang mulia ini Allah menggandengkan syahadat orang-orang yang berilmu dengan syahadat untuk diri-Nya sendiri dan para Malaikat-Nya. Padahal syahadat lâ ilâha illallâh merupakan keimanan yang tertinggi. Hal ini menunjukkan tingginya keutamaan ilmu dan ahli ilmu. Bahkan para ulama menerangkan bahwa salah satu syarat sahnya syahadat adalah berilmu, yaitu mengetahui apa ia persaksikan. Sebagaimana firman Allah:

إِلاَّ مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَ هُمْ يَعْلَمُوْنَ

“Kecuali barangsiapa yang bersyahadat dengan haq (tauhid), dalam keadaan mereka mengetahuinya (berilmu).” (QS az-Zukhruf/43: 86)

 

Sehingga tersirat dari penggalan ayat: إِلاَّ الَّذيْنَ ءَامَنُوْا (kecuali orang-orang yang beriman) adalah kewajiban menimba ilmu agama.

Terlebih lagi Rasulullah s.a.w. menegaskan dalam hadisnya:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu adalah fardhu (kewajiban) atas setiap muslim.” (HR Ibnu Majah dari Anas bin Malik, hadis no. 224)

Kedua: Beramal Shalih

Sifat yang kedua adalah beramal shalih, diambil dari penggalan ayat

وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

“Dan (mereka)  beramal shalih.”

Amalan shalih itu mencakup amalan zhahir (lahiriah) yang dikerjakan oleh anggota badan maupun amalan batin, baik amalan tersebut bersifat fardhu (wajib) atau pun bersifat mustahab (anjuran).

Keterkaitan antara iman dan amal shalih itu sangatlah erat dan tidak bisa dipisahkan. Karena amal shalih itu merupakan buah dan konsekuensi dari kebenaran iman seseorang. Atas dasar ini jumhur ulama menyebutkan salah satu prinsip dasar Islam bahwa ”amal shalih” itu bagian dari iman. Iman itu bisa bertambah dengan amalan shalih dan akan berkurang dengan amalan yang jelek (kemaksiatan).

Oleh karena itu, dalam al-Quran Allah banyak menggabungkan antara iman dan amal shalih dalam satu konteks, seperti dalam ayat ini atau ayat-ayat yang lainnya. Di antaranya firman Allah:

ô`tB Ÿ@ÏJtã $[sÎ=»|¹ `ÏiB @Ÿ2sŒ ÷rr& 4Ós\Ré& uqèdur Ö`ÏB÷sãB ¼çm¨ZtÍ‹ósãZn=sù Zo4qu‹ym Zpt6ÍhŠsÛ ( óOßg¨YtƒÌ“ôfuZs9ur Nèdtô_r& Ç`|¡ômr'Î/ $tB (#qçR$Ÿ2 tbqè=yJ÷ètƒ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS an-Nahl/16: 97)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di berpendapat: “Jika dua sifat (iman dan amal shalih) di atas terkumpul pada diri seseorang maka dia telah menyempurnakan dirinya sendiri.” (Taisîr Karim ar-Rahmân)

Ketiga: Saling Menasihati dalam Kebenaran

Hal yang ketiga ini merupakan salah satu dari sifat-sifat yang menghindarkan seseorang dari kerugian adalah saling menasihati di antara mereka dalam kebenaran, dan di dalam menjalankan ketaatan kepada Allah serta meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan-Nya.

Nasihat merupakan perkara yang agung, dan merupakan jalan rasul di dalam memperingatkan umatnya, sebagaimana Nabi Nuh a.s. ketika memperingatkan kaumnya dari kesesatan:

öNä3äóÏk=t/é& ÏM»n=»y™Í‘ ’În1u‘ ßx|ÁRr&ur ö/ä3s9 ÞOn=÷ær&ur šÆÏB «!$# $tB Ÿw tbqßJn=÷ès?

"Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasihat kepadamu. dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui [maksudnya: aku mengetahui hal-hal yang ghaib, yang tidak dapat diketahui hanyalah dengan jalan wahyu dari Allah.].” (QS al-A’râf/7: 62).

Kemudian Nabi Hud a.s. yang berkata kepada kaumnya:

öNà6äóÏk=t/é& ÏM»n=»y™Í‘ ’În1u‘ O$tRr&ur ö/ä3s9 îûüÏBr& îw¾¾$tR

”Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu”. (QS al-A’râf/7: 68)

Dengan nasihat itu maka akan tegak agama ini, sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w. di dalam hadisnya:

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

“Agama ini adalah nasihat” (HR Muslim, hadis no. 90 dari shahabat Tamim ad-Dâri)

Bila nasihat itu mulai kendor dan runtuh maka akan runtuhlah agama ini, karena kemungkaran akan semakin menyebar dan meluas. Sehingga Allah melaknat kaum kafir dari kalangan Bani Israil dikarenakan tidak adanya sifat ini sebagaimana firman-Nya:

 (#qçR$Ÿ2 Ÿw šcöqyd$uZoKtƒ `tã 9x6Y•B çnqè=yèsù 4 š[ø¤Î6s9 $tB (#qçR$Ÿ2 šcqè=yèøÿtƒ

”Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS al-Mâidah/5: 79)

Demikian pula orang-orang munafik yang di antara mereka saling menyuruh kepada perbuatan mungkar dan melarang dari perbuatan yang ma’ruf, Allah telah memberitakan keadaan mereka di dalam al-Quran, sebagaimana firman-Nya:

tbqà)Ïÿ»uZßJø9$# àM»s)Ïÿ»oYßJø9$#ur OßgàÒ÷èt/ .`ÏiB <Ù÷èt/ 4 šcrããBù'tƒ ̍x6ZßJø9$$Î/ šcöqpk÷]tƒur Ç`tã Å$rã÷èyJø9$# šcqàÒÎ6ø)tƒur öNåku‰Ï‰÷ƒr& 4 (#qÝ¡nS ©!$# öNåkuŽÅ¡t^sù 3 žcÎ) tûüÉ)Ïÿ»oYßJø9$# ãNèd šcqà)Å¡»xÿø9$# 

”Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya [maksudnya: berlaku kikir]. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS at-Taubah/9: 67)

 

Keempat: Saling Menasihati dalam Kesabaran

 

Saling menasihati dalam berbagai macam kesabaran, sabar di atas ketaatan terhadap Allah dan menjalankan segala perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya, sabar terhadap musibah yang menimpa serta sabar terhadap takdir dan ketetapan-Nya.

 

Orang-orang yang bersabar di atas kebenaran dan saling menasihati satu dengan yang lainnya, maka sesungguhnya Allah telah menjanjikan bagi mereka pahala yang tidak terhitung, Allah  berfirman:

 ö@è% ϊ$t7Ïè»tƒ z`ƒÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qà)®?$# öNä3­/u‘ 4 tûïÏ%©#Ï9 (#qãZ|¡ômr& ’Îû Ínɋ»yd $u‹÷R‘‰9$# ×puZ|¡ym 3 ÞÚö‘r&ur «!$# îpyèřºur 3 $yJ¯RÎ) ’®ûuqムtbrçŽÉ9»¢Á9$# Nèdtô_r& ΎötóÎ/ 5>$|¡Ïm

”Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS az Zumar/39:10)

 

Jika telah terkumpul pada diri seseorang keempat sifat ini, maka dia telah mencapai puncak kesempurnaan. Karena dengan dua sifat pertama (iman dan amal shalih) ia telah menyempurnakan dirinya sendiri, dan dengan dua sifat terakhir (saling menasihati dalam kebenaran dan dalam kesabaran) ia telah menyempurnakan orang lain. Oleh karena itu, selamatlah ia dari kerugian, bahkan ia telah beruntung dengan keberuntungan yang agung.

 

Penutup

 

Demikianlah para pembaca sedikit dari apa yang kami sampaikan mengenai tafsir QS al-‘Ashr. Semoga dapat memberikan bimbingan kepada kita semua di dalam menempuh agama yang telah diridhai oleh Allah ini. Dan tentunya kita berharap agar dapat memiliki 4 (empat) sifat yang akan menyelamatkan kita dari kerugian, baik di dunia maupun di akhirat.

 

Âmîn. Yâ Rabbal ’Âlamîn.
(Dikutip dan disempurnakan dari:

http://www.abuayaz.co.cc/2010/05/tafsir-surat-al-ashr.html)

Tags: