Tafsir QS Al-Isrâ’/17: 82

Al-Quran sebagai Obat Segala Penyakit

Iftitâh

Perbincangan mengenai al-Quran sebagai syifâ’ (obat atau penawar) terhadap penyakit, hingga saat ini masih menjadi perbicangan yang menarik. Apalagi, ketika wacana itu dilanjutkan dengan fungsinya (al-Quran) sebagai rahmat (karunia) Allah. Benarkah al-Quran itu memiliki kegunaan yang seperti itu, dan apakah nilai kegunaannya bersifat mutlak atau relatif? Inilah yang kemudian memicu para mufassir (para tafsir) al-Quran untuk menjelaskannya dengan berbagai ragam pendekatan dan metodenya. Tetapi, ketika kita cermati, semuanya bermuara pada satu pendapat, bahwa efektivitas kegunaan al-Quran sebagai syifâ’ dan rahmah sangat bergantung pada manusia yang mengharapkannya. Apakah yang bersangkutan telah memenuhi persyaratan utama untuk memerolehnya? Semakin terpenuhi persyaratan utamanya, maka semakin mungkin seseorang akan memeroleh syifâ’ dan rahmah dari Allah, begitu juga sebaliknya. Apakah persyaratan utamanya? Jawabnya tegas, yaitu: “Iman”. 

Nash (Teks Ayat) al-Qurân

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌوَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلاَ يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ إِلاَّخَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari al-Quran suatu yang menjadi obat (penawar) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS al-Isrâ’/17: 82)

Tafsîr al-Mufradât

نُنَزِّلُ

:

“Kami turunkan.” Maksudnya Kami (Allah) wahyukan ayat-ayat Kami melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad s.a.w. bagi seluruh hamba Kami, yang semuanya telah terkodifikasi di dalam kitab suci al-Quran.

مِنَ الْقُرْآنِ

:

Dari al-Quran.” Kata min dalam ayat ini, menurut pendapat yang râjih (kuat) menjelaskan (bayâniyyah) jenis dan spesifikasi yang dimiliki al-Quran. Kata min di sini tidak bermakna  sebagian (ba’dhiyyah) yang mengesankan bahwa di antara ayat-ayat al-Quran ada yang tidak termasuk syifâ` (obat atau penawar) sebagaimana yang dirâjihkan oleh Ibnul Qayyim al-Jauziyah.

Kata min pada ayat ini seperti hal yang terdapat dalam firman-Nya:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (QS an-Nûr/24: 55)

Kata min dalam lafazh مِنْكُمْ tidaklah bermakna sebagian, sebab mereka — seluruhnya — adalah orang-orang yang beriman dan beramal shalih.

شِفَاءٌ

:

Obat (penawar). Obat yang dimaksud dalam ayat ini meliputi obat atas segala penyakit, baik ruhani maupun jasmani dengan spesifikasi tertentu, sebagaimana yang akan dijelaskan dalam tafsirnya.

رَحْمَةٌ

:

Rahmat di dalam ayat ini dipahami sebagai bantuan dari Allah, sehingga ketidakberdayaan dalam bentuk apa pun tertanggulangi. Rahmat Allah yang dilimpahkan kepada umat Islam adalah kebahagiaan hidup sebagai akibat dari ridha-Nya, termasuk di dalamnya kehidupan di akherat kelak. Oleh karena itu jika al-Quran dipahami sebagai rahmat bagi umat Islam, maka maknanya adalah limpahan karunia berupa kebajikan dan keberkatan yang disediakan oleh Allah bagi mereka (umat Islam) yang memhami, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai yang diamanatkan oleh Allah dalam al-Quran.

Al-Îdhâh (Penjelasan)

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menyatakanbahwa sesungguhnya al-Quran itu merupakan obat (penawar) dan rahmat bagi kaum yang beriman. Bila seseorang mengalami keraguan, penyimpangan dan kegundahan yang terdapat dalam hati, maka al-Quran-lah yang menjadi obat (penawar) semua itu. Di samping itu al-Quran merupakan rahmat yang membuahkan kebaikan dan mendorong untuk melakukannya. Kegunanaan itu tidak akan didapatkan kecuali bagi orang yang mengimani (membenarkan) serta mengikutinya. Bagi orang yang seperti ini (beriman), al-Quran akan berfungsi menjadi obat (penawar) dan – sekaligus – rahmat baginya. Adapun bagi orang kafir yang telah – dengan sengaja — mezalimi diri sendiri dengan sikap kufurnya, maka tatkala mereka mendengarkan dan membaca ayat-ayat al-Quran, tidaklah bacaan ayat-ayat al-Quran itu tidak akan berguna bagi mereka, melainkan  — mereka bahkan — akan semakin jauh dan semakin bersikap kufur, karena hati mereka telah tertutup oleh dosa-dosa yang mereka perbuat. Dan yang menjadi sebab bagi orang kafir menjadi semakin jauh dari kesembuhan dari penyakit dan rahmat Allah itu bukanlah karena (kesalahan) bacaan aya-ayat (al-Quran)-nya, tetapi karena (disebabkan oleh) sikap mereka yang salah terhadap al-Quran. Sebagaimana firman Allah Subhanâhu wa Ta’âla:

قُلْ هُوَلِلَّذِيْنَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ فِيآذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُولَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْمَكَانٍ بَعِيْدٍ

“Katakanlah: Al-Quran itu adalah petunjuk dan obat (penawar) bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan sedang al-Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh.” (QS Fushshilat/41: 44)

Dan Allah Subhânahu wa Ta’âla – dalam hal ini — juga berfirman:

وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْسُوْرَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُوْلُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيْمَانًافَأَمَّا الَّذِيْنَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيْمَانًا وَهُمْيَسْتَبْشِرُوْنَ. وَأَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَرَضٌفَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُوْنَ

“Dan apabila diturunkan suatu surat maka di antara mereka ada yang berkata: ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah iman dengan surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman maka surat ini menambah iman sedang mereka merasa gembira. Adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka di samping kekafiran dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (QS at-Taubah/9: 124-125)

Dan masih banyak ayat-ayat yang menjelaskan tentang hal ini.
Abdurrahman As-Sa’di – misalnya —  berkata pula dalam menjelaskan ayat ini: “Al-Quran mengandung obat (penawar) dan rahmat. Dan ini tidak berlaku untuk semua orang, namun hanya berlaku bagi orang yang beriman yang membenarkan ayat-ayat-Nya dan berilmu dengannya. Adapun bagi orang-orang zalim — yang tidak membenarkan dan tidak mengamalkan — maka ayat-ayat tersebut tidaklah menambah bagi mereka kecuali kerugian. Karena hujjah telah ditegakkan kepada mereka dengan ayat-ayat itu.

Obat (penawar) yang terkandung dalam al-Quran bersifat umum, meliputi obat (penawar) hati dari berbagai syubhat kejahilan berbagai pemikiran yang merusak penyimpangan yang jahat dan berbagai tendensi yang batil. Sebab ia mengandung ilmu yang meyakinkan yang dengan akan memusnahkan setiap syubhat dan kejahilan. Ia merupakan pemberi nasihat serta peringatan yang dengan akan memusnahkan setiap syahwat yang menyelisihi perintah Allah Subhânahu wa Ta’âla. Di samping itu al-Quran juga menjadi obat jasmani dari berbagai macam penyakit, meski pun tata-cara yang digunakannya bukan dengan tata-cara yang lazim digunakan dalam penggunaan obat untuk penyakit jasmani, tetapi digunakan dengan tata-cara yang spesifik melalui terapi spiritual yang bisa berdampak pada orang-orang yang beriman karena pengaruh (sugesti) yang diakibatkan oleh keyakinan mereka ketika menggunakan al-Quran sebagai obat (penawar) bagi penyakit yang diderita olehnya. Karena yang dimaksud penyakit jasmani di sini, bukanlah penyakit fisik (murni), tetapi  penyakit yang di dalam istilah kedokteran dikenal dengan sebutan psikosomatik. Misalnya: “penyakit sesak nafas atau dada bagaikan tertekan karena adanya ketidakseimbangan ruhani”. Dalam hal ini dokter bisa menyarankan kepada pasien muslim untuk membaca ayat-ayat al-Quran untuk memberikan sugesti agar pasien merasa tenang dan nyaman, sehingga secara kejiwaan terbantu untuk melakukan pengobatan pada dampak fisiknya.

Adapun rahmat yang disebut di dalam ayat itu, dimaksudkan sebagai karunia Allah yang bisa diraih oleh setiap orang yang beriman dengan cara membaca, memahami, menghayati dan mengamalkna isi al-Quran. Maka sesungguhnya di dalam bacaan ayat-al-Quran itu sebab- terkandung sebab dan sarana untuk meraihnya. Kapan saja seseorang melakukan sebab-sebab atau saranya itu, maka dia akan beruntung dengan bukti nyata “meraih rahmat dan kebahagiaan yang abadi serta ganjaran kebaikan dari Allah, cepat atau pun lambat.”

Memahahami Makna al-Quran Sebagai Obat) Penyakit Jasmani

Suatu hal yang menjadi keyakinan tiap muslim bahwa al-Qur`an al-Karîm diturunkan Allah Subhânahu wa Ta’âla untuk memberi petunjuk kepada tiap manusia menyembuhkan berbagai penyakit hati yang menjangkiti manusia bagi mereka yang diberi hidayah oleh Allah Subhânahu wa Ta’âla dan dirahmati-Nya. Namun – pertanyaan penting lainnya adalah — apakah al-Quran dapat menyembuhkan penyakit jasmani?

Dalam hal ini para ulama menukilkan dua pendapat: Ada yang mengkhususkan penyakit hati dan ada pula yang menyebutkan penyakit jasmani dengan cara meruqyah ber-ta’awudz dan semisal dengannya. Ikhtilaf ini disebutkan al-Qurthubi dalam kitabnya: “Al-Jâmi’ li Ahkâmil Qurân”. Demikian pula disebutkan oleh asy-Syaukani dalam kitab Fathul Qadîr, dengan pernyataannya: “Dan tidak ada penghalang untuk membawa ayat ini kepada dua makna tersebut.” Pendapat ini semakin ditegaskan  oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab Zâdul Ma’âd: “Al-Quran adalah obat (penawar) yang sempurna dari seluruh penyakit hati dan jasmani demikian pula penyakit dunia dan akhirat. Dan tidaklah tiap orang diberi keahlian dan taufiq untuk menjadikan sebagai obat. Jika seorang yang sakit konsisten berobat dengan dan meletakkan pada penyakit yang dideritanya dengan penuh kejujuran dan keimanan, berupa penerimaan yang sempurna dan keyakinan yang kokoh dan menyempurnakan syarat-syaratnya, niscaya penyakit apa pun akan menjadi tawar (sembuh) karena kehendak-Nya. Bagaimana mungkin penyakit tersebut mampu menghadapi kehendak Dzat yang memiliki langit dan bumi (Allah) yang telah menciptakannya. Jika diturunkan kepada gunung maka ia akan menghancurkannya. Atau diturunkan kepada bumi maka ia akan membelahnya. Maka tidak satu pun jenis penyakit baik penyakit hati maupun jasmani melainkan dalam al-Quran ada cara yang membimbing untuk berobat dan dan menghilangkan sebab-sebab yang mengakibatkan terjadinya.” Sebagaimana yang bisa dipahami dari firman Allah, berkenaan dengan sikap Nabi Ibrahim a.s.:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“Dan apabila aku (Ibrahim) sakit, Dia (Allah)-lah yang menyembuhkan diriku.” (QS asy-Syu’arâ’/26: 80).

Inilah – yang oleh para pakar tafsir – disebut sebagai sikap tawakkal dari seorang hamba (yang direpresentasikan oleh Nabi Ibrahim a.s.). Ketika – suatu saat — dirinya sakit, dia yakin  bahwa Allahlah yang berkuasa untuk memberikan kesembuhan. Sehingga, semua obat (penawar) – termasuk al-Quran — tidak akan bermakna apa pun tanpa ridha Allah.

Berikut ini kami sebutkan beberapa riwayat berkenaan tentang pengobatan dengan (media/sarana) al-Quran. Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah r.a.. Beliau (‘Aisyah r.a) berkata:

سُحِرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم حَتَّى إِنَّهُ لَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَفْعَلُ الشَّيْءَ وَمَا فَعَلَهُ حَتَّى إِذَا كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ وَهْوَ عِنْدِي دَعَا اللَّهَ وَدَعَاهُ ثُمَّ قَالَ أَشَعَرْتِ يَا عَائِشَةُ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَفْتَانِي فِيمَا اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ قُلْتُ وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ جَاءَنِي رَجُلاَنِ فَجَلَسَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي وَالآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيَّ ثُمَّ قَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ مَا وَجَعُ الرَّجُلِ قَالَ مَطْبُوبٌ قَالَ ، وَمَنْ طَبَّهُ قَالَ لَبِيدُ بْنُ الأَعْصَمِ الْيَهُودِيُّ مِنْ بَنِي زُرَيْقٍ قَالَ فِيمَا ذَا قَالَ فِي مُشْطٍ وَمُشَاطَةٍ وَجُفِّ طَلْعَةٍ ذَكَرٍ قَالَ فَأَيْنَ هُوَ قَالَ فِي بِئْرِ ذِي أَرْوَانَ قَالَ فَذَهَبَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فِي أُنَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ إِلَى الْبِئْرِ فَنَظَرَ إِلَيْهَا وَعَلَيْهَا نَخْلٌ ثُمَّ رَجَعَ إِلَى عَائِشَةَ فَقَالَ وَاللَّهِ لَكَأَنَّ مَاءَهَا نُقَاعَةُ الْحِنَّاءِ وَلَكَأَنَّ نَخْلَهَا رُؤُوسُ الشَّيَاطِينِ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ أَفَأَخْرَجْتَهُ قَالَ : لاََ أَمَّا أَنَا فَقَدْ عَافَانِي اللَّهُ وَشَفَانِي وَخَشِيتُ أَنْ أُثَوِّرَ عَلَى النَّاسِ مِنْهُ شَرًّا وَأَمَرَ بِهَا فَدُفِنَتْ.

“Nabi s.a.w. telah disihir, hingga seakan-akan beliau berangan-angan telah berbuat sesuatu, padahal beliau tidak melakukannya, hingga ketika beliau berada di sampingku, beliau berdo’a kepada Allah dan selalu berdo’a, kemudian beliau bersabda: “Wahai Aisyah, apakah kamu telah merasakan bahwa Allah telah memberikan fatwa (menghukumi) dengan apa yang telah aku fatwakan (hukumi)? Jawabku; “Apa itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Dua orang laki-laki telah datang kepadaku, lalu salah seorang dari keduanya duduk di atas kepalaku dan satunya lagi di kakiku. Kemudian salah seorang berkata kepada yang satunya; “Menderita sakit apakah laki-laki ini?” temannya menjawab; “Terkena sihir.’ salah seorang darinya bertanya; “Siapakah yang menyihirnya?” temannya menjawab; “Labid bin al-A’sham seorang Yahudi dari Bani Zuraiq.” Salah satunya bertanya; “Dengan benda apakah dia menyihir?” temannya menjawab; “Dengan rambut yang terjatuh ketika disisir dan seludang mayang kurma.” Salah seorang darinya bertanya; “Di manakah benda itu di letakkan?” temannya menjawab; “Di dalam sumur Dzi Arwan.” Kemudian Rasulullah s.a.w. mendatangi sumur tersebut bersama beberapa orang sahabatnya, beliau pun melihat ke dalam ternyata di dalamnya terdapat pohon kurma, lalu beliau kembali menemui ‘Aisyah dan bersabda: “Wahai Aisyah! seakan-akan airnya berubah bagaikan rendaman pohon inai atau seakan-akan pohon kurmanya bagaikan kepala setan.” Aku bertanya; “Wahai Rasulullah, tidakkah anda mengeluarkannya?” beliau menjawab: “Tidak, sesungguhnya Allah telah menyembuhkanku dan aku hanya tidak suka memberikan kesan buruk kepada orang lain dari peristiwa itu.” Kemudian beliau memerintahkan seseorang membawanya (barang yang dipakai untuk menyihir) lalu menguburnya.” (HR Bukhari dari ‘Aisyah, Shahîh al-Bukhâriy, VII/178, hadits no. 5766)

سُحِرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَوَقَالَ اللَّيْثُ كَتَبَ إِلَيَّ هِشَامٌ أَنَّهُ سَمِعَهُ وَوَعَاهُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سُحِرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى كَانَ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَفْعَلُ الشَّيْءَ وَمَا يَفْعَلُهُ حَتَّى كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ دَعَا وَدَعَا ثُمَّ قَالَ أَشَعَرْتِ أَنَّ اللَّهَ أَفْتَانِي فِيمَا فِيهِ شِفَائِي أَتَانِي رَجُلَانِ فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي وَالْآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيَّ فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ مَا وَجَعُ الرَّجُلِ قَالَ مَطْبُوبٌ قَالَ وَمَنْ طَبَّهُ قَالَ لَبِيدُ بْنُ الْأَعْصَمِ قَالَ فِيمَا ذَا قَالَ فِي مُشُطٍ وَمُشَاقَةٍ وَجُفِّ طَلْعَةٍ ذَكَرٍ قَالَ فَأَيْنَ هُوَ قَالَ فِي بِئْرِ ذَرْوَانَ فَخَرَجَ إِلَيْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ لِعَائِشَةَ حِينَ رَجَعَ نَخْلُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ فَقُلْتُ اسْتَخْرَجْتَهُ فَقَالَ لَا أَمَّا أَنَا فَقَدْ شَفَانِي اللَّهُ وَخَشِيتُ أَنْ يُثِيرَ ذَلِكَ عَلَى النَّاسِ شَرًّا ثُمَّ دُفِنَتْ الْبِئْرُ

“Nabi s.a.w. telah disihir”. Dan berkata Al-Laits; ” Hisyam menulis surat kepadaku bahwa dia mendengarnya, dia anggap dari bapaknya dari ‘Aisyah r.a. berkata; “Nabi s.a.w. telah disihir hingga terbayang oleh beliau seolah-olah berbuat sesuatu padahal tidak. Hingga pada suatu hari Beliau memanggil-manggil kemudian berkata: “Apakah kamu menyadari bahwa Allah telah memutuskan tentang kesembuhanku?. Telah datang kepadaku dua orang, satu diantaranya duduk dekat kepalaku dan yang satu lagi duduk di dekat kakiku. Yang satu bertanya kepada yang lainnya; “Sakit apa orang ini?”. Yang lain menjawab; “Kena sihir”. Yang satu bertanya lagi; “Siapa yang menyihirnya?”. Yang lain menjawab; “Labid bin Al-A’sham”. Yang satu bertanya lagi; “Dengan cara apa?”. DIjawab; “Dengan cara melalui sisir, rambut yang rontok saat disisir dan putik kembang kurma jantan”. Yang satu bertanya lagi; “Sekarang sihir itu diletakkan dimana?”. Yang lain menjawab; “Di sumur Dzarwan”. Maka Nabi s.a.w. pergi mendatangi tempat tersebut kemudian kembali dan berkata kepada ‘Aisyah setelah kembali; “Putik kurmanya bagaikan kepala-kepala setan”. Aku bertanya; “Apakah telah baginda keluarkan?”. Beliau berkata: “Tidak, karena Allah telah menyembuhkan aku. Namun aku khawatir bekasnya itu dapat memengaruhi manusia, maka sumur itu aku urug (timbun)”. (HR Muslim dari ‘Aisyah, Shahîh Muslim, VII/14, hadits no. 5832)

Hadits ini disamping diriwayatkan Bukhari dalam Shahîh al-Bukhariy dan  Muslim dalam Shahîh Muslim, juga diriwayatkan oleh Asy-Syafi’i, dalam Musnad asy-Syafi’i, hal 1401, hadits no. 289; Al-Asfahani dalam Dalâ`ilun Nubuwwah, VI/247. Al-Alka`i juga meriwayatkannya dalam Syarah Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah, namun di dalamnya ada tambahan bahwa ‘Aisyah berkata: “Dan turunlah (ayat): “qul’ a’ûdzu bi rabbil falaq”,hingga selesai bacaan surah tersebut.”

Demikian pula yang diriwayatkan Bukhari dalam Shahih al-Bukhâriy dari Abu Sa’id Al-Khudriy r.a.. Beliau berkata:

انْطَلَقَ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفْرَةٍ سَافَرُوهَا حَتَّى نَزَلُوا عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوهُمْ فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمْ فَلُدِغَ سَيِّدُ ذَلِكَ الْحَيِّ فَسَعَوْا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لَا يَنْفَعُهُ شَيْءٌ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لَوْ أَتَيْتُمْ هَؤُلَاءِ الرَّهْطَ الَّذِينَ نَزَلُوا لَعَلَّهُ أَنْ يَكُونَ عِنْدَ بَعْضِهِمْ شَيْءٌ فَأَتَوْهُمْ فَقَالُوا يَا أَيُّهَا الرَّهْطُ إِنَّ سَيِّدَنَا لُدِغَ وَسَعَيْنَا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لَا يَنْفَعُهُ فَهَلْ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْكُمْ مِنْ شَيْءٍ فَقَالَ بَعْضُهُمْ نَعَمْ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرْقِي وَلَكِنْ وَاللَّهِ لَقَدْ اسْتَضَفْنَاكُمْ فَلَمْ تُضَيِّفُونَا فَمَا أَنَا بِرَاقٍ لَكُمْ حَتَّى تَجْعَلُوا لَنَا جُعْلًا فَصَالَحُوهُمْ عَلَى قَطِيعٍ مِنْ الْغَنَمِ فَانْطَلَقَ يَتْفِلُ عَلَيْهِ وَيَقْرَأُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ فَكَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ فَانْطَلَقَ يَمْشِي وَمَا بِهِ قَلَبَةٌ قَالَ فَأَوْفَوْهُمْ جُعْلَهُمْ الَّذِي صَالَحُوهُمْ عَلَيْهِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ اقْسِمُوا فَقَالَ الَّذِي رَقَى لَا تَفْعَلُوا حَتَّى نَأْتِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَذْكُرَ لَهُ الَّذِي كَانَ فَنَنْظُرَ مَا يَأْمُرُنَا فَقَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرُوا لَهُ فَقَالَ وَمَا يُدْرِيكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ ثُمَّ قَالَ قَدْ أَصَبْتُمْ اقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِي مَعَكُمْ سَهْمًا فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Ada rombongan beberapa orang dari sahabat Nabi s.a.w. yang bepergian dalam suatu perjalanan hingga ketika mereka sampai di salah satu perkampungan Arab, penduduk setempat mereka meminta agar bersedia menerima mereka sebagai tamu penduduk tersebut, namun penduduk menolak. Kemudian kepala suku kampung tersebut terkena sengatan binatang lalu diusahakan segala sesuatu untuk menyembuhkannya namun belum berhasil. Lalu diantara mereka ada yang berkata: “Coba kalian temui rombongan itu semoga ada diantara mereka yang memiliki sesuatu. Lalu mereka mendatangi rombongan dan berkata: “Wahai rombongan, sesunguhnya kepala suku kami telah digigit binatang dan kami telah mengusahakan pengobatannya namun belum berhasil, apakah ada di antara kalian yang dapat menyembuhkannya?” Maka berkatalah seorang dari rombongan itu: “Ya, demi Allah aku akan mengobati, namun demi Allah kemarin kami meminta untuk menjadi tamu kalian, namun kalian tidak berkenan. Maka aku tidak akan menjadi orang yang mengobati kecuali bila kalian memberi upah. Akhirnya mereka sepakat dengan imbalan puluhan ekor kambing. Maka dia berangkat dan membaca Alhamdulillâh rabbil ‘âlamîn (QS al-Fâtihah) seakan penyakit lepas dari ikatan tali padahal dia pergi tidak membawa obat apapun. Dia berkata: “Maka mereka membayar upah yang telah mereka sepakati kepadanya. Seorang dari mereka berkata: “Bagilah kambing-kambing itu!” Maka orang yang mengobati berkata: “Jangan kalain bagikan hingga kita temui Nabi s.a.w., lalu kita ceritakan kejadian tersebut kepada Beliau (Nabi) s.a.w., dan kita tunggu apa yang akan Beliau perintahkan kepada kita”. Akhirnya rombongan itu pun menghadap Rasulullah s.a.w., lalu mereka ceritakan peristiwa tersebut. Beliau pun berkata: “Kamu tahu dari mana kalau al-Fâtihah itu bisa sebagai ruqyah (obat)?” Kemudian Beliau melanjutkan: “Kalian telah melakukan perbuatan yang benar, maka bagilah upah kambing-kambing tersebut dan masukkanlah aku dalam sebagai orang yangmenerima upah tersebut”. Maka Rasulullah s.a.w. pun tertawa.” (HR Bukhari dari Abu Sa’id al-Khudriy, Shahîh al-Bukhâriy, III/121, hadits no. 2276)

Dan ada riwayat lain dari Abdullah bin Abbas,

أَنَّ نَفَرًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرُّوا بِمَاءٍ فِيهِمْ لَدِيغٌ أَوْ سَلِيمٌ فَعَرَضَ لَهُمْ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْمَاءِ فَقَالَ هَلْ فِيكُمْ مِنْ رَاقٍ إِنَّ فِي الْمَاءِ رَجُلًا لَدِيغًا أَوْ سَلِيمًا فَانْطَلَقَ رَجُلٌ مِنْهُمْ فَقَرَأَ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ عَلَى شَاءٍ فَبَرَأَ فَجَاءَ بِالشَّاءِ إِلَى أَصْحَابِهِ فَكَرِهُوا ذَلِكَ وَقَالُوا أَخَذْتَ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ أَجْرًا حَتَّى قَدِمُوا الْمَدِينَةَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخَذَ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ أَجْرًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللَّهِ

“Beberapa orang sahabat Nabi s.a.w. melewati sumber mata air dimana terdapat orang yang tersengat binatang berbisa, lalu salah seorang yang bertempat tinggal di sumber mata air tersebut datang dan berkata; “Adakah di antara kalian seseorang yang pandai menjampi? Karena di tempat tinggal dekat sumber mata air ada seseorang yang tersengat binatang berbisa.” Lalu salah seorang sahabat Nabi pergi ke tempat tersebut dan membacakan al-fâtihah dengan upah seekor kambing. Ternyata orang yang tersengat tadi sembuh, maka sahabat tersebut membawa kambing itu kepada teman-temannya. Namun teman-temannya tidak suka dengan hal itu, mereka berkata; “Kamu mengambil upah atas kitâbullâh?” setelah mereka tiba di Madinah, mereka berkata; “Wahai Rasulullah, ia ini mengambil upah atas kitabullah.” Maka Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya upah yang paling berhak kalian ambil adalah upah karena (mengajarkan) kitâbullâh.” (HR Bukhari dari Abdullah bin Abbas, Shahîh al-Bukhâriy, VII/170, hadits no. 5737)

Adapun hadits yang diriwayatkan bahwa Rasulullah s.aw. bersabda:

خَيْرُ الدَّوَاءِالْقُرْآنُ

“Sebaik-baik obat adalah al-Qur`an.” (HR Ibnu Majah dari Ali bin Abi Thalib, Sunan ibn Mâjah, IV/538, hadits no. 3501)

Dan hadits:

الْقُرْآنُهُوَ الدَّوَاءُ

“Al-Quran adalah obat.” (HR al-Qadha’i dari Ali bin Abi Thalib, Musnad asy-Syihâb al-Qadhâ’i, I/46, hadits no. 28)

Kedua adalah hadits itu dinilai dha’if oleh para ulama hadits. Antara lain oleh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam kitab Silsilah al-Ahâdîts adh-Dha’îfah wa al-Maudhû’ah, IV/63, hadits no. 1559 dan (kitab) Shahîh wa Dha’îf Al-Jâmi’ ash-Shaghîr, XVIII/212, hadits 4135.

 

An-Natîjah (Kesimpulan)

Al-Quran diwahyukan oleh Allah, antara lain sebagai obat (penawar) dan rahmat (karunia) bagi orang-orang yang beriman. Dan, meskipun al-Quran bisa juga dibaca oleh orang-orang tidak beriman, fungsinya sebagai obat (penawar) dan rahmat tidak akan dirasakan oleh mereka. Bukan karena kesalahan al-Qurannya, tetapi karena mereka tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan obat (penawar) dan rahmat dari Allah melalu (media/sarana) al-Quran itu.

Oleh karena itu, para ulama menjelaskan, bahwa untuk mendapatkan pengobatan dan rahmat Allah melalu media/sarana al-Quran, setiap orang harus memenuhi persyaratan utamanya, yaitu: “iman”. Tanpa persyaratan utama itu, maka fungsi al-Quran sebagai obat (penawar) dan rahmat dari Allah tidak akan pernah diperoleh oleh siapa pun, di mana pun dan kapan pun.

Dari penjelasan inilah, (kemudian) para ulama menjelaskan bahwa faktor utama yang akan mengakibatkan seseorang akan memeroleh kesembuhan dari setiap penyakit dan rahmat dari Allah adalah: “iman”. Semakin kokoh iman seseorang, maka dengan media/sarana al-Quran, seseorang akan lebih bisa berharap untuk mendapatkan kesembuhan dari setiap penyakit dan rahmat dari Allah. Dan sebaliknya, dengan (modal) keimanan yang lemah, seseorang akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan kesembuhan dari semua penyakit yang menimpanya dan (juga) harapan untuk memeroleh rahmat dari Allah, karena lemahnya modal yang dimiliki. Apalagi ketika seseorang itu sama sekali tidak memiliki “iman”, maka harapan untuk mendapatkan kesembuhan dari penyakit yang diderita dan perolehan rahmat dari Allah dapat diprediksi sama sekali tidak akan pernah diperoleh.

Maka dari itu, agar kita bisa memeroleh kesembuhan dari semua penyakit yang tengah kita alami melalu pengobatan yang kita lakukan dengan media/sarana al-Quran dan juga harapan kita untuk menggapai rahmat dari Allah, kita (mulai saat ini) tidak boleh tidak, “harus” memerkokoh keimanan kita, sebagai prasyarat utama untuk menggapai kesembuhan (obat) dan rahmat dari Allah melalui proses pembacaan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan kitab suci al-Quran.

Wallâhu A’lamu bish-Shawâb.