Tafsir Ayat al-Qur’an: “QS Âli‘Imrân, 3: 159″

(Disampaikan dalam acara Pengajian Senin Petang, di Masjid Beteng Binangun, Kadipaten Wetan, Kelurahan Kadipaten, Kecamatan Kraton, Yogyakarta, pada hari Senin, tanggal 7 Oktober 2013)

Teks Ayat:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَفَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْلَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا

عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّاللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar,tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlahmereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalamurusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallahkepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkalkepada-Nya.”

Tafsir Mufradat:

لِنتَ لَهُمْ:

Kamu — hai Muhammad — karena rahmatKu mampu bersikap lemah lembut terhadap orang-yang bersalah terhadapmu dan umatmu.

وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ:

Dan bermusyawarahlah dengan mereka (umatmu) – hai Muhammad – mengenai urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya

عَزَمْتَ:

Kamu bersepakat untuk memutuskan hasil musyawarah yang kamu lakukan bersama umatmu.

فَتَوَكَّلْ:

Laksanakan semua hasil keputusan musyawarah itu, dengan tetap berserah diri kepada Allah SWT

Penjelasan:

Maraknya aksi kekerasan belakangan ini mengundangkeprihatinan kita bersama. Hampir tiap hari kita disuguhi berbagai kabar tindakkekerasan, baik itu berbentuk penyerangan, pengeroyokan, tawuran, maupuntindakan anarkistis lainnya.

Pelakunya pun cukup beragam dilihat dari usia danjabatannya. Publik bertanya, ada apa dengan karakter masyarakat kita ini. Bukankahdulu kita berbangga karena dikenal bangsa lain sebagai bangsa yang santun,lembut, dan ramah? Lantas, ke mana semua sifat mulia itu sekarang ini?

Al-Qur’an sebagai pedoman hidup kita mengajarkan bagaimanamenghadapi persoalan.

Melalui ayat ini Allah mengingatkan kita agar mengedepankansikap lemah lembut dan menjauhi kekasaran atau kekerasan seperti tecermin darisikap yang dimiliki Rasulullah s.a.w.. Kita juga diajarkan untuk suka memaafkankesalahan orang lain sekaligus memintakan ampun atas dosa dan kesalahannya.

Dan, jangan lupa untuk mengedepankan sikap musyawarah,diskusi, dan dialog dengan santun menghadapi berbagai persoalan, bukandemonstrasi anarkistis, teror, dan menebar ancaman. Selanjutnya, kita dimintabertawakal setelah membulatkan tekad karena Allah menyukai orang-orang yangbertawakal.

Kita juga perlu meneladani bagaimana Nabi kita membalasperlakuan tidak menyenangkan dari orang lain.

عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِأَنَّ عَائِشَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، زَوْجَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلمقَالَتْ دَخَلَ رَهْطٌ مِنَ الْيَهُودِ عَلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالُواالسَّامُ عَلَيْكُمْ قَالَتْ عَائِشَةُ فَفَهِمْتُهَا فَقُلْتُ وَعَلَيْكُمُ السَّامُوَاللَّعْنَةُ قَالَتْ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَهْلاً يَا عَائِشَةُإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ ، فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : قَدْ قُلْتُوَعَلَيْكُمْ.

“Dari ‘Urwah bin Zubair bahwa Aisyah r.a.isteri Nabi s.a.w. berkata, ‘Sekelompok orang Yahudi datang menemui Rasulullah,mereka lalu berkata, ‘Assaamualaikum (semoga kecelakaan atasmu)’. Aisyahberkata, ‘Saya memahaminya, maka saya menjawab, “wa’alaikum as-sâm wa al-la’nah(semoga kecelakaan dan laknat tertimpa atas kalian).” “Aisyah berkata,‘Lalu Rasulullah s.a.w. bersabda, ‘Tenanglah wahai Aisyah, sesungguhnya Allahmencintai sikap lemah lembut pada setiap perkara.’ “Saya berkata, ‘WahaiRasulullah! Apakah engkau tidak mendengar apa yang telah mereka katakan?’””Rasulullah s.a.w. menjawab, ‘Saya telah menjawab, ‘Wa’alaikum (dan semogaatas kalian juga).’” [HR al-Bukhari, Shahîhal-Bukhâri, VIII/14, hadits nomor 6024)]

Perhatikanlah, bagaimana Nabi kita walau didoakan dengankejelekan dan isterinya ‘Aisyah r.a. tidak bisa menerima perlakuan itu (tidakrela), beliau tetap menasihati isterinya agar tetap menjaga kelembutan hati,tidak terpancing emosi, serta menghindari kekasaran dan pembalasan yangberlebihan.

Nabi kita juga mengajarkan bagaimana menghadapi kejahilan yang dilakukan seorang Badui yang mengencingi Masjid Nabi, seperti termaktub dalam shahih Bukhari, dari Anas bin Malik bahwa seorang Arab Badui kencing di masjid, lalu orang-orang mendatanginya, maka Rasulullah s.a.w. pun bersabda,”Biarkanlah.” Kemudian, beliau meminta diambilkan air, lalu beliau menyiramnya. Sebagaimana hadits berikut,

عَنْ أَنَسِبْنِ مَالِكٍ أَنَّ أَعْرَابِيًّا بَالَ فِي الْمَسْجِدِفَقَامُوا إِلَيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَاتُزْرِمُوهُ ثُمَّ دَعَا بِدَلْوٍ مِنْ مَاءٍ

فَصُبَّ عَلَيْهِ

“Dari Anas bin Malik bahwa seorang Arab Badui kencing di masjid, lalu orang-orang mendatanginya, maka Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Biarkanlah.” Kemudian beliau meminta diambilkan air lalu beliau menyiramnya.” (HR al-Bukhari, Shahîh al-Bukhâri, VII/14, hadits nomor 6025)

Oleh karena itu, berpijak dari teladan Nabi s.a.w., marilah kita kedepankan sikap lemah lembut, ramah, santun, dan sabar dalam menyelesaikan setiap permasalahan, bukan dengan kekerasan dan pemaksaan.

Kesimpulan:

Ayat ini mengandung pelajaran yang berharga. Sebagai muslim, kita sudah seharusnya menampilkan kelembutan kepada siapa pun. Kalau kepada orang-orang kafir saja –saat ini — kita bisa bersikap lemah lembut, maka sudah seharusnya kita kedepankan sikap lemah lembut itu kepada sesama muslim, agar keutuhan persaudaraan kita terjaga.