Mendung … Itu kata isteri dan anak-anaknya.

Kenapa? Ada yang salah dengan peristiwa ini? Mendung dan hujan, sebagaimana ‘panas’ terik matahari adalah kejadian yang biasa, dan tak perlu disesali. Aku pernah membaca kisan Nabi Ayyub ‘alaihis salam yang ‘diuji kesabarannya’ dengan sakit yang panjang dan melelahkan. Tapi, tak sekecap pun lidahnya mengucapkan keluhan. Ia terima ‘takdir’ dari Allah dengan sikap sabar dan tawakal. Bahkan pada saat ‘hampir semua orang memahaminya sebagai musibah yang tak perlu terjadi pada siapa pun.

Lalu, kenapa kita keluhkan mendung sebagai pertanda ‘akan’ adanya hujan, yang seharusnya kita sikap dengan ‘sewajarnya’. Bahkan selayaknya kita syukuri dengan sikap syukur sebagai hamba Allah yang selalu berhusnu-zhan padaNya.

Ternyata, isteri dan anak-anak Sang Da’i itu mengkhawatirkan akan datangnya hujan yang bisa menghalangi rencana keberangkatan Sang Da’i ke medan jihad. Jihad bil Lisan di sebuah mushalla kecil, menjelang subuh dini hari.

Sang Da’i pun — dengan senyum simpulnya — berucap lirih: “tak ada yang perlu dikhawatirkan”. Allah tak pernah berencana buruk pada hambaNya, apalagi pada hambanya yang tengah berkeinginan untuk menjalankan ketaatan padaNya.

Saat ini, kata Sang Da’i, aku harus segera berangkat dengan membawa payung, hadiah dari seorang ibu, jama’ah pengajian yang hampir selalu hadir dalam setiap acara pengajian yang disampaikan oleh Sang Da’i. Doakan, wahai isteri dan anak-anakku, semoga Allah senantiasa berkenan untuk meridhai langkah-langkahku. Dan semoga keluarga kita selalu ada dalam naungan perlindunganNya. Amien.

Dakwah adalah jalan hidupku, dan insyaallah juga ‘sangat elok’ untuk kita pilih menjadi jalan hidup kita, karena — dalam hidup ini — kita hanya diminta olehNya untuk beribadah dengan ikhlas kepadaNya.

Gunakan semua potensi kita untuk hadir ‘menjemput panggilanNya’, dengan hati yang bersih dan pikiran yang jernih. Agar Dia selalu berkenan untuk memberikan maghfirah dan rahmatNya kepada siapa pun yang ridha untuk beribadah kepadaNya.

Jangan sekali pun mengatakan: “aku lelah untuk berdakwah’. Karena dakwah adalah jalan suci untuk menuju ridhaNya.
Ayolah, isteri dan anak-anakku, kita ringankan langkah-langkah kita untuk berdakwah di jalanNya.
Insyaallah, tak pernah ada yang sia-sia ketika kita langkahkan kaki kita di jalan yang telah dipilihkan olehNya untuk diri kita.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴿٥﴾ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿٦﴾ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ﴿٧﴾

“Hanya Engkaulah yang Kami sembah [Na’budu diambil dari kata ‘ibâdah:kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaranAllah, sebagai Tuhan yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah memunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya], dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan [Nasta’în (mintapertolongan), terambil dari kata isti’ânah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri]. Tunjukilah [Ihdinâ (tunjukilah kami), dari kata hidâyah:memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. Yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekadar memberi hidâyah saja, tetapi juga memberi taufîq (bimbingan).] kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat [Yang dimaksud dengan mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam].” (QS al-Fâtihah/1: 5-7)

Āmîn.

(Catatan Subuh, di ruang tamu, ketika ‘Sang Da’i’ menunggu saat yang tepat untuk segera berangkat menuju mushalla kecil di seberang jalan kampung rumah tinggalnya)