TAKHRÎJUL HADÎTS

TAKHRÎJUL HADÎTS

Salah satu manfaat dari takhrîjul hadîts adalah memberikan informasi bahwa suatu hadits Shahih, hasan, ataupun dha’if, setelah diadakan penelitian dari segi matan maupun sanadnya.

 

A. Pengertian

Kata Takhrîj adalah bentuk masdar dari fi’il madhi Kharraja – Yukharriju – Takhrîjan, yang secara bahasa berarti: “mengeluakan sesuatu dari tempatnya”.

Pengertian takhrîj menurut ahli hadits memiliki tiga (3) macam pengertian, yaitu:

  1. Usaha mencari sanad hadits yang terdapat dalam kitab hadits karya orang lain, yang tidak sama dengan sanad yang terdapat dalam kitab tersebut. Usaha semacam ini dinamakan juga istikhraj. Misalnya seseorang mengambil sebuah hadits dari kitab Jamius Shahih Muslim. kemudian ia mencari sanad hadits tersebut yang berbeda dengan sanad yang telah ditetapkan oleh lmam Muslim.
  2. Suatu keterangan bahwa hadits yang dinukilkan ke dalam kitab susunannya itu terdapat dalam kitab lain yang telah disebutkan nama penyusunnya. Misalnya, penyusun hadits mengakhiri penulisan haditsnya dengan kata-kata: “Akhrajahul Bukhari”, artinya bahwa hadits yang dinukil itu terdapat kitab Jamius Shahih Bukhari. Bila ia mengakhirinya dengan kata Akhrajahul Muslim berarti hadits tersebut terdapat dalam kitab Shahih Muslim.
  3. Suatu usaha mencari derajat, sanad, dan rawi hadits yang tidak diterangkan oleh penyusun atau pengarang suatu kitab.
    Misalnya:
  1. Takhrîj Ahâdîtsil Kasysyâf, karyanya Jamaluddin al-Hanafi adalah suatu kitab yang mengusahakan dan menerangkan derajat hadits yang terdapat dalam kitab Tafsir AI-Kasysyaaf yang oleh pengarangya tidak diterangkan derajat haditsnya, apakah Shahih, hasan, atau lainnya.
  2. Al-Mugny ‘An Hamlil Asfal, karya Abdurrahim al-‘Iraqy, adalah kitab yang menjelaskan derajat-derajat hadits yang terdapat dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali.

B. Manfaat Takhrijul Hadits

Ada beberapa manfaat dari takhrîjul hadîts antara lain sebagai berikut:

  1. Memberikan informasi bahwa suatu hadits termasuk hadits Shahih, hasan, ataupun dha’if, setelah diadakan penelitian dari segi matan maupun sanadnya;
  2. Memberikan kemudahan bagi orang yang mau mengamalkan setelah tahu bahwa suatu hadits adalah hadits makbul (dapat diterima). Dan sebaliknya tidak mengamalkannya apabila diketahui bahwa suatu hadits adalah mardud (tertolak).
  3. Menguatkan keyakinan bahwa suatu hadits adalah benar-benar berasal dari Rasulullah s.a.w. yang harus kita ikuti karena adanya bukti-bukti yang kuat tentang kebenaran hadits tersebut, baik dan segi sanad maupun matan.

C. Kitab-Kitab Yang Diperlukan

Ada beberapa kitab yang diperlukan untuk melakukan takhrîj hadits. Adapun kitab-kitab tersebut antara lain:

1. Hidâyatul Bâri Ilâ Tartîbi Ahâdîtsil Bukhâri

Penyusun kitab ini adalah Abdur Rahman Ambar al–Mishri At-Tahtawi. Kitab ini disusun khusus untuk mencari hadits-hadits yang termuat dalam Shahih AI-Bukhari. Lafal-lafal hadits disusun menurut aturan urutan huruf abjad Arab. Namun hadits-hadits yang dikemukakan secara berulang dalam Shahih Bukhari tidak dimuat secara berulang dalam kamus di atas. Dengan demikian perbedaan lafal dalam matan hadits riwayat Al-Bukhari tidak dapat diketahui lewat kamus tersebut.

2. Mu’jam al-Fâzhi Walâsiyyama al-Gharîbu Minhâ atau Fihrisun Litartîbi Ahâdîtsi Shahîhi Muslim

Kitab tersebut merupakan salah satu juz, yakni juz ke- V dari Kitab Shahih Muslim yang disunting oleh Muhammad Abdul Baqi. Jus V ini merupakan kamus terhadap Jus ke-I -IV yang berisi:

  1. Daftar urutan judul kitab serta nomor hadits dan juz yang memuatnya.
  2. Daftar nama para sahabat Nabi yang meriwayatkan hadits yang termuat dalam Shahih Muslim.
  3. Daftar awal matan hadits dalam bentuk sabda yang tersusun menurut abjad serta diterangkan nomor-nomor hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, bila kebetulan hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Bukhari.

3. Miftâhush Shahîhain

Kitab ini disusun oleh Muhammad Syarif bin Mustafa Al-Tauqiah. Kitab ini dapat digunakan untuk mencari hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Muslim. Akan tetapi hadits-hadits yang dimuat dalam kitab ini hanyalah hadits-hadits yang berupa sabda (qauliyah) saja. Hadis tersebut disusun menurut abjad dari awal lafal hadits lafal matan hadits.

4. Al-Bughyatu fi Tartîbi Ahâdîtsi al-Hilyah

Kitab ini disusun oleh Sayyid Abdul Aziz bin Al-Sayyid Muhammad bin Sayyid Siddiq Al-Qammari. Kitab hadits tersebut memuat dan menerangkan hadits-hadits yang tercantum dalam kitab yang disusun Abu Nuaim Aم-Asabuni (w. 430 H) yang berjudul: Hilyatul auliyai wababaqatul asfiyai. Sejenis dengan kitab tersebut di atas adalah kitab Miftâhut Tartîbi li ahâdîtsi Târîkhil Khathîb, yang disusun oleh Sayyid Ahmad bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Ash-Shiddiq Al-Qammari yang memuat dan menerangkan hadits-hadits yang tercantum dalam kitab sejarah yang disusun oleh Abu Bakar bin Ali bin Subit bin Ahmad AI-Bagdadi yang dikenal dengan AI-Khatib Al- Bagdadi ( w. 463 H). Susunan kitabnya diberi judul Târîkhu Baghdâd, yang terdiri atas 4 jilid
5. Al-Jâmiush Shaghîr

Kitab ini disusun oleh Imam Jalaludin Abdurrahman As-Suyuti (w.91h). Kitab kamus hadits tersebut memuat hadits-hadits yang terhimpun dalam kitab himpunan kutipan hadits yang disusun oleh As-suyuti juga, yakni kitab Jam’ul Jawâmi’.

Hadis yang dimuat dalam kitab Al-Jâmiush Shaghîr disusun berdasarkan urutan abjad dari awal lafal matan hadits. Sebagian dari hadits-hadits itu ada yang ditulis secara lengkap dan ada pula yang ditulis sebagian-sebagian saja, namun telah mengandung pengertian yang cukup.

Kitab hadits tersebut juga menerangkan nama-nama sahabat Nabi yang meriwayatkan hadits yang bersangkutan dan nama-nama Mukharijnya (periwayat hadits yang menghimpun hadits dalam kitabnya). Selain itu, hampir setiap hadits yang dikutip dijelaskan kualitasnya menurut penilaian yang dilakukan atau disetujui oleh As-suyuti.

6. AI-Mujam al-Mufahras li Alfâzhil Hadîts an-Nabawiy

Penyusun kitab ini adalah sebuah tim dari kalangan orientalis. Di antara anggota tim yang paling aktif dalam kegiatan proses penyusunan ialah Dr. Arnold John Wensinck (w.j 939 m), seorang profesor bahasa-bahasa Semit, termasuk bahasa Arab di Universitas Leiden, negeri Belanda.

Kitab ini dimaksudkan untuk mencari hadits berdasarkan petunjuk lafal matan hadits. Berbagai lafal yang disajikan tidak dibatasi hanya lafal-lafal yang berada di tengah dan bagian-bagian lain dari matan hadits. Dengan demikian, kitab Mu’jam mampu memberikan informasi kepada pencari matan dan sanad hadits, asal saja sebagian dari lafal matan yang dicarinya itu telah diketahuinya.

Kitab Mu’jam ini terdiri dari tujuh Juz dan dapat digunakan untuk mencari hadits-hadits yang terdapat dalam sembilan kitab hadits, yakni: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan at-Tirmizi, Sunan an-Nasai, Sunan Ibni Majah, Sunan ad-Darimi, Muwaththa’ Malik, dan Musnad Ahmad.

D. Cara Melaksanakan Takhrijul Hadis

Secara garis besar menakhrij hadits (takhyijul hadits) dapat dibagi menjadi dua cara dengan menggunakan kitab-kitab sebagaimana telah disebutkan di atas. Adapun dua macam cara takhrijul hadits yaitu:

1. Menakhrij hadits telah diketahui awal matannya, maka hadits tersebut dapat dicari atau ditelusuri dalam kitab-kitab kamus hadits dengan dicarikan huruf awal yang sesuai diurutkan dengan abjad.

Contohnya hadits Nabi:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ …

Untuk mengetahui lafal lengkap dari penggalan matan tersebut, langkah yang harus dilakukan adalah menelusuri penggalan matan itu pada urutan awal matan yang memuat penggalan matan yang dimaksud. Ternyata halaman yang ditunjuk memuat penggalan lafal tersebut adalah halaman 2014. Berarti, lafal yang dicari berada pada halaman 20 14 juz IV. Setelah diperiksa, maka diketahuilah bahwa bunyi lengkap matan hadits yang dicari adalah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.

Artinya:
“(Hadis) riwayat Abu Hurairah bahwa Rasullulah bersabda, “(Ukuran) orang yang kuat (perkasa) itu bukanlah dari kekuatan orang itu dalam berkelahi, tetapi yang disebut sebagai orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya tatkala dia marah.”

Apabila hadits tersebut dikutip dalam karya tulis ilmiah, maka sesudah lafal matan dan nama sahabat periwayat hadits yang bersangkutan ditulis, nama Imam Muslim disertakan. Biasanya kalimat yang dipakai adalah:

رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Nama sahabat periwayat hadits dalam contoh di atas adalah Abu Hurairah, dapat pula ditulis sesudah nama Muslim dan tidak ditulis di awal matan. kalimat yang dipakai berbunyi :

رَوَاهُ مُسْلِمٌ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ

Dalam kitab Shahih Muslim dicantumkan di catatan kaki sebagaimana lazimnya.

Kamus yang disusun oleh Muhamad Fuad Abdul Baqi tersebut tidak mengemukakan lafal hadits Nabi yang dalam bentuk selain sabda. bahkan hadits yang berupa sabda pun tidak disebutkan seluruhnya. Contoh:

يَسِّرُوْا وَلاَ تُعَسِّرُوْا … (الحديث)

Lafal hadits tersebut tidak termuat dalam kamus, padahal Shahih Muslim memuatnya dalam juz III halaman 1359, nomor urut hadits 1734. Hadis yang dimuat dalam kamus adalah hadits yang semakna yang terdapat dalam juz dan halaman yang sama dengan nomor urut hadits 1733, lafalnya berbunyi:

يَسِّرُوْا وَلاَ تُعَسِّرُوْا … (الحديث)

2. Menakhrij hadits dengan berdasarkan topik permasalahan (takhrîjul hadîts bil maudhû’i)

Upaya mencari hadits terkadang tidak didasarkan pada lafal matan (materi) hadits, tetapi didasarkan pada topik masalah. Pencarian matan hadits berdasarkan topik masalah sangat menolong pengkaji hadits yang ingin memahami petunjuk-petunjuk hadits dalam segala konteksnya.

Pencarian matan hadits berdasarkan topik masalah tertentu itu dapat ditempuh dengan cara membaca berbagai kitab himpunan kutipan hadits, namun berbagai kitab itu biasanya tidak menunjukkan teks hadits menurut para periwayatnya masing-masing. Padahal untuk memahami topik tertentu tentang petunjuk hadits, diperlukan pengkajian terhadap teks-teks hadits menurut periwayatnya masing-masing. Dengan bantuan kamus hadits tertentu, pengkajian teks dan konteks hadits menurut riwayat dari berbagai periwayat akan mudah dilakukan. Salah satu kamus hadits itu ialah: Miftâhu Kunûzis Sunnah (Untuk empat belas kitab hadits dan kitab tarikh Nabi s.a.w.).

Kitab tersebut merupakan kamus hadits yang disusun berdasarkan topik masalah. Pengarang asli kamus hadits tersebut adalah Dr. A.J. Wensinck (Wafat 1939 M), seorang orientalis yang besar jasanya dalam dunia perkamusan hadits. Sebagaimana telah dibahas dalam uraian terdahulu, Dr. A.J. Wensinck adalah juga penyusun utama kitab kamus hadits: Al-Mu’jam al-Mufahras Lialfâzhil Hadîtsin Nabawiy.

Bahasa asli dari kitab Miftah Kunuzis-Sunnah adalah bahasa Inggris dengan judul a Handbook of Early Muhammadan. Kamus hadits yang berbahasa Inggris tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Arab sebagaimana tercantum di atas oleh Muhamad Fuad Abdul-Baqi. Muhamad Fuad tidak hanya menerjemahkan saja, tetapi juga mengoreksi berbagai data yang salah.

Naskah yang berbahasa inggris diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1927 dan terjemahannya pada tahun 1934.

Dalam kamus hadits tersebut dikemukakan berbagai topik, baik. yang berkenaan dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan petunjuk Nabi maupun yang berkenaan dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan nama. Untuk setiap topik biasanya disertakan beberapa subtopik, dan untuk setiap subtopik dikemukakan data hadits dan kitab yang menjelaskannya. Berarti, lafal yang dicari berada pada halaman 2014 juz IV. Setelah diperiksa, maka diketahuilah bahwa bunyi lengkap matan hadits yang dicari adalah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.

Artinya:
“(Hadis) riwayat Abu Hurairah bahwa Rasullulah SAW bersabda, “(Ukuran) orang yang kuat (perkasa) itu bukanlah dari kekuatan orang itu dalam berkelahi, tetapi yang disebut sebagai orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya tatkala dia marah.”

Jika hadits tersebut dikutip dalam karya tulis ilmiah, maka sesudah ditulis lafal matan dan nama sahabat periwayat hadits yang bersangkutan, disertakan nama Imam Muslim. Biasanya kalimat yang dipakai adalah:

 عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ  رَوَاه ُ مُسْلِمٌ

Nama sahabat periwayat hadits, dalam contoh di atas adalah Abu Hurairah, dapat pula ditulis sesudah nama Muslim dan tidak ditulis di awal matan.

Dalam hal ini, kalimat yang dipakai dapat berbunyi:

رَوَاه ُ مُسْلِمٌ عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ

Dalam kitab Shahih Muslim dicantumkan di catatan kaki sebagaimana lazimnya. Kamus yang disusun oleh Muhammad Fuad Abdul-Baqi tersebut tidak mengemukakan lafal hadits Nabi yang dalam bentuk selain sabda. Bahkan hadits yang berupa sabda pun tidak seluruhnya dimuat. Salah satu contohnya ialah lafal hadits yang berbunyi:

يَسِّرُوْا وَلاَ تُعَسِّرُوْا … (الحديث)

Lafal hadits tersebut tidak termuat dalam kamus, padahal Shahih Muslim memuatnya di juz III halaman 1359, nomor urut hadits: 1734. Lafal yang dimuat dalam kamus adalah hadits yang semakna yang terdapat dalam juz dan halaman yang sama, dengan nomor urut hadits 1733. Lafal itu berbunyi:

يَسِّرُوْا وَلاَ تُعَسِّرُوْا … (الحديث)

Penggalan hadits nomor 1631 merupakan contoh juga dari matan hadits yang tidak termuat dalam kamus itu.

Kitab-kitab yang menjadi rujukan kamus tidak hanya kitab-kitab hadits saja, tetapi juga kitab-kitab sejarah (tarikh) Nabi. Jumlah kitab rujukan itu ada empat belas kitab, yakni:

  • مُوَطَّأُ مَالِكٍ
  • صَحِيْحُ الْبُخَارِى
  • مُسْنَدُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ
  • صَحِيْحُ مُسْلِمٍ
  • مُسْنَدُ أَبِى دَاوُدَ الطَيَالِسِى
  • سُنَنُ أَبِى دَاوُدَ
  • مُسْنَدُ زَيْدِ بْنِ عَلِيٍّ
  • سُنَنُ التِّرْمِذِى
  • سِيْرَةُ ابْنِ هِشَامٍ
  • سُنَنُ النَّسَائِى
  • مَغَازِى الْوَاقِدِى
  • سُنَنُ ابْنِ مَاجَهْ
  • طَبَقَاتِ ابْنِ سَعْدٍ
  • سُنَنُ الدَّارِمِى

Dalam kamus, llama dan beberapa hal yang berhubungan dengan kitab-kitab tersebut dikemukakan dalam bentuk lambang. Contoh berbagai lambang yang dipakai dalam kamus hadits Miftah Kunuzis-Sunnah, yaitu:

أول

Juz Pertama (Awal)

ب

Bab

بخ

Shahîh al-Bukhâri

بد

Sunan Abî Dâwud

تر

Sunan at-Tirmidzi

ثالث

Juz Ketiga

ثان

Juz Kedua

ج

Juz

ح

Hadits

حم

Musnad Ahmad

خامس

Juz Kelima

رابع

Juz Keempat

ز

Musnad Zaid bin Ali

سادس

Juz Keenam

ص

Halaman (Safhah)

ط

Musnad Abî Dâwud Ath-Thayâlisi

عد

Tabaqât Ibni Sa’ad

ق

Bagian Kitab (Qismul-Kitâb)

قا

Konfirmasikan data yang sebelumnya dengan data yang sesudahnya

قد

Maghazî al-Wâqidi

ك

Kitab (dalam arti bagian)

ما

Muwaththa’ Mâlik

مج

Sunan Ibni Mâjah

مس

Shahîh Muslim

م م م

Hadis terulang beberapa kali

مي

Sunan ad-Dârimi

نس

Sunan an-Nasâi

هش

Sîrah Ibni Hisyâm

Angka kecil yang berada di sebelah kiri bagian atas dari angka Yang umum = hadits yang bersangkutan termuat sebanyak angka kecil itu pada halaman atau bab yang angkanya disertai dengan angka kecil tersebut.

Setiap halaman kamus terbagi dalam tiga kolom. Setiap kolom memuat topik; Setiap topik biasanya mengandung beberapa subtopik; dan pada setiap subtopik dikemukakan data kitab yang memuat hadits yang bersangkutan. Cara penggunaannya seperti berbagai hadits yang dicari adalah yang memberi petunjuk tentang pemenuhan nazar: Dengan demikian, topik Yang dicari dalam kamus adalah topik tentang nazar.

Dalam kamus (Miftâh Kunûzis-Sunnah) terbitan Lahore (pakistan), topik nadzar termuat di halaman 497, kolom ketiga. Topik tersebut mengandung empat belas subtopik. Subtopik Yang dicari berada pada urutan kedua belas, di halaman 498, kolom ketiga. Data Yang tercantum dalam subtopik tersebut adalah sebagai berikut :

  • الأَمْرُ بِالْوَفَاءِ بِالنَّذْرِ =
  • بد : ك ٢۱  ب  ٢٢
  • مج : ك ۱۱ ب  ۱٨
  • مى : ك ۱٤ ب ۱
  • ما : ك ٢٢ ب ٣
  • حم : ثان ص ۱٥٩، ثالث ص ٤۱٩.
  • سادس ٢٦٦

Dengan memahami kembali maksud lambang-lambang yang telah dikemukakan dalam uraian sebelumnya, maka dapat diketahui bahwa maksud data di atas ialah:

  1. Sunan Abî Dâwud, nomor urut kitab (bagian): 21; nomor urut bab: 22.
  2. Sunan lbni Mâjah, nomor urut kitab (bagian): 11;nomor utut bab: 18.
  3. Sunan ad-Dârimi, nomor urut kitab (bagian): 14; nomor urut bab: 1.
  4. Muwaththa’ Mâlik, nomor urut kitab (bagian): 22 nomor urut bab: 3.
  5. Musnad Ahmad, juz ll, halaman 159; juz lII, halaman 419; dan juz VI, halaman 266 ( dalam halaman itu, hadits dimaksud dimuat dua kali) .

Setelah data diperoleh, maka hadits yang dicari, yakni dalam hal ini hadits yang membahas pemenuhan nazar diperiksa pada kelima kitab hadits di atas. Judul-judul kitab (dalam arti bagian) yang ditunjuk dalam data di atas dapat diperiksa pada daftar nama kitab (dalam arti bagian) yang termuat pada Bab IV tulisan ini untuk masing-masing kitab hadits yang bersangkutan.

Apabila yang dicari, misalnya berbagai hadits Nabi tentang tata cara salat malam yang dilakukan Nabi pada bulan Ramadan, maka topik yang dicari dalam kamus adalah topik Ramadan. Topik tersebut ada di halaman 211, kolom ketiga. Subtopik untuk Ramadan ada dua puluh satu macam. Subtopik yang dicari berada pada urutan subtopik keenam dan terletak di halaman 212, kolom kedua (tengah). Data yang dikemukakan adalah :

  • صَلاَةُ النَّبِيِّ . فِى اللَّيْلِ فِى رَمَضَانَ
  • بخ : ك ۱٩ ب ۱٦ : ك ٣۱
  • مس : ك ٦ ح ۱٢٥
  • تر : ك ٢ ب ۱٠٧
  • نس : ك ٢٠ ب ۱٧ و ٣٦
  • بد : ك ٥ ب ٢٦
  • حم : أول ص ٩٨، خامس ص ۱٥٩ وَ
  • ۱٦٣ و ۱٧٢ ، سادس ص ٢٦ و ٢٩ قا ۱٠٤

Dengan memeriksa lambing-lambang yang telah dikemukanan dalam pembahasan terlebih dahulu, maka data tersebut dapat dipahami maksudnya. Sesudah itu lalu diperiksa hadits-hadits yang termuat dalam keenam kitab hadits tersebut, yakni dalam Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan At-Turmuzi, Sunan Abu Daud, Sunan An-Nasai dan Musnad Ahmad.

Sekiranya topik yang dikaji berkaitan dengan nama orang, misalnya Abu Jahal, maka nama tersebut ditelusuri dalam kamus. Nama Abu Jahal ternyata terletak di halaman l5 kolom kedua, subtopiknya ada empat macam. Data untuk subtopik yang pertama, misalnya berbunyi sebagai berikut:

سُوْءُ مُعَامَلَتِهِ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ

(Keburukan tingkah laku Abu Jahal terhadap Nabi SAW(

  • مس : ك ٥٠ ح ٢٨
  • حم : ثن ص ٣٧٠
  • هش : ص ۱٨٤

Dengan demikian untuk mengetahui keburukan tingkah laku AbuJahal kepada Nabi Muhamad, dapat diperiksa hadits-hadits yang termuat dalam:

  1. Shahîh Muslim, nomor urut kitab (bagian): 50; pada nomor urut hadits: 28
  2. Musnad Ahmad, juz II, halaman 370. Data tersebut agar dikonfirmasikan dengan data yang dikemukakan sebelumnya dan sesudahnya.
  3. Sîrah Ibni Hisyâm, halaman 184.

Untuk memperlancar pencarian hadits berdasarkan topik tersebut, perlu dilakukan praktek pencarian hadits berdasarkan data yang dikemukakan oleh kamus. Perlu ditegaskan bahwa berbagai hadits yang ditunjuk oleh kamus Miftâhu Kunûzis Sunnah belum dijelaskan kualitasnya. Untuk mengetahui kualitasnya diperlukan penelitian tersendiri.

(Dikutip dan diselaraskan dari beberapa situs internet untuk kepentingan diskusi tentang Metode Kritik Hadis di Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)

Tags: