Tegakkan Keadilan Kepada Siapa pun

(Pesan Moral Kepada Siapa pun Yang Masih Memiliki Hati Nurani)

Prolog

Tidak dapat dipungkiri, al-Quran meningkatkan  sisi  keadilan dalam   kehidupan   manusia,   baik   secara  kolektif  maupun individual.  Karenanya,  dengan  mudah  kita  lalu  dihinggapi semacam  rasa  cepat  puas diri sebagai pribadi-pribadi Muslim dengan  temuan  yang  mudah  diperoleh  secara  gamblang  itu. Sebagai  hasil  lanjutan  dari rasa puas diri itu, lalu muncul idealisme atas al-Quran sebagai sumber pemikiran paling  baik tentang  keadilan.  Kebetulan  persepsi  semacam  itu  sejalan dengan doktrin keimanan Islam sendiri  tentang  Allah  sebagai Tuhan  Yang  Maha  Adil.  Bukankah  kalau Allah sebagai sumber keadilan itu sendiri, lalu sudah  sepantasnya  al-Quran  yang  menjadi   firmanNya   (Kalâmullâh)  juga  menjadi  sumber pemikiran tentang keadilan?

Seruan ‘Keadilan’

Islam – sebagai ad-Dîn al-Qayyim (agama yang lurus) — menyeru setap manusia untuk menegakkan keadilan dalam setiap sikap dan perbuatan. Rasul-rasul pun – misalnya — diutus ke tengah kaum atau bangsanya juga untuk menegakkan keadilan. Nabi Musa a.s., misalnya, diutus Allah untuk membasmi kezaliman Fir’aun. Nabi Ibrahim a.s. diutus untukmenegakkan keadilan terhadap Raja Namrud yang memerlakukan bangsa Babilonia dengan sesuka hatinya.

Begitu pula Nabi Muhammad s.a.w.,  Nabi yang terakhir ini diutus kepada bangsa Arab untuk menegakkan keadilan di tengah kezaliman dan kejahiliyahan bangsa Arab ketika itu. Menurut ajaran Islam, “keadilan” berarti memberikan satu ketentuan (hukum) yang tidak menyimpang dari kebenaraan. Berdasarkan pengertian umum, keadilan adalah bertindak sama atau serupa. Lawan dari keadilan adalah kezaliman. Seruan menegakkan keadilan harus terwujud di tengah masyarakat. Keadilan mesti ditegakkan dalam segala bidang kehidupan, baik sosial, ekonomi, maupun kehidupan politik.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. jika ia [tergugat atau terdakwa] kaya atau pun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” (QS an-Nisâ’/4: 135).

Seorang ulama berkata, “Keadilan adalah sendi negara. Tidak akan kekal suatu kekuasaan tanpa menegakkan keadilan. Kalau tak ada hukum yang adil, maka orang akan hidup dalam anarki, tidak punya sandaran dan pegangan.” Seorang ahli hikmah mengatakan, “Keadilan seorang penguasa terhadap rakyatnya mestilah dengan empat perkara, yaitu dengan menempuh jalan yang mudah, meninggalkan cara yang sulit dan menyulitkan, menjauhkan kesewenang-wenangan, dan menegakkan kebenaran dalam perilakunya”.

”Menegakkan keadilan harus dengan secara mutlak dan menyeluruh. Tidak karena sebab sesuatu, keadilan itu berubah fungsi. Jangan karena perbedaan kedudukan, golongan, dan keadaan sosial mengakibatkan perlakuan keadilan itu tidak sama”.

Firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Mâidah/5: 8).

Dalam Islam kedudukan rakyat dan pemerintah adalah sama, karena ia merupakan pengokoh suatu masyarakat yang menginginkan kesempurnaan.

Nabi Muhammad s.a.w. pernah berkata kepada Usman bin Zaid bahwa kehancuran pemerintahan dahulu karena mereka menjalankan hukuman berat sebelah. Mereka ‘cuma’ memberi dan menjatuhkan hukuman terhadap rakyat kecil, sedangkan pencuri dari kalangan atas mereka diamkan saja dan biarkan terus.

Sebagaimana hadits berikut:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ الْمَرْأَةِ الْمَخْزُومِيَّةِ الَّتِي سَرَقَتْ فَقَالُوا مَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلَّا أُسَامَةُ حِبُّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

“Dari ‘Aisyah, bahwa orang-orang Quraisy merasa kebingungan dengan masalah seorang wanita Makhzumiyah yang ketahuan mencuri, lalu mereka berkata, “Siapakah yang kiranya berani membicarakan hal ini kepada Rasulullah s.a.w.?” Maka mereka mengusulkan, “Tidak ada yang berani melakukan hal ini kecuali Usamah, seorang yang dicintai oleh Rasulullah s.a.w..” Sesaat kemudian, Usamah mengadukan hal itu kepada beliau, maka Rasulullah s.a.w. bersabda: “Apakah kamu hendak memberi syafa’at (keringanan) dalam hukum dari hukum-hukum Allah?” Kemudian beliau berdiri dan berkhutbah, sabdanya: “Wahai sekalian manusia, hanyasanya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah: ketika orang-orang terpandang mereka mencuri, mereka membiarkannya (tidak menghukum), sementara jika orang-orang yang rendahan (rakyat kecil) dari mereka mencuri mereka menegakkan hukuman had. Demi Allah, sekiranya Fathimah binti Muhammad mencuri, sungguh aku sendiri yang akan memotong tangannya.” (HR al-Bukhari, Shahîh al-Bukhâriy, IV/213, hadits nomor 3475 dan HR Muslim dari ‘Aisyah r.a., Shahîh Muslim, V/114, hadits nomor 4506; lafazh hadits tersebut dari Muslim)

Mulai Dari Mana?

Tuntutan berbuat adil haruslah dimulai dari diri sendiri, rumah tangga, dan lingkungan. Adil terhadap anak, misalnya, dengan memberikan nafkah, pendidikan, dan keperluan lainnya. Dalam menegakkan keadilan tidak saja diperintah ‘hanya’ terhadap kawan, teman seperjuangan atau seprofesi. Terhadap lawan pun, keadilan harus tetap ditegakkan.

Al-Quran menjelaskan:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS an-Nahl/16: 90).

فَلِذَلِكَ فَادْعُ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءهُمْ وَقُلْ آمَنتُ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِن كِتَابٍ وَأُمِرْتُ لأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ اللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ لا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ اللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

“Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah [Maksudnya: tetaplah dalam agama dan lanjutkanlah berdakwah] sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: “Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan  Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan Kami dan Tuhan kamu. bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita)”. (QS as-Syûrâ/42: 15).

Epilog

Setelah mencermati tulisan di atas, diperlukan kajian-kajian lebih   lanjut tentang peta permasalahan seperti dikemukakan di atas, namun  jelas  sekali bahwa visi keadilan yang ada dalam al-Quran dewasa ini harus direntang  sedemikian jauh, kalau diinginkan  relevansi berjangka  panjang dari wawasan itu sendiri. Jelas, masalahnya lalu menjadi rumit dan  memerlukan  refleksi  filosofis,  di samping    kejujuran    intelektual    yang    tinggi untuk merampungkannya secara kolektif. Masalahnya, masih  punyakah umat  Islam  kejujuran  intelektual  seperti  itu, atau memang sudah tercebur semuanya dalam pelarian sloganistik dan “kerangka  operasionalisasi”  serba terbatas, sebagai pelarian yang manis?

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
AR-SA

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Syahrum HH, Jumat, 16 Juli 2004, dengan judul “Menegakkan Keadilan”, dalam http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=166600&kat_id=14&kat_id1=&kat_id2=)raskan dari tulisan Syahrum HH, Jumat, 16 Juli 2004, dengan judul “Menegakkan Keadilan”, dalam