Termuliakan dengan Menjadi Sang Pemaaf

Oleh: Muhsin Hariyanto

Dalam konteks ‘maaf’, al-Quran — sebagaimana penjelasan banyak para mufasir — lebih banyak mengungkapkan perintah untuk memberi daripada meminta. Sebagai sampelnya adalah ungkapan yang ada dalam QS al-A’râf, 7: 199,

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah engkau pribadi pema’af dan perintahkanlah [kepada setiap orang] untuk mengerjakan sesuatu yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh”.

Kata ‘maaf’ di dalam ayat di atas disebut dengan redaksi “khudzil ‘afwa”, yang bermakna perintah kepada setiap pribadi untuk menghapus luka atau bekas-bekas luka yang terdapat dalam hati sebagai akibat dari kesalahan yang telah dilakukan oleh siapa pun, bahkan oleh dirinya sendiri. Dengan memaafkan kesalahan kepada siapa pun, berarti interaksi intrapersonal, interpersonal dan sosial antarmanusia yang pernah bermasalah, bisa kembali menjadi baik dan harmonis karena ‘luka’ yang ada di dalam hati mereka, utamanya, yang berkesediaan untuk memaafkan, benar-benar akan sembuh sebagai akibat dari terhapusnya luka oleh obat-luka yang cukup efektif untuk menyembuhkannya.

Dalam wacana spiritualitas Islam, dinyatakan bahwa al-Quran benar-benar mendorong setiap muslim untuk memiliki “sikap pemaaf”. Sikap inilah yang oleh al-Quran diidentifikasi menjadi salah satu ciri ketakwaan seseorang, sebagaimana firman Allah dalam QS Âli ‘Imrân, 3: 134,

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Salah satu indikator ketakwaan seseorang ialah: “kesediaan dan kemampuan untuk memaafkan (kesalahan) orang”, yang dalam ayat tersebut dinyatakan dengan rangkaian kata: “al-‘âfîna ‘anin nâs”, yang bermakna: “orang-orang yang memiliki sikap pemaaf terhadap semua orang”.

Setiap muslim seharusnya menyadari bahwa sikap pemaaf adalah sebuah sikap yang tidak hanya akan menguntungkan orang lain, tetapi juga menguntungkan dirinya sendiri, utamanya – bagi dirinya – adalah: “menciptakan ketenangan dan kelapangan hati, yang dengan cara melepaskan sikap benci dan dendam terhadap siapa pun yang pernah berbuat salah kepadanya, jiwanya akan menjadi tenang dan tenteram”.

Seorang muslim selayaknya menyadari bahwa sikap benci dan dendam yang tidak terlupakan justeru akan menjadi beban bagi dirinya. Kedua sikap ini merupakan penyakit hati yang bukan saja berbahaya bagi orang lain, tetapi lebih berbahaya bagi diri sendiri, karena kebencian dan dendam selalu akan memberikan efek kegelisahan dan tekanan batin, yang tentu saja akan berdampak negatif bagi orang yang bersangkutan. Hanya orang-orang jâhil (bersikap bodoh)-lah yang tidak berkemauan untuk mengeyahkan kebencian dan dendam yang ada pada dirinya dan enggan untuk memiliki sikap pemaaf. Dalam hal ini, Allah pun pernah mengingatkan kepada diri kita, sebagaimana firmanNya dalam QS al-Baqarah, 2: 263,

قَوْلٌ مَّعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّن صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى ۗ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyatun.”

Bahkan, dalam pandangan para ulama, seorang muslim bukan hanya dituntut untuk sekadar memberikan maaf. Sebagai manusia – dalam konteks hablun minannâs — juga diperintahkan untuk berbuat baik kepada siapa pun yang pernah berbuat salah kepadanya. Setiap orang yang berkemauan dan bermampuan untuk berbuat baik kepada orang yang pernah berbuat salah kepada dirinya akan mendapat kedudukan tinggi, pujian dan pahala yang baik dari Allah, sebagaimana firmanNya dalam QS asy-Syûrâ, 42: 40:

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.”

Akhirnya, dengan memahami spirit QS al-Fajr, 89: 27-30,

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨﴾ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ﴿٢٩﴾ وَادْخُلِي جَنَّتِي ﴿٣٠﴾

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surga-Ku”, yang perlu selalu diingat: “upayakan agar sikap pemaaf yang pernah kita bangun di dalam diri kita selayaknya selalu melekat pada diri kita. Jadikankah sikap pemaaf itu sebagai pijakan awal bagi diri kita untuk menjadi insan mulia, yang selalu hadir di mana dan kapan pun dengan akhlak terpuji”. Dengan modal dasar “sikap pemaaf” yang telah kita miliki, semoga diri kita benar-benar menjadi pribadi yang selalu berkemauan dan berkemampuan untuk mencintai dan – dampak positifnya – menjadi seseorang yang dicintai oleh Allah. Selanjutnya, bias positifnya adalah: “menjadi pribadi yang berkemauan dan berkemampuan untuk mencintai siapa pun, sehingga – konsekuensi positifnya — dicintai oleh setiap makhluk Allah. Karena, dengan bekal sikap pemaaf, diri kita akan menjadi orang yang selalu termotivasi untuk beribadah Allah dan membangun silaturahim antarsesama makhluk Allah dengan hati yang tenang dan lapang”.

Penulis adalah Dosen Tetap Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Dosen Tidak Tetap STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta

(Tulisan ini ielah diterbitkan dalam rubrik “Bina Akhlak”, Majalah Suara Muhammadiyah, Edisi 15/98/1-16 Agustus 2013. Dan sebagai catatan, pada naskah yang diterbitkan telah terjadi kesalahan dalam penulisan nomor ayat. Tertulis QS al-A’râf, 7: 119, seharusnya QS al-A’râf, 7: 199. Oleh karenanya penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada para pembaca dan – juga khususnya – kepada redaksi Suara Muhammadiyah)