Tersesat di Jalan yang Benar: “Ungkapan Klise Saya yang Berulang-ulang”

Tersesat di Jalan yang Benar: “Ungkapan Klise Saya yang Berulang-ulang”

“Saay ini saya katakana dengan dengan tegas, bahwa saya telah “Tersesat di Jalan yang Benar”. Itulah jawaban yang seringkali saya utarakan ketika ditanya banyak orang kenapa saya,  sarjana Jurusan Perdata-Pidana Islam, Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, kemudian malah terjun di dunia dakwah, “bil lisân, bil qalam dan bil hâl” dan merintis jalan untuk menjadi ‘pendidik yang berkemauan dan berkemamuan untuk mendidik dengan sepenuh hati’.  Jawaban serupa saya sampaikan kepada kolega saya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta: “Saya tersesat di jalan yang benar,” kata saya sambil tersenyum. Tentu ini jawaban paradoks:  “mana ada tersesat kok di jalan yang benar!”

Namun,  itulah yang sesungguhnya terjadi. Dulu, setelah lulus dari Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah Ngupasan Yogyakarta, saya tidak punya cita-cita yang jelas. Kata bapal-ibu dan kakek saya, saya harus sekolah di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta (Kebetulan Bapak-Ibu saya alumn kedua sekolah tersebut). Setelah lulus dari Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta saya diajak oleh salah seorang guru saya dan juga teman-teman saya ke Donggala (Sulteng), dn hampir saja berangkat untuk berlatih ntuk menjai Mujahid Dakwah. Tetapi, barangkali karena kemurahan Allahlah, tiba-tiba Pakde Saya (Allahu Yarham) “Pah Ahmad Azhar Basyir, melarang saya untuk segera pergi ke luar Jawa dan memberikan saran agar saya ‘kuliah dulu’.

Dengan segala keterbatasan saya (dengan hanya  erbekal uang Rp 5.000,-) saya mendaftar ke IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dan – ringkasnya – saya bersama ketiga teman saya dari Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta dietrima di Fakultas Syar’ah IAIN Sunan Kalijaga.

Perguruan Tinggi (PT) tersebut adalah persinggahan berikutnya setelah selama enam tahun saya dididik di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta. PT yang saya anggap ‘paling cocok’ waktu itu bagi diri saya untuk mejnajdi persinggahan ideal, dan jurusan yang paling pas dengan minat saya, “Belajar Fiqih”.

Ringkas cerita, sesungguhnya saya tidak terlalu bodoh. Namun fakta menunjukkan, bahwa saya lulus dari Jurusan Jurusan Perdata-Pidana Islam, Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan nilai ‘pas-pasan’, saya diwisuda. Itu pun setelah menghabiskan waktu enam setengah tahun, selisih 1 tahun dari waktu normal pada waktu itu. Tidak perlu saya cari berbagai alasan, termasuk harus membiayai sendiri kuliah dan mencari sesuap nasi untuk kehidupan sehari-hari dengan berkerja apa-saja (yang penting halal), saya dinyatakan menjadi sarjana. Bapak-Ibu saya saya undang untuk hadir di acara wisuda, tanpa persiapan yang memadai. Jangan bertanya: “pakai kendaraan apa?” Waktu itu saya pakai “sepeda onthel pemberian bapak saya” dan Bapak-Ibu saya datang dengan kendaraan umum Jogja-Solo. Dan almdulillah, Mas Darodjat Ariyanto (Sekarang Dosen UM Surakarta), sempat memotret kami (Saya dan Bapak-Ibu) dengan kameranya, dan hasil cetaknya diberikan kepada diri saya dengan ‘Cuma-Cuma’ (gratis). Dan jangan sekali-kali bertanya kepada saya: “kenapa nggak bawa kamera sendiri?”. Jangankan kamera, celana panjang yang saya pakai sewaktu wisuda pun adalah celana panjang yang saya jahit ulang karena di beberapa sisinya sudah robek. Saya tak berkesempatan membeli yang baru, karena benar-benar nggak punya uang.

Tentu saja, dengan nilai akademis serendah itu, bekerja di lembaga pendidikan bergengsi atau lembaga sejenis, adalah sesuatu yang mustahil. Maka terjunlah saya ke dunia dakwah dan tulis menulis, sesuatu yang amat saya sukai sejak kuliah.  Sepekan sekali, seusai kuliah, saya coba menulis artikel ilmiah populer.  Meski nilai akademis rendah, saya bisa menulis ilmiah populer materi-materi kuliah mengenai persoalan agama dan persoalan sosial-kemasyarakatan yang tanpa edit ulang dimuat di berbagai media cetak. Antara lain, dari aktivitas menulis (di samping menjadi tukang ketik skripsi dan paper) itulah saya membiayai hidup dan kuliah di IAUN Suka Jogjakarta.

Dalam tempo cepat akhirnya saya ditarik menjadi pembantu setia pak Djazman Al-Kindi di PP Muhammadiyah Majelis Diktilitbang Yogyakarta bersama (Allahu yarham) Pak Rusli Karim (Dosen IKIP Negeri Yogyakarta. Sekarang UNY), dimininta mengajar di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta, dan  dipanggil untuk menjadi dosen Fakultas Agama Islam Jurusan Dakwah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Tak lama kemudian saya juga dipercaya untuk menjadi PD III dan Dekan FAI –UMY, setelah menyelesaikan kuiah S-2 di IAIN Suka.

Menulis dan berceramah adalah pekerjaan rutin saya, di samping mengajar di UM Yogyakarta, STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta, PUTM dan Pondok Pesantren Budi Mulia Yogyakarta dan beberapa lembaga pendidikan yang lain.

Jalan berliku sejak SD hingga sekarang dan bekerja sebagai dosen plus mubaligh dan penukis tetap di Majalah Suara Muhammadiyah hingga sekarang ini hingga perjuangan sauya untuk menyelesaikan penulisan disertasi doctor saya yang masih terbengkelai karena pelbagai keterbatasan saya, merupakan proses yang harus saya lalui dan harus saya nikmati dengan sikap syukur dan sabar, yang berujung pada sebuah kesimpulan: “saya sudah berada di jalur yang benar”. Bukan berarti jalur yang dulu itu tidak benar.  Tanpa jalur yang dulu, belum tentu saya sampai ke titik sekarang. Itu sebabnya saya sering berkelakar, “saya telah tersesat di jalan yang benar. “Tersesat” dari tidak punya cita-cita sejak SD dan latar belakang pendidikan yang ‘kurang’ nyambung dengan pekerjaan yang saya geluti, menuju titik yang sekarang, sebagai “Dai Kampung”, yang tetap ingin maju, yang insyaallah “tidak kampungan”.

Apa boleh buat, akhirnya saya simpulkan: “tidak penting apa latar belakang pendidikan saya, yang jauh lebih penting adalah dapat menjadi apa diri saya dengan segala bakat dan minat saya”.

Inilah yang sering saya ceriterakan kepada isteri saya, anak-anak saya dan siapa pun yang mau mendengar omongan saya, yang kadang-kadang dianggap tidak bermutu oleh banyak orang yang tak mau berempati.

Saya – hingga detik ini – berharap, mudah-mudahan pengalaman hidup saya ini tidak hanya bermakna bagi diri saya, tetapi bagi siapa pun yang mau memahami arti hidup dengan segala tantangannya.

Nashrun Minallâh wa Fathun Qarîb.

Tags: