Tips Tulisan Dimuat Rubrik Hikmah Republika

Kali ini saya akan nulis tips bagaimana nulis di Rubrik Hikmah Republika. Namun, sebelumnya ada baiknya dijelaskan dulu secara sederhana apa itu kolom Hikmah Republika? Secara umum, dan idealnya, di setiap media massa cetak selalu disisihkan (disediakan) ruang untuk kontributor luar (maksudnya penulis lepas yang bukan wartawan media bersangkutan). Nah, ruang-ruang itu macam-macam. Ada yang hanya menyediakan kolom opini (penamaan kolom ini berbeda antara media satu dengan yang lain, ada yang menamainya dengan “opini” seperti Kompas, Media Indonesia, SINDO, dsb, “gagasan” seperti Koran Jakarta, “Wacana” seperti kelompoknya Jawa Pos = Radar Tasikmalaya, Radar Banten, Sumedang Express, dan “Radar-radar” lainnya).

Selain opini, ada ruang lain yang bisa diisi oleh kontributor luar. Seperti misal, Republika selain punya kolom opini, ada dua bahkan tiga kolom lain; Analisis (biasanya penulisnya dipesan karena ke-expert-annya), Resonansi (sama halnya dengan Analisis, kolom ini ditulis oleh penulis “kawakan dan pakar” seperti Buya Syafii Ma’arif, Prof. Azyumardi Azra, Zaim Uchrowi), dan Hikmah sendiri yang kali ini sedang dibahas.

Untuk rubrik Hikmah ini, bisa dikatakan merupakan yang paling mudah untuk dimasuki para penulis awal (pemula). Mengapa? Sebab untuk menjadi penulis “Hikmah” tak memerlukan keahlian atau “posisi penulis” laiknya di kolom lain, seperti opini. Intinya, siapapun, asalkan tulisannya cocok dan sudah dianggap layak oleh redaktur maka bukan mustahil akan dimuat.

10 Poin
Oke, langsung saja kita bahas ya. Ada beberapa poin yang mesti diperhatikan apabila seseorang tulisannya ingin dimuat rubrik Hikmah Republika (meskipun sekali lagi bukan jaminan).

Pertama, sama dengan model tulisan lainnya, yakni langkah pertama perlunya memerhatikan tema tulisan yang diangkat. Hal ini urgen karena berhubungan dengan hal-hal seperti: apakah tema yang kita sodorkan telah sesuai dengan keinginan redaktur dan kebijakan Republika sendiri? Misalkan, tulisan tersebut tak bersifat memprovokasi, tidak menyangkut SARA, tak mengadu domba ummat, dsb.

Kemudian juga, adakalanya tema yang kita angkat sedang hangat diperbincangkan khalayak atau tidak? Memang tak ada jaminannya, namun dengan mengangkat tema yang sedang diperbincangkan publik kemungkinan dimuatnya lebih besar ketimbang mengangkat tema yang sudah berlalu sebulan, setahun, atau puluhan tahun lalu. Kecuali tema tersebut berkaitan dengan sejarah Nabi, para syuhada, kisah malaikat, jin, dsb yang tentu sampai kapanpun akan tetap relevan.

Misalnya: tulisan yang mengambil tema relevan: “Kuasa dan Moral” (Republika, 14/7) yang ditulis Dr. A. Ilyas Ismail. Isinya tentu bisa ditebak, membahas mengenai kekuasaan yang mesti dibarengi dengan kekuatan moral karena kuasa tanpa moral akan menciptakan malapetaka bagi kehidupan suatu bangsa. Untuk tulisan yang membahas tema yang bisa dikatakan selalu relevan sepanjang masa, seperti tulisan: “Rendah Hati” (Republika, 19/07) yang ditulis Ustaz Samson Rahman. Karena sampai kapanpun, agama secara normatif selalu mengajarkan umatnya untuk senantiasa berlau rendah hati. Contoh judul-judul sepanjang masa lainnya: bekas sujud, jangan salah berdoa, dsb.

Oia, untuk kategori tema “sepanjang masa” ini, ada kemungkinan Anda bisa mengangkatnya lagi di kemudian hari dengan gaya penuturan, konteks tema, maupun kandungan ayat yang berbeda dengan tulisan sebelumnya. Namun, jangan harap dalam hal ini Anda bisa mengelabui redaktur karena “bank data” mereka begitu lengkap ihwal tulisan-tulisan yang sudah dimuat, penulisnya siapa, dan kapan waktu pemuatannya.

Kedua, membedah tema yang diangkat dan sebisa mungkin merelevansikannya dengan al-Quran, hadist Nabi, keterangan para ulama, dst. Perlu diingat, Republika merupakan medianya orang muslim. Jadi redaktur akan lebih memprioritaskan tulisan yang didalamnya terkandung teks suci dari al-Quran dan hadis (meskipun ada juga tulisan yang dimuat yang tak mengandung teks ayat suci, namun itu pengecualian karena jumlahnya sangat sedikit).

Berikut contoh tulisannya: “Dalam Alquran, Allah SWT berkali-kali mengingatkan umat manusia untuk tidak menyombongkan dirinya. Sebab, perbuatan sombong dan angkuh (tidak rendah hati), akan mencelakakan dirinya sendiri. “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Luqman [31]: 18).

Ketiga, buatlah tulisan pendek (antara 2500 – 3000 karakter) namun isinya padat. Disinilah mungkin letak agak sulitnya, mesti menyesuaikan antara ide dengan ruang yang disediakan. Tapi, itulah hukumnya, jika tulisan Anda ingin dimuat, ya patuhi aturannya seperti itu. Jangan buat tulisan yang kepanjangan kayak makalah atau bahkan jurnal yang sampai berlembar-lembar, dijamin sebagus apapun tulisan Anda tak akan dimuat (itu namanya ngerjain redaktur).

Keempat, perhatikan momentum. Poin ini erat kaitannya dengan poin nomor satu diatas. Meski tak begitu menentukan, namun saya bisa memastikan ya antara 40-60% peluang ketermuatannya. Coba lihat tulisannya Makmun Nawawi yang berjudul “Buktikan dengan Perbuatan” dimuat hari Sabru, 16 Juli 2011, karena temanya lagi hot-hotnya berisi mengenai perilaku para pemimpin nasional dan pejabat lainnya yang gemar bicara namun miskin implementasi.

Perhatikan cuplikan tulisannya, “Bila ditarik ke zaman kita sekarang ini, Khalifah Umar bin Khatab menginginkan para pembantunya, tidak hanya pandai menggelar konferensi pers, lalu menebarkan kata-kata yang manis dan berbunga-bunga, serta tangkas dalam menangkis beragam pertanyaan yang datang bertubi-tubi. Namun, sesungguhnya bagaimana kata-katanya itu diwujudkan secara nyata di hadapan rakyatnya. Karena, banyak orang yang tampak amat loyal dan sangat patriotik terhadap bangsa ini- sebagaimana tecermin dari kata-katanya-tapi mereka tak lebih dari orang-orang oportunis yang hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya saja, serta merugikan bangsa pula.”

Kelima, jangan menulis tema yang sudah diangkat oleh penulis lain. Sederhana memang, namun jika tak diindahkan fatal akibatnya. Alhasil, tulisan yang diagang-gadang merupakan karya terbaik yang pernah dibuat dalam konteks untuk kolom Hikmah, yang ada hanya ngenden di email redaksinya. Kan, nggak lucu. Makanya, disinilah pentingnya memelototisetiap hari supaya kita tahu siapa saja dan tema apa saja yang sudah pernah dimuat. Ada banyak cara supaya kita selalu tahu tulisan dengan judul dan tema apa yang sudah pernah dimuat, meski sedikit perlu perjuangan, mulai dari datengin tukang koran setiap hari (meski nggak beli), langganan koran (kalau kuat bayar, khususnya buat mahasiswa dan mental orang Indonesia yang senengnya gretongan melulu), sampai nongkrong atau bahkan punya pacar tukang jaga warnet untuk selalu update kolom Hikmah Republika, dan banyak lagi. Yah, butuh perjuangan memang karena kalau tak berjuang, bukan hidup namanya kawan!!

Keenam, (kalau bisa) Anda kenal dengan redaktur atau wartawannya. Bukan untuk KKN tentunya. Logika sederhananya, mana yang akan Anda utamakan: teman Anda atau orang yang sama sekali tidak Anda dikenal? Tentu teman Anda, bukan? Nah, logika ini saya fikir lumayan pas untuk menggambarkan jalinan relasi antara redaktur-penulis. Kenal disini bukan berati akrab atau mesti tatap muka. Manfaatkanlah jejaring sosial seperti email, facebook, twitter, blog, dsb. Atau, tak ada salahnya Anda gabung ddan cuap-cuap di milis-milis para redaktur/wartawan. Dan, kalau sempat Anda juga bisa datang ke kantornya.

Dulu, saya lumayan sering datang ke kantor Republika (ambil honor dan pernah juga ikut seminar wakilin dosen). Disitu kan, kita bisa banyak kenal “orang dalem” Republika sendiri. Bahkan, saya pernah ditawari buat jadi wartawannya, namun karena belum lulus kuliah, so nggak jadi dechhh…

Ketujuh, tulislah dengan bahasa sederhana namun mengena. Jangan pakai kalimat atau kata-kata yang njlimet karena bukan disitu tempatnya. Hikmah bukan buat sastrawan atau penyair yang perlu tujuh kali mikir dan baca hanya untuk mencerna apa maksudnya laiknya tulisan-tulisannya Goenawan Muhammad di “Caping” Majalah TEMPO, Budiarto Danujaya yang membaca tulisannya bikin pusing tujuh keliling hanya untuk mengerti satu frase saja, atau Arswendo Atmowiloto yang banyak banyolannya. Bukan, bukan itu! Melainkan bergaya agak resmi, mengena dan tetap sederhana. Bingung kan, membayangkannya?

Kedelapan, ini hal teknis, usahakan kirim lewat email dan waktunya antara ba’da dhuhur sampai ba’da ashar, lah. Lho kok? Opo mene? Biasanya para redaktur yang terhormat akan membuka emailnya pada jam-jam segitu. Makanya, supaya email Anda yang paling atas tumpukannya, kirimlah di waktu yang tepat dan bisa langsung dibuka duluan oleh redaktur. Kalau sesuai, ya dimuat deh!

Kesembilan, ini diluar teknis, berdoa, berdoa dan berdoa. Kan faham semuanya, bahwa usaha tanpa doa sama saja SOMBONG. Sebaliknya doa tanpa usaha sama saja dengan BOHONG dan BODONG! Jadi, terapkanlah usaha dan doa itu!

Terakhir, menulis, menulis dan menulis. Tak ada kesuksesan yang bisa diraih sekejap mata. Segalanya perlu proses dan proses. Mungkin pertama kali, tulisan Anda ditolak redaktur. Itu wajar. Kedua, ketiga, sampai ketujuh kalinya masih juga ditolak. Itu juga wajar lah. Tolong, tanamkan bahwa yang menjadi orientasi penulis bukanlah semata hasil, melainkan yang lebih penting proses. So, tetaplah berproses.

NB; sebagai penyemangat, honor tulisan di Rubrik Hikmah Republika sebesar Rp 200 ribu, dipotong pajak 6%. Tak besar memang, namun jika dimuat, tulisan Anda akan dicetak sebanyak oplah harian Republika yang puluhan ribu eksemplar. Dan berarti puluhan ribu orang juga yang akan baca tulisan Anda. Bukankah, disitulah letak kebahagiaan seorang penulis: ketika tulisannya dibaca orang, bahkan bisa sampai memberikan manfaat, bukan?

Nah, selamat berjuang dengan PENA-mu dan semoga membantu!!! Ikuti terus update tulisan mengenai media di website ini yang Insya Allah akan dilakukan secara berkala.

(Dikutip dan diselaraskan dari http://apepherya.com/writer-tips/tips-tulisan-dimuat-rubrik-hikmah-republika)