Pendahuluan

Dengan teknologi yang semakin canggih pada tiap-tiap bidang kehidupan manusia sekarang, segala usaha dan kegiatan manusia akan semakin terasa mudah, jika dibandingkan ketika teknologi yang digunakan hanya mengandalkan faktor keramahan alam. Melalui teknologi tersebut apa yang dulunya tidak mungkin, kini dapat terjadi dengan logis, seperti manusia sekarang dapat terbang, masuk ke dasar laut yang terdalam sekalipun, atau dapat menghancurkan suatu kota dengan hanya hitungan menit, yang notabene menjadi tantangan agama untuk menjelaskan atau menjawab semua fenomena peradaban manusia tersebut.

Perkembangan teknologi elektronik yang berlangsung sangat pesat akhir-akhir ini telah memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan dan kegiatan masyarakat. Canggihnya teknologi modern saat ini dan terbukanya jaringan informasi global yang serba transparan, yang menurut Toffler adalah gejala masyarakat gelombang ketiga, telah ditandai dengan munculnya internet, yakni sebuah teknologi yang memungkinkan adanya transformasi secara cepat ke seluruh jaringan dunia melalui dunia maya. Dengan teknologi internet, human action (perilaku manusia), human interaction (interaksi antar manusia), human relation (hubungan kemanusiaan) mengalami perubahan yang cukup signifikan. Jaringan komunikasi global telah menciptakan tantangan-tantangan terhadap cara pengaturan transaksi-transaksi sosial dan ekonomi.

Internet yang merupakan implementasi Transmission Control Protocol/Internet Protocol (TCP/IP) telah memberikan kemudahan dalam berkomunikasi secara global tanpa batasan geografis antar negara. Internet merupakan suatu penemuan yang pada awalnya berfungsi sebagai alat pertukaran data ilmiah dan akademik, kini telah berubah menjadi perlengkapan hidup sehari-hari dan dapat diakses dari berbagai belahan dunia. Teknologi internet mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perekonomian dunia.

Internet membawa perekonomian dunia memasuki babak baru yang lebih populer dengan istilah digital economics atau ekonomi digital. Keberadaannya ditandai dengan semakin maraknya kegiatan perekonomian yang memanfaatkan internet sebagai media komunikasi, kolaborasi, dan kooperasi. Perdagangan misalnya, semakin banyak mengandalkan perdagangan elektronik/electronic commerce (e-commerce) sebagai media transaksi, dan diperkirakan, lebih dari 95 persen dari seluruh kegiatan di internet merupakan kegiatan perdagangan.

Perkembangan e-commerce tidak terlepas dari laju pertumbuhan internet karena e-commerce berjalan di atas jaringan internet. Pertumbuhan pengguna internet yang sangat pesat merupakan suatu kenyataan yang membuat internet menjadi salah satu media yang efektif bagi perusahaan maupun perorangan untuk memerkenalkan dan menjual produk/jasa mereka ke calon konsumen dari seluruh dunia. Untuk negara Asia, pengguna jasa internet pada tahun 1999 berjumlah 66 juta, dengan Jepang sebagai pengguna terbesar yakni sebanyak 20 juta. The Boston Consulting Group memerkirakan pada tahun 2005 jumlahnya akan menjadi 375 juta dengan Tiongkok sebagai pengguna jasa internet terbesar. Hadirnya e-commerce memungkinkan terciptanya persaingan yang sehat antara perusahaan kecil, menengah dan besar dalam merebut pangsa pasar.

Sebagai suatu perdagangan yang berbasis teknologi canggih, e-commerce telah mereformasi perdagangan konvensional di mana interaksi antara konsumen dan perusahaan yang sebelumnya dilakukan secara langsung menjadi interaksi yang tidak langsung. E-commerce telah merubah paradigma bisnis klasik dengan menumbuhkan model-model interaksi antara produsen dan konsumen di dunia virtual. Prinsip perdagangan dengan sistem pembayaran klasik yang kita kenal adalah perdagangan di mana penjual dan pembeli bertemu secara fisik atau secara langsung kini berubah menjadi konsep telemarketing yakni perdagangan jarak jauh dengan menggunakan media internet yang tidak lagi membutuhkan pertemuan antar para pelaku bisnis. Sistem perdagangan yang dipakai dalam e-commerce dirancang untuk menandatangani secara elektronik. Penandatanganan elektronik ini dibuat mulai dari saat pembelian, pemeriksaan dan pengiriman. Karena itu, ketersediaan informasi yang benar dan akurat mengenai konsumen dan perusahaan dalam e-commerce merupakan suatu prasyarat mutlak.

Perkembangan teknologi informasi, sadar atau tidak telah memberikan dampak terhadap perkembangan hukum, ekonomi, sosial, budaya dan politik. Hal ini merupakan tantangan sekaligus peluang yang harus dihadapi pada awal abad ke 21. Khususnya di bidang perekonomian, perkembangan teknologi informasi telah melahirkan model transaksi baru dalam dunia perdagangan.

E-Commerce: Ruang Lingkup dan Proses Bisnis

E-commerce seringkali diartikan sebagai jual beli barang dan jasa melalui media elektronik, khususnya melalui internet. Salah satu contoh adalah penjualan produk secara online melalui internet seperti yang dilakukan WebStore Kompas Cyber Media. Dalam bisnis ini, dukungan dan pelayanan terhadap konsumen menggunakan e-mail sebagai alat bantu, mengirimkan kontrak melalui mail dan sebagainya. Sebenarnya ada banyak definisi mengenai e-commerce. Tetapi yang pasti, setiap kali masyarakat berbicara tentang e-commerce, mereka biasanya memahaminya sebagai bisnis yang berhubungan dengan internet.

Dari berbagai definisi yang ditawarkan dan dipergunakan oleh berbagai kalangan, terdapat kesamaan dari setiap definisi tersebut. Kesamaan ini menunjukkan bahwa e-commerce memiliki karakteristik: 1) Terjadinya transaksi antara dua belah pihak; 2) Adanya pertukaran barang, jasa, atau informasi; dan 3) Internet merupakan medium utama dalam proses atau mekanisme perdagangan tersebut. Dari karakteristik tersebut terlihat jelas bahwa pada dasarnya e-commerce merupakan dampak dari perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi. Secara signifikan mengubah cara manusia melakukan interaksi dengan lingkungannya, yang dalam hal ini terkait dengan mekanisme dagang.

E-commerce sebagai suatu cara untuk melakukan aktivitas perekonomian dengan infrastruktur internet memiliki jangkauan penerapan yang sangat luas. Seperti halnya internet, siapapun dapat melakukan aktivitas apapun termasuk aktivitas ekonomi, e-commerce juga memiliki segmentasi penerapan yang luas. Secara garis besar, e-commerce diterapkan untuk melaksanakan aktivitas ekonomi business-to-business, business-to-consumer, dan consumer-to-consumer.

Ada dua hal utama yang biasa dilakukan oleh customers di dunia maya. Pertama adalah melihat produk-produk atau jasa-jasa yang diiklankan oleh perusahaan terkait melalui website-nya (online ads). Kedua adalah mencari data atau informasi tertentu yang dibutuhkan sehubungan dengan proses transaksi jual beli yang akan dilakukan.

Jika tertarik dengan produk atau jasa yang ditawarkan, konsumen dapat melakukan transaksi perdagangan dengan cara melakukan pemesanan secara elektronik (online orders), yaitu dengan menggunakan perangkat komputer dan jaringan internet. Berdasarkan pesanan tersebut, merchant akan mendistribusikan barangnya kepada customer melalui dua jalur. Bagi perusahaan yang melibatkan barang secara fisik, perusahaan akan mengirimkannya melalui kurir ke tempat pemesan berada. Jalur kedua adalah jalur yang menarik karena disediakan bagi produk atau jasa yang dapat digitalisasi (diubah menjadi sinyal digital). Produk-produk yang semacam teks, gambar, video dan audio secara fisik tidak perlu lagi dikirimkan, namun dapat disampaikan melalui jalur internet, contohnya electronic newspapers, digital library, virtual school dan sebagainya.

Selanjutnya, melalui internet dapat pula dilakukan aktivitas pasca pembelian, yaitu pelayanan purnajual (electronic customer support). Proses ini dapat dilakukan melalui jalur konvensional, seperti telepon, ataupun jalur internet, seperti e-mail, teleconference, chatting, dan lain-lain. Dari interaksi tersebut diharapkan customers dapat datang kembali dan melakukan pembelian produk atau jasa di kemudian hari (follow-on sales).

Transaksi E-Commerce dan Transaksi as-Salam

Transaksi (akad) merupakan unsur penting dalam suatu perikatan. Dalam Islam persoalan transaksi sangat tegas dalam penerapannya, dan ini membuktikan bahwa keberadaan transaksi tidak boleh dikesampingkan begitu saja dalam setiap bidang kehidupan manusia (umat Islam), karena begitu pentingnya transaksi dalam suatu perjanjian.

Secara umum dapat dilihat bahwa dalam perdagangan secara Islam menjelaskan adanya transaksi yang bersifat fisik, dengan menghadirkan benda tersebut sewaktu transaksi, atau tanpa menghadirkan benda yang dipesan, tetapi dengan ketentuan harus dinyatakan sifat benda secara konkret, baik diserahkan langsung atau diserahkan kemudian sampai batas waktu tertentu, seperti dalam transaksi as-salam dan transaksi al-istis}nâ‘. Transaksi as-salam merupakan bentuk transaksi dengan sistem pembayaran secara tunai/disegerakan tetapi penyerahan barang ditangguhkan. Sedang transaksi al-istis}nâ‘ merupakan bentuk transaksi dengan sistem pembayaran secara disegerakan atau secara ditangguhkan sesuai kesepakatan dan penyerahan barang ditangguhkan.

Transaksi as-salam – disebut juga as-salaf – seperti halnya model transaksi jual beli lainnya, telah ada bahkan sebelum kedatangan Nabi Muhammad Saw. Hal ini merupakan suatu bentuk keringanan dalam bermuamalah dan memberikan kemudahan kepada manusia dalam berinteraksi dengan sesama, khususnya pada masalah pertukaran harta, seperti halnya jual beli dengan utang. Dalam transaksi as-salam tercermin adanya saling tolong menolong yang dapat menguntungkan kedua belah pihak. Pihak pembeli dapat membeli barang dengan harga lebih murah, begitu pula pihak penjual memeroleh keuntungan dari penerimaan uang lebih cepat dari penyerahan barang. Dengan pembayaran itu berarti didapat tambahan modal yang berguna untuk mengelola dan mengembangkan usahanya.

Transaksi as-salam dibolehkan berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Ibn ‘Abbâs berkata: “Saya bersaksi bahwa salaf yang dijamin untuk waktu tertentu, telah dihalalkan oleh Allah dalam Kitab-Nya dan diijinkan-Nya”. Kemudian dia membaca firman Allah: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ (Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya ….). Ketika Rasulullah Saw tiba di Madinah, orang-orang sudah biasa melakukan pembayaran lebih dahulu (salaf) buat buah-buahan untuk jangka waktu setahun atau dua tahun. Kemudian beliau bersabda: “Barangsiapa yang melakukan salaf, hendaklah melakukannya dengan takaran yang jelas dan timbangan yang jelas pula, sampai batas waktu tertentu.”

Pelaksanaan transaksi bisnis e-commerce, secara sekilas hampir serupa dengan transaksi as-salam dalam hal pembayaran dan penyerahan komoditas yang dijadikan sebagai objek transaksi. Oleh karena itu, untuk menganalisis dengan jelas apakah transaksi dalam e-commerce melalui internet tersebut dapat disejajarkan dengan prinsip-prinsip transaksi yang ada dalam transaksi as-salam maka masing-masing dapat dicermati melalui pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi, proses pernyataan kesepakatan transaksi dan melalui objek transaksi.

Dalam transaksi e-commerce melalui internet perintah pembayaran (payment instruction) melibatkan beberapa pihak selain dari pembeli (cardholder) dan penjual (merchant). Para pihak itu adalah payment gateway, acquirer dan issuer. Dalam transaksi online merupakan suatu keharusan adanya pihak-pihak lain yang terlibat. Karena transaksi e-commerce melalui media internet merupakan bentuk transaksi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang dalam bertransaksi tidak saling bertemu face-to-face atau bahkan tidak saling mengenal, sebab mereka bertransaksi dalam dunia maya atau virtual. Oleh karena itu, untuk menjamin adanya kehandalan, kepercayaan, kerahasiaan, validitas dan keamanan, transaksi e-commerce dalam pelaksanaannya memerlukan layanan-layanan pendukung.

Dalam hal ini payment gateway dapat dianggap seperti saksi dalam transaksi yang melakukan otorisasi terhadap instruksi pembayaran dan memonitor proses transaksi online. Payment gateway ini diperlukan oleh acquirer untuk mendukung berlangsungnya proses otorisasi dan memonitor proses transaksi yang berlangsung. Payment gateway biasanya dioperasikan oleh acquirer atau bisa juga oleh pihak ketiga lain yang berfungsi untuk memproses instruksi pembayaran. Payment gateway dalam hal ini telah memeroleh sertifikat digital yang dikeluarkan dan dikelola oleh pihak ketiga yang terpercaya, yang dikenal dengan nama Certification Authority (CA), seperti VeriSign, Mountain View, Thawte, i-Trust dan sebagainya. Sertifikat digital ini dimiliki sebagai tanda bukti bahwa dia memiliki hak atau izin atas pelayanan transaksi elektronik.

Selain payment gateway, adanya acquirer dan issuer juga merupakan suatu keharusan. Acquirer adalah sebuah institusi finansial dalam hal ini bank yang dipercaya oleh merchant untuk memproses dan menerima pembayaran secara online dari pihak consumer. Dan issuer merupakan suatu institusi finansial atau bank yang mengeluarkan kartu bank (kartu kredit maupun kartu debit) yang dipercaya oleh consumer untuk melakukan pembayaran dalam transaksi online. Masing-masing dari acquirer dan issuer merupakan wakil dari merchant dan consumer dalam melakukan pembayaran secara online.

Pada transaksi as-salam keberadaan saksi dan wakil bukan suatu keharusan tapi apabila diperlukan hal itu tidak akan merusak atau membatalkan transaksi, bahkan untuk keberadaan saksi sangat dianjurkan dalam transaksi as-salam. Karena dikhawatirkan adanya perselisihan dikemudian hari, baik disengaja oleh salah satu pihak maupun karena lupa. Dan juga setiap transaksi akan selalu terkait dengan keadaan dan kondisi yang melingkupinya. Pada transaksi yang dilakukan dalam bentuk yang lebih formal terikat dan mengandung risiko tinggi, demi kemaslahatan (kebaikan) diantara pihak-pihak yang terlibat sangat dianjurkan adanya administrasi dan saksi apabila melakukan suatu transaksi.

Dalam melakukan transaksi, consumer diminta untuk mengisi informasi pembayaran (yang biasanya disertai dengan memasukkan kode rahasia) pada form slip pembelian yang telah disediakan website merchant yang kemudian dilakukan otorisasi melalui payment gateway. Dari otorisasi tersebut dapat diketahui bahwa ia benar-benar pemilik yang sah dan berwenang menggunakannya. Pada pihak penjual, merchant memiliki sertifikat digital dari CA yang menjamin identitas pihak tersebut bahwa ia benar-benar ada dan memiliki wewenang untuk melakukan transaksi online. Dan yang paling penting dalam melaksanakan transaksi online adalah kedua pihak harus mengerti (paling tidak mengetahui) tentang pengoperasian komputer dan internet, dan hal ini tidak mungkin dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kecakapan yang sempurna, seperti dilakukan oleh anak-anak yang belum berakal atau orang gila. Seperti halnya dalam transaksi as-salam, masing-masing pihak yang terlibat dalam transaksi harus memenuhi ketentuan-ketentuan untuk validitas transaksi itu sendiri. Pembeli dan penjual harus memenuhi ketentuan memiliki kecakapan yang sempurna dan mempunyai wewenang untuk melakukan transaksi.

Consumer dan merchant bertemu dalam dunia maya yaitu internet melalui server yang disewa dari ISP. Biasanya akan didahului oleh penawaran dari pihak merchant. Kemudian, melalui sebuah website yang dimiliki merchant, consumer dapat melihat daftar atau katalog barang yang dijual yang disertai dengan deskripsi produk yang dijual. Pernyataan kesepakatan dapat dilakukan melalui chatting, video conference, e-mail atau langsung melalui website merchant.

Pernyataan kesepakatan dalam transaksi e-commerce pada prinsipnya sama dengan pernyataan kesepakatan pada transaksi as-salam. Namun, dalam transaksi online pernyataan kesepakatan dinyatakan melalui media elektronik dan internet. Meski pernyataan kesepakatan dilakukan dengan berbagai cara, yang terpenting adalah pernyataan dapat dipahami maksudnya oleh kedua pihak yang melakukan transaksi, sehingga dapat dijadikan manifestasi dari kerelaan kedua pihak. Dan sebelum pernyataan kesepakatan terjadi harus dilakukan berbagai pertimbangan yang berdasarkan informasi yang akurat dan dikelola secara baik dan benar, karena hal tersebut mengandung unsur risiko tinggi walaupun bisa diminimalisir dengan infrastruktur-infrastruktur pendukung yang ada.

Sesuatu yang dijadikan pembayaran/harga dalam transaksi e-commerce adalah uang yang telah diketahui jumlah dan mata uang yang digunakan. Uang yang dijadikan pembayaran/harga diserahkan melalui wakil/perantara dari masing-masing pihak yang bertransaksi yang dalam hal ini adalah issuer dan acquirer. Pembayaran segera dilakukan sesuai dengan jumlah dan mata uang yang telah disepakati setelah proses otorisasi berhasil dilaksanakan. Berbagai cara biasanya dilakukan oleh perusahaan maupun bank untuk membuktikan kepada consumer bahwa proses pembayaran telah dilakukan dengan baik, seperti pemberitahuan melalui e-mail, pengiriman dokumen elektronik melalui e-mail atau situs terkait yang berisi “berita acara” jual beli dan kuitansi pembelian yang merinci jenis produk atau jasa yang dibeli berikut detail mengenai metode pembayaran yang telah dilakukan atau pencatatan transaksi pembayaran oleh bank yang laporannya akan diberikan secara periodik pada akhir bulan. Harga dalam hal ini merupakan harta yang memiliki nilai dan manfaat menurut syara?bagi pihak-pihak yang mengadakan transaksi dan pembayaran dibayarkan segera/didahulukan serta dapat ditentukan dan diketahui oleh pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi sesuai dengan ketentuan dalam transaksi as-salam.

Mengenai komoditas yang dijadikan sebagai salah satu objek transaksi dalam transaksi e-commerce dapat berupa apa saja (baik itu komoditas yang legal maupun illegal untuk diperdagangkan menurut Islam), tergantung pada penawaran pihak merchant. Hal ini disebabkan selama ini internet diasosiasikan sebagai media tanpa batas. Dimensi ruang, birokrasi, waktu, kemapanan dan tembok struktural yang selama ini ada di dunia nyata dengan mudah ditembus oleh teknologi informasi. Oleh karena itu, disamping komoditas yang memang legal juga terdapat komoditas yang illegal menurut Islam untuk diperdagangkan, seperti minuman keras. Hal ini tergantung kepada consumer sendiri dalam mencermati jenis komoditas apa dan bagaimana yang akan dibeli.
Sedang ketentuan dalam transaksi as-salam mengharuskan komoditas yang dijadikan sebagai objek transaksi merupakan sesuatu yang legal diperdagangkan menurut Islam. Sejauh ini dapat dicermati bahwa apabila komoditas dalam e-commerce merupakan komoditas yang legal menurut Islam untuk diperdagangkan berarti telah sesuai dengan salah satu ketentuan dalam transaksi as-salam.

Adapun komoditas yang diperdagangkan dalam e-commerce dapat berupa komoditas digital dan komoditas non-digital. Untuk komoditas digital seperti electronic newspapers, e-books, digital library, virtual school, software program aplikasi komputer dan sebagainya, dapat langsung diserahkan melalui media internet kepada consumer, seperti dengan melakukan download terhadap produk tersebut. Berbeda halnya dengan komoditas non-digital, komoditas tidak dapat diserahkan langsung melalui media internet namun dikirimkan melalui jasa kurir sesuai dengan kesepakatan spesifikasi komoditas, waktu dan tempat penyerahan. Dengan demikian, apabila komoditas yang diperdagangkan merupakan komoditas digital maka tidak dapat dikategorikan/disamakan dengan transaksi as-salam. Karena dalam transaksi as-salam komoditas diserahkan kemudian/ditangguhkan penyerahannya. Sedang pada komoditas digital, komoditas diserahkan langsung kepada consumer melalui media internet dan diterima langsung pada waktu transaksi. Lain halnya pada komoditas non-digital, komoditas tidak dapat diserahkan langsung kepada consumer melalui internet tapi harus dikirimkan melalui jasa kurir yang dalam hal ini berarti penyerahan komoditas tidak diserahkan pada saat transaksi atau dengan kata lain komoditas ditangguhkan sampai pada batas waktu yang telah disepakati. Hal ini berarti bahwa untuk komoditas non-digital telah memenuhi salah satu ketentuan yang ada dalam transaksi as-salam, yaitu mengenai penangguhan penyerahan komoditas.
Sebelum melakukan pemesanan, dalam transaksi e-commerce, consumer terlebih dahulu dapat melihat dan mengetahui tentang informasi komoditas yang ditawarkan oleh pihak merchant dengan melakukan browsing pada website yang telah disediakan merchant.

Setelah memilih jenis barang tertentu yang diinginkan, maka akan dijumpai keterangan lebih jelas mengenai barang yang dipilih itu, antara lain terdiri dari informasi penting tentang produk tersebut (seperti harga dan gambar barang tersebut), nilai rating barang itu yang diperoleh dari poll otomatis tentang barang itu yang diisi oleh para pembeli sebelumnya (apakah barang tersebut baik, cukup baik, atau bahkan mengecewakan), spesifikasi (product review) tentang barang tersebut, dan menu produk-produk lain yang berhubungan. Hal ini menjelaskan komoditas yang dijadikan sebagai objek transaksi dalam transaksi e-commerce sesuai dengan ketentuan transaksi as-salam bahwa komoditas dapat diketahui dan bisa diidentifikasi secara jelas.

Selanjutnya dalam ketentuan transaksi as-salam, komoditas yang dijadikan sebagai salah satu objek transaksi harus berada dalam tanggungan dan diakui sebagai utang, walaupun tidak harus berada pada penjual pada saat transaksi berlangsung, tetapi harus ada pada waktu yang ditentukan. Pada transaksi e-commerce, walaupun tidak dapat diidentifikasi secara pasti tapi paling tidak, sertifikat digital yang diberikan oleh CA kepada merchant website dapat dijadikan jaminan bahwa ia telah diakui sebagai “pedagang” di dunia maya dan memiliki komoditas untuk diperdagangkan/mampu melakukan pemenuhan prestasi sesuai dengan kesepakatan antara kedua belah pihak yang bertransaksi. Selain itu juga pihak merchant menyediakan pelayanan kepada setiap consumer untuk menyampaikan keluhan ataupun pertanyaan melalui consumer support yang dapat diakses setiap saat baik melalui e-mail, telepon dan sebagainya.

Untuk komoditas non-digital sebelum transaksi berlangsung telah disepakati mengenai batas waktu untuk penyerahan komoditas. Consumer dapat menentukan batas waktu pengiriman yang diinginkan seperti yang telah disediakan oleh merchant dalam bentuk form yang harus diisi oleh consumer. Setelah mengisi form tersebut pihak merchant akan mengalkulasikan jumlah komoditas sekaligus harga dan biaya pengiriman yang harus dibayar oleh consumer. Dari sini terlihat bahwa penangguhan penyerahan komoditas dalam transaksi e-commerce dapat diketahui dan jelas serta ditentukan sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak yang bertransaksi sesuai dengan ketentuan dalam transaksi as-salam.

Transaksi E-Commerce di Indonesia

Internet telah tumbuh dengan sangat cepat tidak hanya di negara-negara maju tapi juga di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada tahun 2002 pengguna jasa internet di Indonesia mencapai angka 4,5 juta dan diperkirakan akan terus meningkat. Hal ini membuka potensi dan peluang untuk mengembangkan bisnis melalui internet khususnya e-commerce yang telah diprediksikan sebagai “bisnis besar masa depan” (the next big thing).

Perkembangan internet yang kemudian memunculkan e-commerce merupakan alternatif bisnis yang cukup menjanjikan, karena e-commerce dipandang memiliki banyak kemudahan bagi kedua belah pihak, baik merchant maupun buyer. Berdasarkan perkembangan di negara-negara besar, e-commerce ini menjadi basis menuju bisnis era baru termasuk di Indonesia.

Keberadaan e-commerce di Indonesia dipelopori oleh sebuah toko buku online yaitu Sanur. Ide pertama kali munculnya bisnis e-commerce berupa toko buku online ini, diilhami adanya jenis bisnis serupa, yaitu Amazon. Sanur merupakan toko buku pertama di Indonesia yang menjual buku melalui internet. Kemudian muncul berikutnya Indonesia Interactive. I-2 dibangun sebagai portal dan menyediakan sebuah virtual shopping mall. I-2 saat ini sudah berkembang dan memiliki beberapa online store, yang menjual buku, komputer, dan lainnya.

Perkembangan e-commerce di Indonesia masih terhambat oleh beberapa faktor yang ada. Di antaranya adalah faktor jaminan keamanan. Sebuah survey mendapatkan hasil terhadap user Indonesia menunjukkan bahwa pikiran utama yang masih tertanam dibenak mereka untuk melakukan transaksi di internet adalah mengenai masalah keamanan dalam pembayaran. Dan juga di Indonesia budaya penggunaan kartu kredit masih sedikit dan masih merupakan barang langka dan simbol status, karena itu banyak situs e-commerce di Indonesia yang selain menawarkan cara pembayaran online dengan kartu kredit/debit juga menawarkan cara pembayaran lain, seperti cash on delivery. Atau dapat juga halaman website hanya menawarkan jenis produk yang akan dijual sedangkan transaksi dan pembayaran dilakukan secara offline atau kontak via telepon seperti dalam transaksi jual beli biasa. [35]

Secara umum mekanisme transaksi e-commerce yang ada di Indonesia dapat dikategorikan kepada transaksi dan pembayaran dilakukan secara online, transaksi secara online dan pembayaran dilakukan setelah barang diterima, dan transaksi dan pembayaran dilakukan di dunia nyata.

Dengan demikian, dalam e-commerce di Indonesia transaksi yang diterapkan bukan hanya transaksi as-salam tapi juga diterapkan transaksi jual beli biasa dan transaksi al-istishnâ‘. Jika transaksi dan pembayaran dilakukan segera secara online dan melibatkan komoditas non-digital yang legal diperdagangkan menurut Islam maka pada dasarnya sama dengan transaksi as-salam. Namun jika komoditas yang diperdagangkan adalah komoditas digital pada dasarnya sama dengan jual beli biasa karena komoditas dapat langsung diterima melalui internet oleh consumer. Pada mekanisme transaksi dan pembayaran dilakukan secara offline di dunia nyata, yaitu dengan menjadikan halaman website hanya untuk menawarkan jenis dan katalog produk yang akan dijual, hal ini sama seperti pada jual beli biasa. Sedangkan dalam mekanisme transaksi online dengan sistem pembayaran cash on delivery dapat dikategorikan ke dalam transaksi al-istishnâ‘.

Penutup

Transaksi yang dilakukan dalam e-commerce melalui internet pada dasarnya tidak memiliki perbedaan dengan transaksi as-salam kecuali pada komoditas yang dijadikan sebagai objek transaksi. Dan juga transaksi e-commerce dapat dibolehkan menurut Islam berdasarkan prinsip-prinsip yang ada dalam perdagangan menurut Islam, khususnya dianalogikan dengan prinsip transaksi as-salam, kecuali pada komoditas yang tidak dibenarkan untuk diperdagangkan secara Islam. Dalam transaksi e-commerce, komoditas yang dijadikan sebagai objek transaksi dapat berupa apa saja, baik itu komoditas yang legal diperjualbelikan menurut Islam ataupun komoditas yang illegal, seperti minuman keras. Berbeda halnya dalam transaksi as-salam yang memberlakukan ketentuan bahwa komoditas yang boleh dijadikan sebagai objek transaksi harus komoditas yang dibenarkan oleh Islam untuk diperdagangkan. Oleh karena itu, untuk komoditas yang illegal diperdagangkan menurut Islam tidak sesuai dengan ketentuan yang ada dalam transaksi as-salam. Selanjutnya, komoditas tersebut dalam transaksi e-commerce dapat berupa komoditas digital dan non-digital. Untuk komoditas digital yang diperdagangkan dalam transaksi e-commerce tidak termasuk dalam ketentuan yang ada dalam transaksi as-salam karena dalam transaksi as-salam, komoditas harus ditangguhkan penyerahannya sampai batas waktu tertentu. Sedangkan dalam transaksi e-commerce, untuk komoditas digital diserahkan langsung melalui internet kepada consumer. Hal ini tidak sama dengan transaksi as-salam tapi sama seperti transaksi jual beli biasa.

Dalam transaksi e-commerce melalui internet peranan infrastruktur pendukung sangat diperlukan untuk membangun kepercayaan di antara pihak-pihak yang bertransaksi. Karena itu bagi para pelaku bisnis e-commerce hendaknya memerhatikan keamanan dalam transaksi, teknologi yang digunakan dan harus selalu diperbaharui dengan mengikuti perkembangan teknologi, memberikan pelayanan sebaik mungkin pada konsumen dan memerhatikan aspek hukum dan aspek moral dalam masalah transaksi. Bagi para consumer sebelum melakukan transaksi e-commerce melalui internet hendaknya berhati-hati dalam melakukan transaksi, seperti dengan mengecek sistem keamanan yang dimiliki oleh merchant, memiliki wawasan dan pengetahuan tentang komoditas yang dijadikan objek transaksi agar tidak membeli komoditas yang tidak sesuai dengan norma-norma yang ada, dan juga mengecek dengan jelas mengenai tanggal pengiriman dan tempat penyerahan komoditas agar perselisihan dapat dihindari. Akhirnya, dengan ini diharapkan dapat memberikan peluang baru dalam kegiatan bisnis modern yang Islami.

 

Referensi:

Alvin Toffler, The Third Wave, Toronto: Bantam Books, 1982.

Amir Effendi Siregar, “Gus Dur, Perdagangan dan e-Commerce”, Warta Ekonomi, No. 29, Th. XI, 6 Desember, 1999.

Atip Latifulhayat, “Perlindungan Data Pribadi dalam Perdagangan Secara Elektronik (e-Commerce)”, Jurnal Hukum Bisnis, Vol. 18, Maret, 2002.

Budi Sutedjo Dharma Oetomo, Perspektif e-Business: Tinjauan Teknis, Manajerial dan Strategi, Yogyakarta: Andi, 2001, hal. 10.

David Kosiur, Understanding Electronic Commerce, Washington: Microsoft Press, 1997.

ECEG-Australia dalam http://www.law.gov.au/aghome/advisory/eceg/ single.htm accessed Mei 30, 2003.

Farizal F. Kamal, Cyberbusiness, cet. 3, Jakarta: Elex Media Komputindo, 1999.

Fathurrahman Djamil, “Hukum Perjanjian Syariah”, dalam Mariam Darus Badrulzaman dkk, Kompilasi Hukum Perikatan, cet. 1,

Bandung: Citra Aditya Bakti, 2001.

Bukhâri, al-., Shahîh al-Bukhâri, cet. 3, Beirût: Dâr Ibn Katsîr, 1987., II: 781;

Freddy Haris, Aspek Hukum Transaksi Secara Elektronik Di Pasar Modal, Jakarta: tnp, 2000.

Hamzah Ya’qub, Kode Etik Dagang Menurut Islam (Pola Pembinaan Hidup dalam Berekonomi), cet. 1, Bandung: Diponegoro, 1984.

Hatta, “Beberapa Aspek Pengaturan International e-Commerce serta Dampaknya Bagi Hukum Nasional”, makalah disampaikan pada Seminar Nasional Cyberlaw, diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Hukum Bandung, Bandung, 9 April 2001.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0007/05/ekonomi/volu28.htm accessed Juni 16, 2003.

http://www.kompas.com/kcm/news/0002/17/artikel%5F1.htm accessed Juni 16, 2003.

http://www.apjii.or.id/dokumentasi/statistik.php?lang=ind accessed Juni 16, 2003.

http://www.sanur.co.id

http://www.amazon.com

http://www.i-2.co.id

http://www.cawineclub.com accessed September 30, 2003.

Jay MS, “Peranan e-Commerce dalam Sektor Ekonomi & Industry, makalah disampaikan pada Seminar Sehari Aplikasi Internet di Era Millenium Ketiga, Jakarta, 2000, hal. 3.

Julian Ding, E-Commerce: Law and Office, Malaysia: Sweet and Maxwell Asia, 1999.

Muhammad Aulia Adnan, Aspek Hukum Protokol Pembayaran Visa/MasterCard Secure Electronic Transaction (SET), Skripsi, (Depok: Universitas Indonesia, 1999), hal. 54. http://www.geocities.com/amwibowo/resource.html accessed Mei 30, 2003.

Muhammad Taufîq Ramadhân, Al-Buyû‘ asy-Syâ’i‘ah, cet. 1, Beirût: Dâr al-Fikr, 1998.

Muslim, Shahîh Muslim, Beirût: Dâr Ihyâ’ at-Turâs al-‘Arab, t.t., III: 1226 H.-1227 H..

Onno W. Purbo, “Cyberlaw: Filosofi “Hukum” di Dunia Maya”, makalah disampaikan pada Seminar Nasional Cyberlaw, diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Hukum Bandung, Bandung, 9 April 2001, hal. 1-dst.

Onno W. Purbo dan Aang Arif Wahyudi, Mengenal e-Commerce, Jakarta: Elex Media Komputindo, 2001.

Panggih P. Dwi Atmojo, Internet Untuk Bisnis I, Jogjakarta: Dirkomnet Training, 2002.

Qurthubi, al-,Al-Jâmi’ li’ Ahkâm al-Qur’ân, cet. 2, Kairo: Dâr asy-Sya‘b, 1372 H.

Richardus Eko Indrajit, E-Commerce: Kiat dan Strategi Bisnis di Dunia Maya, Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2001.

Sanusi Arsyad, M. “Transaksi Bisnis dalam Electronic Commerce (e-Commerce): Studi Tentang Permasalahan-Permasalahan Hukum dan Solusinya”, Tesis Magister, Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia, 2000.
Soon-Yong Choi dkk, The Economics of Electronic Commerce, Indiana: Macmillan Technical Publishing, 1997.

Syâfi‘î Muhammad ibn Idris, asy-, Al-Um, cet. 2, Beirût: Dâr al-Ma‘rifah, 1393 H.

The Liang Gie, Pengantar Filsafat Teknologi, cet. 1, Yogyakarta: Andi, 1996.

Tim Litbang Wahana Komputer, “Apa dan Bagaimana e-Commerce”, hal. 20.

Tri Kuntoro Priyambodo, “Menjadi Entrepreneur dari e-Commerce”, makalah disampaikan pada Road Show Seminar Sukses Bisnis Melalui e-Commerce, diselenggarakan oleh Kanwil Deperindag DIY, Yogyakarta, 23 Maret 2000.

Zaman, S.M. Hasanuz., “Bay Salam: Principles and Their Practical Applications”, dalam Sheikh Ghazali Sheikh Abod dkk (Ed.), An Introduction to Islamic Finance, Kuala Lumpur: Quill Publishers, 1992.

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Oleh : Haris Faulidi Asnawi, Alumnus Ekonomi Islam MSI-UII, dalam http://kpsfamily2009.blogspot.com/2010/02/transaksi-bisnis-e-commerce-perspektif.html)