Wajib Belajar Sepanjang Hayat dan Bukan Hanya 9 Tahun
Review Buku: “Dunia Tanpa Sekolah”

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas tengah semester mata kuliah Sosiologi Pendidikan Islam

Dosen Pengampu: Ustadz Yusuf A. Hasan

Disusun Oleh:
Rizqi Nurjannah (20120720029)
Tri Yaumil Falikhah (20120720074)

Pendidikan Agama Islam – Fakultas Agama Islam
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
1433 H./ 2012 M.

Judul : Dunia Tanpa Sekolah
Penulis : M. Izza Ahsin
Penyunting : Asih Gandana
Penerbit : Read! Publishing House
Tahun terbit : April 2007
ISBN : 979-3828-41-2
Tebal Buku : 252 hlm.

M. Izza Ahsin yang kerap disapa dengan Izza adalah seorang remaja yang dapat mengekspresikan kekesalannya pada dunia pendidikan di Indonesia. Ia menuliskan buku menarik berjudul Dunia Tanpa Sekolah, Kisah Nyata Seorang Anak Usia 15 Tahun yang Terpenjara oleh Sekolah Formal. Meskipun buku ini terbilang buku lama (karena telah terbit pada tahun 2007) namun akan tetap dapat menjadi sebuah catatan penting yang hendaknya dapat menjadi sebuah evaluasi dunia pendidikan di Indonesia. Harapannya, pendidikan di Indonesia segera di revisi dengan pembenahan sistem serta memiliki guru yang profesional yang mampu memberikan motivasi tersendiri bagi anak didiknya menjadi orang besar dengan kemampuan dan karakternya masing-masing.

Makalah ini akan mencoba mengkaitkan buku Dunia Tanpa Sekolah dengan sosiologi masyarakat Indonesia melihat dunia pendidikan.

A. Sekolah dalam Pandangan Masyarakat

Masyarakat menganggap sekolah adalah lembaga sakti dalam mencerdaskan anak bangsa. Dan jika melihat anak tidak sekolah (bolos) maka ia dicap menjadi anak yang nakal dan tidak patuh. Hal ini terwakili oleh ungkapan jalan fikir mae (nenek Izza) yang diungkapkan oleh Izza dalam bukunya,
“aku memang lebih memilih bergabung dengan debu dan kotoran khas kolong ranjang daripada harus dikata-katai mae. Lalu, mae akan mengumumkan ke semua orang kalau aku sedang membolos, kenapa mae bersikap begitu?

Pertama, seperti orang-orang kampung pada umumnya, mae selalu mengukur keberhasilan seseorang dengan melihat serajin apakah orang itu bersekolah. Maka, tentu saja, dia akan bisa membanggakan diriku sebagai cucu kalau aku rajin bersekolah, mendapat nilai bagus, dan kelak menjadi seorang pegawai atau pegawai negeri sipil. Kedua, mae –sebagai seorang istri petani biasa- pastilah akan sakit hati kalau mengingat usaha kerasnya dahulu untuk menyekolahkan keempat anaknya sampai pada tingkat sarjana. Dan kenapa cucunya yang bisa menjadi pegawai dengan mudah dan mendapat pendidikan formal setinggi doktor tidak rajin berangkat sekolah.

Begitulah gambaran harapan mae – dan mungkin jutaan orang pedesaan diseluruh pelosok Indonesia – tentang masa depan anak dan cucunya. Melihat kenyataan ini, aku harus memahaminya dan pasrah” (hlm. 134-135)

Sebagian orang yang memiliki pemahaman tentang sistem pendidikan yang ideal mengungkapkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan. Hal ini disampaikan dalam Pengantar Dari Orang Tua Yang Merasa Harus Terus Belajar sebagai berikut;
“saya telah membaca berbagai teori pendidikan mutakhir –konsep pendidikan yang membebaskan. Saya mendalami Quantum Learning, Revolusi Cara

Belajar. Semua itu membuat saya menjadi guru “pemberontak”-guru yang tidak puas dengan kondisi pendidikan selama ini. Guru yang tidak puas dengan sistem pendidikan negeri sendiri yang memprihatinkan.

Saya sangat sedih melihat guru-guru muda dengan wajah garang yang dibuat-buat, membawa gunting untuk memotong rambut siswa yang kepanjangan. Saya meronta ketika melihat guru menendang kaki siswa karena sepatunya tidak seragam. Atau, menyelupkan sepatu itu ke dalam ember, lalu memaksa siswa tersebut untuk memakainya. Semua dilakukan dengan dalih untuk menegakkan kedisiplinan. Hati saya lebih meronta lagi ketika melihat guru menonjok hati siswa dengan merendahkannya di depan umum.” (hlm. 6-7)

Dalam kutipan di atas, dapat disimpulkan bahwa keprihatinan pada sistem pendidikan di Indonesia itu dikarenakan guru yang sewenang-wenang terhadap siswa tanpa memberikan keteladanan yang baik dan justru merendahkan atau mencemooh ketika siswa melakukan kesalahan yang tidak prinsipil.

Kendatipun demikian, namun paradigma masyarakat yang telah mendarah daging dalam diri seseorang tentang wajibnya sekolah itu menjadikan seorang yang telah memahami hakekat sistem pendidikan yang ideal tetap bersikukuh untuk tetap menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan tersebut. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh ayah Izza ketika anaknya menyampaikan keinginannya untuk mengundurkan diri dari sekolah demi cita-citanya menjadi penulis,

“saya berpikir panjang dan membaca dalam berbagai buku. Logika saya menerima argumennya. Mengapa saya tetap marah? Oh… hati saya, perasaan saya, belum menerimanya. Perasaan tanpa logika, perasaan tanpa akal sehat. Jadilah saya seperti perempuan yang terlalu banyak mengandalkan perasaan. Perasaan saya berbisik, “mau diletakkan dimana mukamu? Kamu kan sarjana, bahkan pernah mengenyam pendidikan magister. Lha, anakmu?! Sekolah menengah pertama pun tidak lulus! Bagaimana sich, kamu sebagai orang tua? Tidak tegas mengarahkan anak sendiri! Orang tua yang tidak bisa menasehati anak!”” (hlm. 8)

Kebanyakan masyarakat berpendapat bahwa sekolah hanyalah sebagai sarana untuk mendapatkan pekerjaan sebagaimana yang dikatakan oleh salah seorang teman Izza ketika nilai-nilainya semakin menurun dengan gaya sok tahu,
“penulis itu belum tentu berhasil lho Za, mending mikir sekolah saja kalau ingin jelas pekerjaannya setelah kuliah, kamu bisa memilih pekerjaan yang paling kamu sukai! ”

Masyarakat juga menganggap baik atau tidaknya sekolah itu dari prestasi akademik siswa saja tanpa melihat kualitas mengajar para gurunya. Pada intinya, tidak semua sekolah favorit juga memiliki guru favorit yang lebih baik dari sekolah-sekolah lain. Sebagaimana yang dituangkan pada halaman 45-46. Selain itu, tidak semua sekolah juga mengunggulkan nilai moral daripada akademik, sehingga banyak dijumpai orang cerdas namun moralnya amblas. Hal ini diungkapkan Izza sendiri,

“Aku menganggap pilihan ini seperti pelari yang hanya mempergunakan sebelah kakinya. Sangat tidak efektif. Padahal, seorang psikolog kelas dunia pernah mengatakan bahwa pelajaran sekolah pada pendidikan dasar sekarang ini hanya mengotori otak karena melupakan hal-hal yang lebih esensial seperti character building atau pelejitan actus para siswa.” (hlm. 35)

B. Jerit Hati Izza pada Sekolah

Kebahagiaan dan kenyamanan seseorang dapat tercermin dari semangat hidupnya atau lebih khususnya keceriaan dalam kesehariannya. Terlebih jika remaja, mereka akan sangat menampakkan perasaan hatinya melalui tingkah kesehariannya. Dalam bukunya, Izza mendeskripsikan ketidaknyamanannya pada sekolah dengan sangat jelas, hal ini ia tunjukkan dengan semangatnya membolos dan mengabaikan PR serta tidak semangat dalam melaksanakan aktifitas apapun di sekolah sehingga ia tampak seperti orang yang tidak punya hasrat untuk hidup. Kata yang tertulis dalam mengawali Bab 7 kembali ke penjara sekolah “Orang yang hidup dalam keterpaksaan adalah orang yang paling menderita di dunia. Malangnya aku termasuk salah seorang dalam golongan ini.”

Izza memanglah seorang remaja yang kritis, ia mengkritik sistem yang menempatkan mata pelajaran tanpa fokus sehingga berubah-ubah pelajaran dalam 2 jam sekali sebagaimana yang ia ungkapkan,

“saat istirahat, aku menemukan alasan yang membuatku tidak ingin bersekolah, ketua kelas membagikan jadwal pelajaran dengan dahi mengernyit aku meneliti jadwal itu, senin jam pertama adalah matematika, lalu bahasa jawa, kemudian sama sekali tidak ada hubungannta, pelajaran biologi apakah selama 3 bulan kedepan aku harus berada dalam tempat yang sama sekali tidak fokus? Dan terus gonta-ganti pelajaran setiap 2 jam sekali? Sementara itu, ada novel sulit yang harus kuselesaikan” (hlm. 155)

Penilaian Izza sebagai seorang siswa Sekolah Menengah Pertama yang tidak puas dengan sistem pendidikan di Indonesia karena berbagai alasan ilmiah, ia ungkapkan dalam kata-katanya berikut,

“saya merasa tidak mampu belajar sesuai yang dimaksudkan oleh kurikulum Indonesia (yang faktanya diatas peringkat seratus dunia). Karena kurikulum itu, menurut pendapat saya, memasung, memenjarakan, serta membelenggu saya untuk bebas berekspresi, dalam hal yang baik tentu saja. dan saya paham, paham sekali, dengan apa yang banyak terjadi dikalangan pelajar sekolah formal. Beberapa diantara mereka memberontak dan membolos karena tidak betah tinggal di dalam kelas, mendengar ceramah guru, belum lagi mendapat deraan dari guru killer dan semua pasti tahu, adakah guru seperti itu di sekolah ini. Ya, guru preman. Provokator. Pennjatuh mental anak didik. Penyebab para siswa membolos dan bahkan sampai bertikai dengan para gurunya.” (hlm. 185)

C. Sikap Bijak Seorang Guru

Guru merupakan seorang pendidik yang sangat berperan dalam mentransfer ilmu. Seharusnya ia dapat mentransfer ilmu secara menyenangkan sehingga anak didik merasa nyaman untuk belajar. Sebagaimana yang dicontohkan oleh bu Indri yang diceritakan oleh Izza sebagai berikut,
“… ini merupakan terobosan baru dalam kegiatan belajar mengajar yang dipraktikkan oleh bu Indri, guru IPS sekaligus guru terbaik yang pernah aku temukan selama aku bersekolah formal.”

Dalam kegiatan ini, murid-murid tanpa sadar disuruh menjelajah ke berbagai dunia dan memperoleh wawasan baru. Cara agar cerdas cermat ini dapat terlaksana sungguh sangat sederhana. Hanya sedikit mngubah sedikit tata letak sebuah kelas konvensional dan membagi kelas menjadi kelompok-kelompok agar para murid bisa saling berinteraksi semaksimal mungkin masing-masing kelompok harus aktif berdiskusi. Semua bergantung pada seberapa cepat salah seorang anggotanya tunjuk jari. Bu Indri megajkan banyak sekali pertanyaan dengan berbagai macam tipe dan babak. Dampak cerdas cermat sunggun terasasekali, tidak ada murid yang malas atau mengantuk seperti yang dirasakan saat guru lain mengajar. Setiap siswa tampaknya ingin menunjukkan wawasan yang dimilikinya.” (hlm. 18-19)

Bukan hanya menyenangkan, guru tidak seharusnya mencerca siswanya di depan kelas karena hal tersebut dapat membawa dampak negatif pada diri siswa di masa yang akan datang, seperti ketika Deddy teman Izza kesulitan mengerjakan soal matematika di depan kelas,
“Lewat 15 menit yang penuh kata-kata cercaan dari mulut pak Diman, Deddy akhirnya berhasil menyelesaikan soal. Dengan wajah lega, dia kembali menuju bangku sebelahku. Walaupun ia tidak tahu apa yang aku rasakan sekarang ini, aku bertanya dengan nada prihatin. Apa kamu tidak tersinggung dikata-katai seperti tadi? Deddy menggeleng lemah, “ah biasa saja” ya mungkin para guru telah membentuk citera seperti itu dalam pikirannya sejak dulu tapi entah bagaimana perkataan pak Diman tadi malah meledakkan diriku. Meskipun tidak dipanggil maju untuk soal-soal berikutnya, aku terus membatin apakah 3 bulan ini aku bisa bertahan begini terus? Sementara aku tidak tahu manfaat yang akan aku dapatkan darinya? Apakah aku masih bisa bertahan mendengar kata-kata menyakitkan dari para guru sekalipun itu tidak ditujukan kepadaku?” (hlm. 154-155)

Seorang guru harus bijaksana dalam menghadapi berbagai karakter anak, seperti bapak kepala sekolah ketika salah seorang guru memaksa Izza untuk tetap sekolah sebagaimana yang diceritakan Izza sebagai berikut,

“pak kepala sekolah membaca skrip tulisanku. Lalu, ia geleng-geleng dan mengatakan dengan tulus bahwa Izza memang berbakat dan bahwa dari isinya Izza telah dewasa dan dapat menentukan pilihan. Dengan demikian, Izza sudah tidak bisa dipaksa lagi tpi bagaimanapun dia tetap mengharapkan Izza akan melanjutkan sekolahnya. … ketika Bu Nong tetap memaksa Izza untuk melanjutkan sekolah, kepala sekolah menjawab, sudahlah bu, orang tuanya sendiri yang paling mengerti.”

D. Sikap Bijak Orang Tua pada Sang Anak

Orang tua hendaknya tidak memaksakan kehendak pada anak, namun juga tidak serta merta menuruti segala kehendak anak dengan mempetimbangkan keinginan anak sesuai kemampuananya. Sebagaimana yang dilakukan oleh ayah Izza sebagai berikut,

“Seorang master –teman ayah- mengatakan kalau tulisanku sudah sepintar doktor. Kepalaku mungkin sudah sebesar labu kalau saya mempersepsikan pujian itu dengan pemahaman terburuk; berhenti berkembang.”

“Kebulatan tekat bisa dilakukan dengan menjalin banyak hubungan dengan orang-orang yang berwawasan luas, dianggap bijak, an bisa mengerti diriku (dalam hal ini ayah berperan paling besar). Selain itu menjaga kebulatan tekat juga dapat dilakukan dengan mencari tahu tentang orang-orang yang berhasil dan bernasib sama denganku.” (hlm. 163-164)

Orang tua jika telah berbuat keliru, maka hendaknya ia mengakui kesalahannya dan memperbaiki sikap. Meneladani sikap ayah Izza ketika beliau sadar akan kesalahannya dalam mengambil keputusan sebagaimana yang tercantum pada pengantar orang tua yang merasa harus terus belajar berikut,

“Saya pun tersentak, sadara dari kesalahan-kesalahan yang telah saya perbuat. Untuk menebusnya, dalam buku ini saya relakan dia mengekspresikan kondisi yang sesungguhnya ketika saya marah. Semoga dia bukan termasuk anak duhaka ketika dia mengungkapkan sikap bapaknya dalam kata-kata yang mungkin “tidak sopan”. Semua itu demi dijadikan pelajaran bagi orang lain.

Semua membawa hikmah. Saya mulai menjadi orang tua yang lebih bijaksana. Saya bertekad untuk tidak menjadi orang tua yang sebentar-sebentar memaksa anak untuk melakukan sesuatu dan mengangkat “ego” sendiri…”

Orang tua yang bijak, setelah mengambil keputusan untuk anaknya juga harus mengarahkan anaknya agar tetap pada koridor kebenaran. Seperti sikap ayah Izza yang tetap mengajukan beberapa syarat ketika mengabulkan keinginan Izza untuk berhenti bersekolah.

“Kamu harus membaca buku-buku yang ayah minta. Kamu harus membagi waktumu untuk belajar agama dan sastra. Pendeknya, ini adalah kurikulum yang ayah buat. Diatas meja ayah, tergelar beberapa lembar kertas kuarto. Jadwal itu aku pungut. Kurikulum ini meliputi pelajaran fiqih, aqidah, bahasa arab, bahasa inggris, dan tentu saja sastra.”

E. Opini Penulis

Sekolah termasuk salah satu media dalam mencerdaskan anak bangsa, tetapi ia bukanlah satu-satunya yang dapat mensukseskan anak bangsa. Karena fakta yang dapat ditemui saat ini, masih banyak siswa yang bersekolah namun justru melakukan tawuran, seks bebas dan pecandu narkotika. Fakta lain yang dapat menguatkan argumen tersebut adalah fakta sejarah yang mengukir nama ilmuan-ilmuwan sukses tanpa mengenyam bangku sekolah seperti Thomas A. Edison, Albert Einstein, dan lain-lain.

Di sisi lain, pandangan masyarakat telah memiliki pandangan yang sudah mendarah daging yang menganggap sekolah sebagai tolok ukur kesuksesan seseorang. Jadi menurut penulis, sekolah itu penting dan menjadi sarana dalam mentransfer ilmu, belajar bersosialisasi dengan masyarakat serta mendapat pengakuan dari masyarakat (memiliki strata sosial dimata masyarakat). Akan tetapi, bagi anak-anak yang mampu melejitkan potensi diri tanpa mengenyam bangku sekolah dan memiliki fokus hidup yang jelas dan mapan seperti Izza, maka penulis menganggap bahwa mereka tidak perlu dipaksa dan dituntut untuk sekolah namun mereka perlu diarahkan menuju hal yang positif agar potensi yang mereka miliki tidak disia-siakan.

Psikologi anak didik sangat penting untuk menjadi perhatian tiap guru. Oleh karenanya, guru hendaknya mempelajari metode mengajar yang menyenangkan dan tidak melabel anak dengan sifat negatif yang dapat menurunkan mentalnya. Dari buku Dunia Tanpa Sekolah ini, penulis menganggap bahwa setiap guru hendaknya memiliki sikap bijaksana yang ditunjukkan dengan mempertimbangkan keinginan (minat) siswa dan kemampuan (bakat) siswa.

Orang tua memiliki kewajiban mendidik anak dan mengarahkan mereka, bukan berarti orang tua boleh mengabaikan keinginan anak yang berseberangan dengan prinsip yang dipegang oleh orang tua. Mereka hendaknya mendiskusikan segala permasalahan dan memutuskan pilihan, dan jika memang dibutuhkan dengan adanya campur tangan pihak luar yang dianggap dapat memberi masukan positif dalam penyelesaian masalah tersebut.

Demikianlah makalah ini dituliskan berdasarkan review buku Dunia Tanpa Sekolah. Sesungguhnya ilmu tanpa amal itu bagaikan pohon yang tidak berbuah.

(Diakses dari http://blog.umy.ac.id/rizqinurjannah/2012/11/16/review-buku-dunia-tanpa-sekolah/)