Yang Kita Butuhkan adalah: “The Real Players”

Ingat perseteruan seru antara Werkudara dengan Sengkuni?

Saat itu, Werkudara sebenarnya sudah sangat lelah ketika ‘berperang’ melawan Sengkuni. Karena berbagai upayanya untuk mengalahkan ‘Manusia Licik’ yang satu ini, mengalami jalan buntu. Tiba-tiba Werkudara ingat, bahwa kulit Sengkuni memang amat licin, dan peluhnya berbau ‘lengo tala’. Dia pun berspekulasi bahwa ini semua pasti berkaitan dengan peristiwa penemuan ‘cupu’ milik kakek Abiyasa yang berisi ‘lengo tala’ yang diyakininya sebagai ‘minyak kesaktian’ (Ah, kenapa ‘Si Werkudara’ percaya sama ‘azima’t? Apa nggak takut berdosa besar, karena syirik?). Tapi, singkat cerita, akhirnya ‘lengo tola’ itu pun diambil oleh Sengkuni dan dilumurkan ke seluruh tubuhnya.

Werkudara pun – secara spontan – langsung meraih leher Sengkuni, lalu dihimpitnya dengan lengannya kuat kuat, sehingga lehernya tercekik, dan mulutnya pun membuka lebar ‘kehabisan napas’.

Werkudara memasukkan Kuku Pancanaka (senjata pamungkasnya) ke dalam ‘lubang’ Sengkuni (‘kata ‘lubang’ ini dipahami oleh para pengamat Budaya Jawa dengan dua pemahaman; hang: pertama: “mulut’, dan yang kedua: “dubur”), karena Sengkuni tidak meminum ‘lengo tala’. Maka dengan mudah dirobek robeknya ‘lubang’ Sengkuni sampai ke dalam ‘leher lubang itu’ dan menembus sampai ke jantungnya.

Namun, meskipun sudah terluka parah, Sengkuni masih hidup. Ia mengerang kesakitan. Werkudara pun menjadi ngeri dan ketakutan. Walaupun sudah luka berat, ternyata Sengkuni tidak mati-mati juga. Apalagi yang harus diperbuat, pikir Werkudara.

Di saat kritis itulah muncul Prabu Kresna, dan segera meminta Werkudara bisa menyempurnakan kematian si Sengkuni. Werkudara akhirnya mengerti keadaan ini. Untuk membunuhnya, ‘Sengkuni’ harus dikelupas kulitnya secara sempurna. dikarenakan kesaktian ‘Lengo Tala’ yang dioleskan ke sekujur tubuh Sengkuni. Setelah terkelupas kulitnya, akhirnya Sengkuni pun Gugur.

Nah, sekarang kita bisa belajar.

Sengkuni memang sudah benar-benar mati. Tetapi warisan karakternya ‘nggak bakal mati’. Oleh karenaya diperlukan ‘Werkudara-werkudara’ yang secara gagah berani dan cerdas bersedia untuk melawannya. Dan, tentu saja juga diperlukan ‘Prabu Kresno’, ‘Orang Bijak’ yang bersedia menjadi Mentor para Werkudara untuk mendampingi para Sengkuni, yang katanya semakin sakti karena mau belajar pada tokoh Sengkuni, yang dengan perisai lumuran ‘Lengo Tala’ yang dianggap sangat ampuh, ternyata masih bisa dikalahkan oleh Werkudara dengan senjata Kuku Pancanakanya.

Untuk melawan para Sengkuni yang berlumuran ‘Lengo Tala Kontemporer’, diperlukan juga ‘Kuku-Pancanaka Kontemporer’ yang bisa dipakai untuk menandingi kehebatan ‘Lengo Tala Kontemporer’, di samping peran ‘Prabu Kresno Kontemporer’ yang lebih cerdas dan terampil dalam menasihati para ksatria yang diwakili oleh ‘Werkudara-werkudara Kontemporer’ ketika harus melawan para ‘Sengkuni Kontemporer’ dengan beragam senjata pamungkasnya.

Nah, saya berpendapat, bahwa di sini dan saat ini — termasuk di negeri ini — (sudah sangat mendesak) diperlukan The Real Players (bukan sekadar “Wayang-wayang” yang siap dimainkan): “Sekumpulan Manusia yang Sepadan dengan Prabu Kresno (Kontemporer) yang Lebih Jujur dan Cerdas”.

Begitu!