ZAKAT, INFAK DAN SEDEKAH

  Akhlak, Fikih   28 Juli 2011

ZAKAT, INFAK DAN SEDEKAH

A. Prolog

Zakat (Az-Zakâh) menurut bahasa artinya adalah “berkembang” (an namâ`) atau “pensucian” (at tath-hiir). Adapun menurut syara’, zakat adalah: “hak yang telah ditentukan besarnya, yang wajib dikeluarkan  pada harta-harta tertentu (haqqun muqaddarun yajibu fi amwalin mu’ayyanah).”

Dengan perkataan “hak yang telah ditentukan besarnya” (haqqun muqaddarun), berarti zakat tidak mencakup hak-hak — berupa pemberian harta — yang besarnya tidak ditentukan, misalnya hibah, hadiah, wasiat, dan wakaf. Dengan perkataan “yang wajib (dikeluarkan)” (yajibu), berarti zakat tidak mencakup hak yang sifatnya sunnah atau tathawwu’, seperti shadaqah tathawwu’ (sedekah sunnah). Sedangkan ungkapan “pada harta-harta tertentu” (fi amwâlin mu’ayyanah) berarti zakat tidak mencakup segala macam harta secara umum, melainkan hanya harta-harta tertentu yang telah ditetapkan berdasarkan nushûsh (jama’ dari nash, teks-teks) syara’ yang khusus, seperti emas, perak, onta, domba, dan sebagainya.

Bagaimana kaitan atau perbedaan definisi zakat ini dengan pengertian infak (infâq) dan sedekah (shadaqah)? Al- Jurjani dalam kitabnya at-Ta’rîfât menjelaskan bahwa infak (infâq) adalah: “penggunaan harta untuk memenuhi kebutuhan (sharful mâl ilal hâjah)” (Al-Jurjani, tt : 39). Dengan demikian, infak (infâq) mempunyai cakupan yang lebih luas dibanding zakat. Dalam kategorisasinya, infak (infâq) dapat diumpamakan dengan “alat transportasi” — yang mencakup kereta api, mobil, bus, kapal, dan lain-lain — sedang zakat dapat diumpamakan dengan “mobil”, sebagai salah satu alat transportasi.

Maka hibah, hadiah, wasiat, wakaf, nadzar (untuk membelanjakan harta), nafkah kepada keluarga, kaffârah (berupa harta) — karena melanggar sumpah, melakukan zhihâr (menyamakan isteri dengan punggung ibunya, dengan maksud [untuk] menceraikan), membunuh dengan sengaja, dan jima’ (bersetubuh) di siang hari pada bulan Ramadhan –, adalah termasuk infak (infâq).  Bahkan zakat itu sendiri juga termasuk salah satu kegiatan infak (infâq). Sebab semua itu merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan, baik kebutuhan pihak pemberi maupun pihak penerima.

Dengan kata lain, infak (infâq) merupakan kegiatan penggunaan harta secara konsumtif – yakni pembelanjaan atau pengeluaran harta untuk memenuhi kebutuhan — bukan secara produktif, yaitu penggunaan harta untuk dikembangkan dan diputar lebih lanjut secara ekonomis (tanmiyatul mâl).

Adapun istilah sedekah (shadaqah), maknanya berkisar pada 3 (tiga) pengertian berikut ini :

Pertama, sedekah (shadaqah) adalah: “pemberian harta kepada orang-orang fakir, orang yang membutuhkan, ataupun pihak-pihak lain yang berhak menerima sedekah (shadaqah),  tanpa disertai imbalan.” (Mahmud Yunus,  1936: 33, Wahbah Az-Zuhaili, 1996: 919). Sedekah (shadaqah) ini hukumnya [adalah] sunnah, bukan wajib. Karena itu, untuk membedakannya dengan zakat yang hukumnya wajib, para fuqaha’ menggunakan istilah shadaqah tathawwu’ atau ash- shadaqah an-nâfilah (Az-Zuhaili, 1996: 916). Sedang untuk zakat, dipakai istilah ash-shadaqah al-mafrûdhah (Az-Zuhaili 1996: 751). Namun seperti uraian Az-Zuhaili (1996: 916), hukum sunnah ini bisa menjadi haram, bila diketahui bahwa penerima sedekah (shadaqah) akan memanfaatkannya pada yang haram, sesuai kaedah syara’: “al-wasîlatu ilal harâmi harâmun (segala perantaraan kepada yang haram, hukumnya haram pula).”

B. Zakat: Antara Teori dan Praktik

Betapa indahnya Islam memilih kalimat zakat untuk mengungkapkan hak harta yang wajib dibayarkan oleh orang yang kaya kepada orang yang miskin.

Secara etimologi zakat berarti pensucian sebagaimana firman Allah:

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensuci-kan jiwa itu”. (QS Asy-Syams/91: 9),

dan zakat berarti memuji dan menghargai, seperti firman Allah:

. . .فَلا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ . . .

“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci”. (QS an-Najm/53: 32)

Zakat juga bermakna tumbuh dan bertambah sebagaimana dikatakan zakâtuz zar’i artinya tatkala tumbuh-tumbuhanan sedang tumbuh merekah dan bertambah. Semua makna di atas akan terlihat jelas tatkala seseorang telah menunaikan zakat sebagaimana yang akan kami jelaskan dalam tulisan ini.

Ulama fikih menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan istilah zakat adalah: “hak yang berupa harta yang wajib ditunaikan dalam harta tertentu untuk diberikan kepada kelompok tertentu dan dalam waktu tertentu pula.”

Zakat adalah hak orang lain, bukan pemberian dan karunia dari orang kaya kepada orang miskin. Zakat adalah hak harta yang wajib dibayarkan dan syari’at Islam telah mengkhususkan harta yang wajib dikeluarkan serta kelompok orang yang berhak menerima zakat, juga menjelaskan secara jelas tentang waktu yang tepat untuk mengeluarkan kewajiban zakat.

Allah SWT memberi dorongan untuk berzakat dengan firmanNya:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا. . .

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS at-Taubah/9: 103)

Dan dari hadis Rasulullah s.a.w., bahwa beliau bersabda:

« إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ الصَّدَقَةَ وَيَأْخُذُهَا بِيَمِينِهِ فَيُرَبِّيهَا لأَحَدِكُمْ كَمَا يُرَبِّى أَحَدُكُمْ مُهْرَهُ حَتَّى إِنَّ اللُّقْمَةَ لَتَصِيرُ مِثْلَ أُحُدٍ ».

“Sesungguhnya Allah menerima sadaqah dan diambilnya dengan tangan kanan-Nya lalu dikem-bangkan untuk seseorang di antara kalian, seperti seseorang di antara kalian memelihara anak kuda yang dimilikinya, hingga sesuap makanan menjadi sebesar gunung Uhud”. (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi  [hadis ini dishahihkan oleh beliau] dari Abu Hurai-rah)

Sebaliknya Allah memberi peringatan keras kepada orang-orang yang tidak menunaikan zakat dengan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (٣٤) يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ (٣٥)

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih pada hari dipanaskan emas perak itu dalam Neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang akibat dari yang kamu simpan itu.(QS at-Taubah/9: 34-35)

Dan Rasulullah s.a.w. menjelaskan tentang bentuk siksa tersebut dalam hadisnya:

« مَا مِنْ صَاحِبِ كَنْزٍ لاَ يُؤَدِّى زَكَاتَهُ إِلاَّ أُحْمِىَ عَلَيْهِ فِى نَارِ جَهَنَّمَ فَيُجْعَلُ صَفَائِحَ فَيُكْوَى بِهَا جَنْبَاهُ وَجَبِينُهُ حَتَّى يَحْكُمَ اللَّهُ بَيْنَ عِبَادِهِ فِى يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ ».

“Tidaklah seseorang yang memiliki simpanan harta lalu tidak mengeluarkan zakatnya melainkan akan dipanaskan dalam Neraka Jahannam, lalu dijadikan lempengan-lempengan yang akan disetrikakan di punggung dan dahinya hingga Allah memutuskan perkara di antara hamba-Nya pada suatu hari yang dihitung sehari sama dengan lima puluh ribu tahun.” (Muttafaq ‘ِAlaih dari Abu Hurairah)

Pedih dan beratnya siksaan itu dikarenakan hak-hak orang miskin yang tertahan sehingga mereka harus merasakan kepedihan dan kesengsaraan hidup akibat dari ulah orang-orang kaya yang menahan zakat. Islam tidak hanya memberi sanksi di akhirat bahkan di dunia Allah memerintahkan kepada negara untuk mengambil dengan paksa harta zakat dari mereka yang mengha-langi zakat.

Dan di antara kelebihan negara Islam adalah nega-ra yang pertama kali dalam sejarah yang mengobarkan peperangan dalam rangka membela hak orang fakir miskin sebagaimana yang terjadi pada zaman pemerintahan Abu Bakar Ash-Shidiq dengan tegas beliau memerangi orang-orang yang menghalangi zakat.

Zakat adalah peraturan yang menjamin dan mem-berantas kesenjangan sosial yang tidak bisa hanya ditanggulangi dengan mengumpulkan sedekah per-orangan yang bersifat sunnah belaka.

Tujuan utama disyari’atkan zakat adalah untuk mengeluarkan orang-orang fakir dari kesulitan hidup yang melilit mereka menuju ke kemudahan hidup mereka sehingga mereka bisa mempertahankan kehidupannya dan tujuan ini tampak jelas pada kelompok penerima zakat dari kalangan ghârim (orang yang terlilit utang) dan ibnu sabîl (orang yang sedang dalam bepergian dan [ketika itu] kehabisan bekal). Zakat juga berfungsi sebagai pembersih hati bagi para penerima dari penyakit hasad dan dengki serta pembersih hati bagi pembayar zakat dari sifat bakhil dan kikir.

Adapun dampak positif bagi perekonomian antara lain mengikis habis penimbunan harta yang membuat perekonomian tidak normal, paling tidak akan terjadi inflasi tiap tahun sebesar 2½ %, dengan membayar zakat maka peredaran keuangan dan transaksinya berjalan secara normal dan akan mampu melindungi stabilitas harga pasar walaupun pasar terancam oleh penimbunan.

C. Pemasukan Zakat Dalam Islam

  1. Zakat Mata Uang
  2. Zakat Utang Piutang
  3. Zakat Profesi
  4. Zakat Saham dan Kertas Berharga
  5. Zakat Perhiasan untuk Wanita
  6. Zakat Apartemen, Perkantoran dan Tanah Persewaan
  7. Zakat Perdagangan
  8. Zakat Hasil Bumi
  9. Zakat Peternakan
  10. Zakat Madu Tawon
  11. Zakat Barang Tambang
  12. Zakat Hasil Laut dan Perikanan
  13. Zakat Fitrah

1. Zakat Mata Uang

Jika harta seseorang senilai 85 gram emas atau 595 gram perak, dengan hitungan nilai pada saat dia mengeluarkan zakat sesuai dengan nilai mata uang negara orang yang membayar zakat, maka dia keluarkan zakatnya sebanyak 2½ %, setelah setiap putaran tahun hijriyah dan harta sampai senishab.

Suatu contoh: Seseorang mempunyai harta sebanyak Rp10.000.000,-, setelah satu tahun putaran, maka dia harus mengeluarkan zakat sebagai berikut:

Rp 10.000.000,- x 25

1000

= Rp 250.000,-

2. Zakat Utang Piutang

Jika seseorang memberi pinjaman kepada orang lain dan masa pinjaman berlalu beberapa waktu, maka menurut pendapat ulama yang paling mudah, orang yang memberi pinjaman harus mengeluarkan zakat piutang dalam jangka setahun saja walaupun utang tersebut berlalu bertahun-tahun.

Suatu contoh Aiman memberi pinjaman uang ke-pada seseorang yang bernama Ahmad sebanyak Rp 15.000.000,- dan pinjaman tersebut bertahan pada Ahmad selama tiga tahun, maka siapa yang wajib mengeluarkan zakat dan berapa jumlah zakat yang harus dibayar?

Yang berkewajiban mengeluarkan zakat adalah Aiman karena dia pemilik harta tersebut dan dia wajib mengeluarkan zakat dalam jangka setahun saja sebesar:

Rp 15.000.000,- x 25

1000

x (1 tahun) = Rp 375.000,-

Demikianlah pendapat Imam Malik, baik utang yang diharapkan pengembaliannya atau tidak dengan syarat tidak diakhirkan penyerahan-nya tersendiri dari zakat. Jika tidak, maka wajib mengeluarkan zakat tiap tahun yang telah berlalu dari masa utang. Sebagaimana pendapat Ibnu Qasim al-Maliki bahwa yang lebih hati-hati adalah mengeluarkan zakat piutang setiap tahun sepanjang masa piutang seperti pendapat madzhab Hambali.

3. Zakat Profesi

Jika seorang muslim memperoleh pendapatan dari hasil usaha atau profesi tertentu, maka dia boleh mengeluarkan zakatnya langsung 2½ % pada saat penerimaan setelah dipotong kebutuhan bulanannya atau menunggu putaran satu tahun dan dikeluarkan zakatnya bersama dengan harta benda lain yang wajib dizakati senilai 2½ %.

Suatu contoh: Seseorang memiliki harta yang diza-kati setiap tahun di awal bulan Muharram, jika dia menerima gaji pada bulan Ramadhan, maka dia boleh memilih ketentuan di bawah ini:

  • Mengeluarkan zakat profesi dari gaji bulan Rama-dhan tersendiri pada bulan itu atau.
  • Ditunda pembayaran zakat profesi digabung dengan harta yang lain dan dikeluarkan secara bersama pada bulan Muharram.
  • Secara Kaedah bahwa harta itu wajib dizakati sekali dalam setahun.

Termasuk harta profesi antara lain gaji atau pendapatan dari suatu profesi atau keahlian, boleh dikeluarkan zakatnya tanpa menunggu putaran haul (tahun), tetapi tidak boleh dizakati dua kali dalam setahun.

4. Zakat Saham dan Kertas Berharga

Saham dan kertas berharga bila telah sampai seni-sab wajib dikeluarkan zakatnya bersama keuntungannya, seperti nishab mata uang dan kadar zakat sebesar 2½ %.

Suatu contoh: Seseorang memiliki saham, pada saat mau mengeluarkan zakatnya saham tersebut menurut harga pasar senilai Rp 50.000.000,- dan tiap tahun mendapatkan laba sebesar Rp 5.000.000,- sehingga jumlah harta keseluruhan sebesar Rp 50.000.000,- + Rp 5.000.000,- = Rp 55.000.000,-.

Zakatnya: Rp 55.000.000,- x 25

1000

= Rp 1.375.000,-

Kertas berharga biasanya tercampur dengan nilai yang haram yaitu riba, tetap wajib dikeluarkan zakatnya, karena dibolehkan menyalurkan hasil yang haram untuk kepentingan umum kaum muslimin

5. Zakat Perhiasan Wanita

Pendapat tengah-tengah di antara pendapat para ulama adalah pendapat yang diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a. bahwa beliau berfatwa tentang wajibnya zakat perhiasan sekali dalam seumur dan bukan setiap putaran haul (tahun) , tetapi jika membeli perhiasan lain maka dia harus mengeluarkan zakat perhiasan yang baru dibeli itu dengan syarat barang tersebut hanya untuk perhiasan. Adapun peralatan dan wadah yang terbuat dari emas bila telah sampai senishab, maka harus dikeluarkan zakatnya.

Suatu contoh: Seorang wanita memiliki perhiasan emas seberat 100 gram yang dipakai untuk perhiasan, bagaimana mengeluarkan zakatnya?

Jawab: Wajib bagi wanita mengeluarkan zakat per-hiasan tersebut sekali dalam seumur.

100 x 2½ = 25

100

gram atau berupa uang senilai 2½ gram

Jika dia membeli lagi emas untuk perhiasan seberat 100 gram, maka dia harus mengeluarkan zakatnya sebesar 2½ gram sekali saja seumur hidup.

Pendapat ini terdapat dalam kitab Al-Muhalla 6/78 dan Sunan Kubra 4/138.

Kadar zakat yang wajib dikeluarkan baik emas maupun perak sebesar 2½ %.

6. Zakat Apartemen, Perkantoran dan Tanah Persewaan

  1. Barangsiapa yang memiliki apartemen, ruko atau tanah yang disewakan, maka dia wajib mengeluar-kan zakat dari hasil penyewaan sebesar 2½ %, bila telah sampai senishab.

Suatu contoh: Seseorang memiliki ruko untuk disewakan tahunan dengan nilai sewa sebesar Rp 20.000.000,- bagaimana cara mengeluarkan zakatnya?

Jawab: Kadar zakatnya 2½%

Rp 20.000.000,- x 25

1000

= Rp 500.000,-

Catatan: Jika gedung tersebut belum ada yang menyewa maka belum ada kewajiban mengeluarkan zakat.

  1. Jika seseorang menjual gedung tersebut, maka dia wajib mengeluarkan zakat dari hasil penjualan sebesar 2½ %.

Suatu contoh: Seseorang memiliki tanah kosong kemudian dijual dan laku seharga Rp 100.000.000,- dan sebelum terjual tanah tersebut berada di bawah kepemilikannya selama tiga tahun tanpa mendapatkan keuntungan karena tidak ada yang menyewa. Maka dia wajib mengeluarkan zakat dari hasil penjualan saja dengan perincian:

Rp 100.000.000,- x 25

1000

= Rp 2.500.000,-

Dan dikeluarkan cukup setahun itu saja sesuai dengan pendapat yang paling mudah.

Kaedah: Jika gedung atau tanah tersebut diguna-kan untuk keperluan pribadi tidak wajib dizakati.

Demikian itu adalah pendapat dari madzhab Malikiyah, alasan mereka bahwa harta persewaan sebelum terjual tidak berkembang sehingga tidak harus dizakati. Lihat Syarh al-Kabîr dan Hâsyiyah Dasuqiy 1/457. Dan untuk lebih hati-hati sebaiknya mengeluarkan zakatnya setiap tahun bila jelas tanah tersebut diproyeksikan untuk niaga.

7. Zakat Perdagangan

Seorang pedagang hendaknya menghitung jumlah nilai barang dagangan dengan harga asli lalu digabungkan dengan keuntungan bersih setelah dipotong piutang. Kadar zakatnya 2½ %.

Suatu contoh: Seorang pedagang menjumlah barang dagangan di akhir tahun dengan jumlah total Rp 200.000.000,- dan laba bersih sebesar Rp 50.000.000,- sementara dia mempunyai utang sebesar Rp 100.000.000,-.

Modal dikurangi utang: Rp 200.000.000,- – Rp 100.000.000,- = Rp 100.000.000,-

Jumlah harta zakat: Rp 100.000.000,- + Rp 50.000.000,- = Rp 150.000.000,-

Zakatnya: Rp 150.000.000,- x 25

1000

= Rp 3.750.000,-

Modal tetap tidak wajib dizakati seperti gedung, perkakas dan alat opera-sional perdagangan

8. Zakat Tanaman

Jika biji-bijian atau buah-buahan telah sampai senishab yaitu lima wasaq atau seberat + 670 kilogram, maka wajib dikeluarkan zakatnya 10% bila disiram dengan air hujan dan 5% jika menggunakan alat atau memindah air dari tempat lain dengan kendaraan atau yang lainnya.

Suatu contoh: Seorang petani memetik hasil panen sebanyak lima ton gandum dan dua ton kurma, maka berapa zakat yang harus dikeluarkan jika dia menggunakan alat penyiram tanaman?

Zakat gandum: 5000 x 5

100

= 250 kilogram.
Zakat kurma: 2000 x 5

100

= 100 kilogram.

Hasil-hasil pertanian selain biji-bijian dianggap sebagai buah-buahan, seperti sayur mayur segar dan buahan-buahan masih dalam kelompok barang-barang niaga yang kadar zakatnya 2½ %. Meskipun Madzhab Hanafi berpendapat wajib mengeluarkan zakat setiap tanaman yang ditumbuhkan bumi sekadar 5% atau 10% sebagaimana penjelasan yang telah lalu.

9. Zakat Peternakan

Jika seseorang memiliki lima onta, maka ia wajib mengeluarkan zakat seekor kambing dan jika memiliki tiga puluh sapi, maka dia harus mengeluarkan tabi’i (sapi yang berumur setahun). Jika memiliki kambing empat puluh, maka dia wajib mengeluarkan zakat seekor kambing. Apabila jumlah hewan ternak lebih dari hitungan di atas, maka cara mengeluarkan zakat seperti pada tabel di bawah ini:

Selain hewan yang tersebut di atas masuk dalam kelompok barang niaga bila diproyeksikan sebagai barang perdagangan.

Tabel Zakat Hewan Ternak yang Hidup di Padang Gembala

Tabel Zakat Kambing
Nishab Zakat yang harus dikeluarkan
Dari Sampai
40 120 1 Kambing
121 200 2 Kambing
201 3 Kambing
Kemudian setiap 100 kambing zakatnya seekor kambing
  • Tidak boleh mengambil zakat berupa pejantan, hewan yang sudah tua sekali, cacat atau paling buruk.
  • Tidak boleh mengambil zakat berupa hewan pincang, hewan betina yang mau melahirkan, hewan potong atau hewan termahal.
Tabel Zakat Onta
Nishab Zakat yang harus dikeluarkan
Dari Sampai
5 9 1 Kambing
10 14 2 Kambing
15 19 3 Kambing
20 24 4 Kambing
25 35 1 Bintu Makhadh
36 45 1 Bintu labun
46 60 1 Hiqqah
61 75 1 Jad’ah
76 90 2 Bintu Labun
91 120 2 Hiqqah
121 3 Bintu Labun
Kemudian setiap 40 onta zakatnya satu Bintu Labun dan setiap 50 onta zakatnya 1 Hiqqah.
  • Bintu Makhadh adalah onta yang telah berumur satu tahun, dinamakan seperti itu karena induknya sedang hamil.
  • Bintu Labun adalah onta yang telah berumur dua tahun, dinamakan seperti itu karena induknya sedang menyusui lagi.
  • Hiqqah adalah onta yang telah berumur tiga tahun, dinamakan seperti itu karena sudah mampu dan berhak dikendarai.
  • Jad’ah adalah onta telah yang berumur empat tahun
Tabel Zakat Sapi
Nishab Zakat yang harus dibayarkan
Dari Sampai
30 39 1 Tabii’ atau Tabii’ah
40 59 1 Musinnah
60 2 Tabii’ah
Kemudian setiap tiga puluh sapi zakatnya satu tabii’i dan setiap empat puluh sapi satu Musinnah.
  • Tabii’ atau Tabii’ah adalah sapi yang telah berumur satu tahun.
  • Musinnah adalah sapi yang telah berumur dua tahun.

10. Zakat Madu Tawon

Jika hasil madu mencapai nishab seberat 670 kilogram, maka harus dikeluarkan zakatnya sebesar 10 % dari berat bersih madu setelah dipotong biaya produksi.

Suatu contoh: Zakat 1000 kilogram madu adalah:

1000 kilogram x 10

100

= 100 kilogram.

11. Zakat Barang Tambang

Hasil tambang dan minyak serta gas bumi hasilnya harus disalurkan ke Baitul Mal untuk kepentingan umum dan kebutuhan ummat.

Jika ada seseorang atau perusahaan diberi kesem-patan menambang dan mengolah barang tambang terse-but, maka dia harus mengeluarkan zakat sebesar 2½ % dari penghasilan yang telah dikelola. Termasuk kelompok barang tambang yaitu seluruh bahan bangunan seperti batu atau pasir, juga harus dikeluarkan zakatnya sebesar 2½ % dari hasil yang telah diperoleh.

Zakat hasil tambang tidak disyaratkan putaran haul (tahun), wajib mengeluarkan zakat pada saat barang tambang telah selesai proses pengolahan.

12. Zakat Hasil Laut dan Perikanan

Jika seorang nelayan atau perusahaan pengolah hasil laut menangkap ikan kemudian hasil tersebut dijual, maka dia wajib mengeluarkan zakat seperti zakat niaga yaitu 2½%,  demikian itu bila hasilnya telah sampai senishab seperti nishabnya mata uang.

Suatu contoh: Suatu perusahaan penangkap ikan menghasilkan satu ton ikan, kemudian dijual kepada konsumen seharga Rp 4.000.00,-, berapa zakat yang harus dibayar.

Zakatnya: Rp 4.000.000,- x 25

1000

= Rp 100.000,-

Pendapat ini diriwayatkan dari Imam Ahmad seperti yang telah disebut-kan dalam kitab Al-Mughni 3/28.

Artinya nilai jual ikan seharga nishabnya mata uang yaitu 85 gram emas.

13.  Zakat Fitrah

  1. Setiap muslim wajib membayar zakat fitrah setelah matahari terbenam akhir bulan Ramadhan dan lebih utama jika dibayarkan sebelum keluar shalat Idul Fitri dan boleh dibayarkan dua hari sebelum hari raya, demi menjaga kemaslahatan orang fakir. Dan haram mengakhirkan pembayaran zakat fitrah hingga habis shalat dan barangsiapa melakukan perbuatan tersebut, maka harus menggantinya.
  2. Seorang muslim wajib membayar zakat untuk dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggung jawab-nya seperti isterinya, anaknya, dan pembantunya yang muslim. Akan tetapi boleh bagi seorang isteri atau anak atau pembantu membayar zakat sendiri.
  3. Kadar zakat fitrah yang harus dibayar adalah satu sha’ dari makanan pokok negara setempat, dan satu sha’ untuk ukuran sekarang kira-kira 2,176 kilogram (keten-tuan ini sesuai makanan pokok gandum).

Dan kita bisa menggunakan tangan untuk menjadi takaran dengan cara kita penuhi kedua telapak tangan sebanyak empat kali. Karena satu mud sama dengan genggaman dua telapak tangan orang dewasa dan satu sha’ sama dengan empat mud.

Contoh: Seseorang mempunyai satu isteri dan empat orang anak serta satu pembantu muslim, berapa dia harus membayar zakat fitrah untuk mereka?

Dengan ukuran sha’ dia harus membayar 7 x 1 sha’ = 7 sha’

Dengan takaran atau timbangan sekarang berupa gandum: 7 x 2,176 kilogram = 15,232 kilogram atau lima belas kilo dua ratus tiga puluh dua gram.

Dan dengan kita meraup gandum dengan dua telapak tangan: 7 x 4 = 28 kali raupan dari makanan pokok baik berupa kurma, gandum, anggur kering, susu ke-ring, jagung atau beras.

d. Dianjurkan mengeluarkan zakat dengan makanan, Imam Abu Hanifah membolehkan membayar dengan uang dan ini pendapat yang lebih mudah terlebih bagi lingkungan industri.

Kadar nilai zakat disesuaikan dengan harga makan-an pokok masing-masing negara, jika seseorang ingin membayar zakat dengan kurma sebanyak dua puluh kilo, maka hendaknya dia harus menanyakan harga kurma per kilo untuk ukuran kurma sedang, lalu dihitung dengan mata uang setempat.

Menurut madzhab Hambali boleh mengeluarkan zakat setelah pertengahan bulan Ramadhan, pendapat ini lebih mempermudah khususnya bagi negara yang menangani langsung pembayaran zakat fitrah, atau jika yang menangani itu yayasan-yayasan sosial, sehingga mempermudah mereka dalam pengumpulan dan pembagiannya pada hari Ied. (Lihat Nailul Authâr, 4/195. Fiqhuz Zakâh: 1/155).

Dalam zakat fitrah tidak mengenal nishab, di saat ada kelebihan dari kebutuhan makanan pada malam hari raya untuk dirinya dan keluarganya, maka seseorang wajib membayar zakat fitrah.

Para ulama madzhab tiga (Imam Malik, Syafi’i dan Ahmad) tidak membolehkan mengeluarkan zakat fitrah dengan uang.

Penulis pernah membuat semacam ide yang disampaikan lewat mimbar pada tahun 1404 H. hendaknya zakat fitrah dikelola oleh pemerintah atau Lembaga Islam kemudian disalurkan kepada yang berhak dan yang membutuhkan baik di dalam maupun luar negeri khususnya negara-negara yang terkena krisis seperti negara Afrika atau Asia yang banyak menderita kelaparan.

Apalagi kristenisasi sangat gencar dengan berkedok bantuan sosial berupa makanan atau obat-obatan untuk bantuan kelaparan dan bencana alam dimanfaatkan untuk pemurtadan sehingga banyak di antara kaum muslimin yang keluar dari Islam hanya karena sesuap nasi seperti yang terjadi di Indonesia.

Jika zakat fitrah tersebut bisa dikumpulkan setelah pertengahan bulan Ramadhan, maka sangat mungkin zakat fitrah tersebut disalurkan kepada yang berhak pada waktu itu juga. Dengan demikian pada saat hari raya orang-orang kelaparan bisa merasa kenyang dan kecukupan, bila tidak apa mungkin seseorang dipaksa bergembira di hari raya sementara kela-paran melilitnya.

D. Yang Berhak Menerima Zakat

  • Kefaqiran dan Kekurangan
  • Orang yang Tidak Mampu Bekerja dan Pengangguran yang Terpaksa
  • Biaya Pengumpulan dan Pembagian Zakat
  • Orang yang Diharapkan Keislamannya
  • Pemerdekaan Budak dan Pembebasan Sandera
  • Membayar Utang Orang-orang yang Terhimpit utang
  • Jihad dan Perang di Jalan Allah
  • Orang yang Sedang Bepergian dan Mendapat Kecelakaan
  • Fakir adalah orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk para pegawai kelas rendah yang berpenghasilan kecil.
  • Miskin adalah orang yang tidak mampu berusaha atau berkarya lagi karena cacat atau gangguan lain seperti orang buta, lumpuh atau pengangguran yang tidak terelakkan.
  • Amil pengelola zakat yaitu orang yang diangkat oleh pemerintah untuk menangani pengumpulan, penghitungan dan pembagian zakat.
  • Mu’allaf adalah orang yang diharapkan keIslamannya atau orang yang goyah keislamannya. Boleh memberikan zakat kepada non-muslim yang terlihat ada kecenderungan terhadap Islam atau orang-orang yang baru masuk Islam agar tetap teguh dalam memeluk Islam.
  • Budak untuk sekarang ini bagiannya boleh disalurkan untuk melepas tawanan atau sandera Islam yang ditawan oleh musuh Islam sebagaimana pendapat Imam Ahmad.
  • Gharim adalah orang yang terhimpit oleh utang sementara tidak ada harta untuk pengembalian utang tersebut, dengan syarat utang tersebut untuk keperluan hal-hal yang mubah.
  • Fi Sabilillah adalah orang-orang yang tertahan di medan jihad dalam rangka menegakkan agama Allah.
  • Ibnu Sabil adalah orang yang sedang bepergian yang tidak mampu melanjutkan perjalanan karena sedang kehabisan bekal, kehilangan atau kecopetan, termasuk juga anak-anak jalanan dan gelandangan.

1. Dalil Syar’i

Dalil syar’i dari pembagian kelompok di atas ber-dasarkan firman Allah:

إِنَّمَا الصَّدَقَتُ لِلْفُقَرَآءِ وَالْمَسَكِينِ وَالْعَمِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِى الرِّقَابِ وَالْغَرِمِينَ وَفِى سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengeta-hui lagi Maha Bijaksana”. (QS at-Taubah/9: 60)

2. Orang-orang yang tidak boleh menerima zakat

  • Orang kaya, yaitu orang yang berkecukupan atau mempunyai harta yang sampai senishab.
  • Orang yang kuat yang mampu berusaha untuk mencukupi kebutuhannya dan jika penghasilannya tidak mencukupi, maka boleh mengambil zakat.
  • Orang kafir di bawah perlindungan negara Islam kecuali jika diharapkan untuk masuk Islam.
  • Bapak ibu atau kakek nenek hingga ke atas atau anak-anak hingga ke bawah atau isteri dari orang yang mengeluarkan zakat, karena nafkah mereka di bawah tanggung jawabnya. Dibolehkan menyalurkan zakat kepada selain mereka seperti saudara laki-laki, saudara perempuan, paman dan bibi dengan syarat mereka dalam keadaan membutuhkan.

Setiap muslim hendaknya berhati-hati dalam me-nyalurkan zakatnya dan berusaha sesuai dengan anjuran syari’at, setelah berusaha dan berhati-hati ternyata keliru atau kurang tepat, maka dia dimaafkan dan tidak diperintahkan untuk mengulangi dalam membayar zakat tersebut.

Jika tidak berhati-hati dalam menyalurkan zakatnya kemudian ternyata salah penempatan tidak sampai pada yang berhak, maka dia wajib mengulangi dalam membayar zakat.

Menurut ijma’ para ulama dibolehkan menyalurkan zakat ke daerah lain asalkan daerah tempat tinggalnya sudah tidak membutuhkan lagi. Jika memang kondisi sangat membutuhkan seperti salah seorang kerabat yang tinggal di daerah lain membutuhkan atau daerah lain lebih membutuhkan karena kemiskinan atau kelaparan seperti yang terjadi di Afrika atau jihad di Afganistan atau kemiskinan yang terjadi di Bangladesh.

Dibolehkan mendahulukan pembayaran zakat dua tahun sebelum datang waktu haul (putaran tahun zakat) ada pun mengakhirkan setelah datang waktu pembayaran tidak boleh, kecuali ada maslahat tertentu yang jelas, seperti mengakhirkan pembayaran zakat karena menunggu orang fakir yang sedang merantau jauh atau kerabat yang sedang membutuhkan.

Zakat tidak gugur karena ditunda-tunda, barang-siapa yang bertahun-tahun tidak membayar zakat, maka dia harus membayar zakat seluruh tahun yang telah berlalu dan belum dibayarkan zakatnya.

Sebaiknya seseorang yang memberikan zakat kepada orang fakir tidak memberitahukan kepadanya bahwa pemberian tersebut adalah harta zakat, demikian itu untuk menjaga perasaannya.

Sebagian ulama membolehkan membayar zakat dengan piutang, artinya jika seseorang mempunyai piutang pada orang lain sementara orang tersebut susah hidup, maka boleh piutang tersebut dibebaskan sebagai zakat yang dibayarkan kepada orang tersebut karena demikian itu sama halnya membayar zakat kepada orang yang sedang membutuhkan.

Miskin diambil dari kata sukûn yang berarti tidak mampu bergerak.

Jika ada budak, maka zakat digunakan untuk memerdekakan budak.

Demikian itu berdasarkan tindakan Abbas r.a yang pernah mendahulukan pembayaran zakat pada zaman Rasulullah s.a.w.. Madzhab Hanafi tidak memberi batasan tahun yang boleh didahulukan (lihat Hâsyiyah Ibnu ‘Âbidîn 2/29-30).

Di antara mereka adalah Al-Hasan Al-Bashr, ‘Atha’ dan Ibnu Hazm, lihat Al-Muhalla, 5/105.

E. Epilog

Zakat adalah kewajiban agama yang memiliki aturan yang sangat teliti dan cermat dari mulai sumber pemasukan atau harta yang wajib dizakati hingga pihak-pihak yang berhak menerimanya. Zakat sangat berbeda dengan pajak yang harus dibayarkan kepada pemerintah karena hasil pajak dibelanjakan untuk kepentingan umum sehingga tidak bisa pajak disamakan dengan zakat atau dianggap seperti membayar zakat.

Rasa keadilan yang terdapat pada syari’at wajib zakat antara lain:

  1. Membebaskan harta yang kurang dari senishab dari kewajiban zakat.
  2. Islam menghindari pembayaran zakat dobel sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w.: “Janganlah kalian menarik zakat berulang kali”. Artinya dobel dua kali. (HR. Abu Ubaidah di Kitab Al-Amwâl). Suatu contoh: Seorang pedagang membeli lima onta, maka dia hanya wajib membayar zakat sekali saja atau satu jenis zakat yaitu memilih salah satu di antara membayar zakat perniagaan yaitu 2½ % atau membayar zakat peternakan yaitu satu kambing.
  3. Syari’at zakat menghargai jerih payah dalam memberi beban pembayaran zakat, barangsiapa yang mengeluarkan jerih payah dalam bercocok tanam, maka dia wajib mengeluarkan zakat 5% saja dan jika pengairan ladang didapatkan dari air hujan, maka zakatnya 10%. Dan zakat barang tambang (temuan) adalah 20% jika mendapatkannya tanpa susah payah.
  4. Islam tidak mewajibkan zakat terhadap barang-barang perabot perlengkapan rumah tangga selagi tidak dipergunakan untuk perniagaan.

Demikianlah kelebihan syari’at Islam yang penuh dengan keadilan, karena syari’at Islam adalah syari’at yang penuh dengan nilai rahmat dan kemudahan.

Referensi:

1. Buku-buku lama

  • Asy-Syarhul Kabir: Al-Allamah Ahmad bin Muhammad Al-’Adawy (Ad-Dardiry) Hasyiyah Ad-Dasuqi: Muham-mad bin Arfah Al-Dasuqi.
  • Nailul Authar Syarh Muntaqal Akhbar: Imam Syaukani juz I, tahqiq Mustafa Albabi Alhalbi.
  • Al-Mughni: Syaikhul Islam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi.
  • Al-Muhalla: Imam Ibnu Hazm Al Andalusi.
  • Raddul Muhtaar ‘ala Durril Mukhtaar: Muhammad Amin (Ibnu ‘Abidin).

2. Buku-buku baru

  • Fiqhuz Zakâh: Dr. Yusuf Qaradhawi.
  • Minhâjul Muslim: Syaikh Abu Bakar Al Jazairy.
  • Fiqhus Sunnah: Syaikh Sayid Sabiq

(Dikutip dan diselaraskan dari: www.alsofwah.or.id)

Tags: